57. Euphoria

12.7K 941 264
                                        


57 | Euphoria
.
.
.
.


Alfan membawa Sarah ke lantai dua gedung fakultas Saintek. Pria itu sengaja membawa Sarah ke tempat yang agak sepi dari jangkauan orang-orang.

"Sorry." Alfan buru-buru melepas genggamannya begitu sadar ia melakukan refleks yang salah dengan meraih tangan Sarah tanpa izin.

Alfan membiarkan Sarah menebarkan pandangan ke sekeliling kampus. Gadis itu masih berdiri dengan tangan menumpu di pembatas beton. Angin kecil meniup rambut Sarah perlahan. Posisi ini mengingatkan Alfan pada momen kebersamaan mereka di atas jembatan penyeberangan.

Waktu itu ia ingin mengungkapkan sesuatu pada Sarah. Tapi entah kenapa, ia merasa saat itu bukan waktu yang tepat untuk memberitahunya. Alfan pikir mungkin nanti ada saatnya.

Alfan mendekat untuk mensejajarkan posisinya. Pria itu ikut menumpu kedua tangan di atas pembatas beton.

"Sarah?" Pada akhirnya Alfan membuka suara.

"Lo kemana aja selama ini?" Alfan berusaha menetralkan nada suaranya yang nyaris terdengar bergetar.

Tidak ada jawaban untuk beberapa saat, membuat Alfan menoleh ke arah Sarah. Alis Alfan terangkat begitu melihat Sarah memalingkan wajah, Alfan bingung dengan reaksi yang diberikan gadis itu.

"Sar?"

"Tunggu. Jangan ngobrol sama gue dulu." Jawab Sarah cepat tanpa menoleh.

"Kenapa?"

"Gue deg-degan."

Raut Alfan yang semula cemas karena takut Sarah tiba-tiba marah, seketika berubah drastis. Alfan tertawa saat mendengar jawaban Sarah yang kelewat jujur.

"Sama, Sar."

Jawaban santai yang dilontarkan Alfan justru semakin membuat Sarah kesulitan mengontrol diri. Setelah mengatur napas, perlahan Sarah kembali menghadap balkon.

"Gue engga kemana-mana, masih di kosan yang sama. Cuma akhir-akhir ini gue sibuk sama penelitian." Jawab Sarah pada akhirnya setelah ia terdiam beberapa saat. "Kalo lo kemana aja selama ini?" Gue engga pernah ketemu lo lagi semenjak hari itu.

"Gue juga enggak pindah kemana-mana, Sar. Gue masih di sini." Lantas pria itu terkekeh saat menyadari ucapannya sedikit ambigu. "Lucu ya, kita masih ada di lingkungan yang sama, tapi selama lima bulan ini gue justru engga pernah ketemu lo. Atau mungkin mahasiswa akhir udah sibuk sama urusannya masing-masing?"

Sarah yang sedang menghadap balkon lalu menoleh ke arah Alfan yang sejak tadi memperhatikannya. "Katanya lo ngulang semester?"

"iya. Gue hampir dua bulan bolos." Jawab Alfan disertai tawanya seolah masalah itu bukanlah masalah besar. Tapi setelah itu ekspresinya kembali serius, ia berpikir harus memulai dari mana untuk membahas topik yang paling ingin diutarakan.

"Gue enggak bercanda soal gue yang butuh waktu buat menata semuanya. Selama itu gue berusaha buat memperbaiki keadaan keluarga gue, Sar. Dan sekarang keluarga gue udah jauh lebih baik dari yang gue harapin. Gue akhirnya bisa baikan sama keluarga gue." Tinggal lo yang belum selesai, Sar.

"Gue ikut seneng, Fan. Akhirnya keluarga lo baik-baik aja sekarang. Gue juga ikut seneng liat lo sama Alfi udah baikan." Sarah menelan ludah sejenak. "Gue juga udah baikan sama nyokap gue."

Alfan tersenyum lebar saat merasakan euphoria bahagia yang sulit diartikan. Rasanya Alfan sudah lebih dari siap untuk memulai lembaran baru.

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang