1 | Oh Shiit
.
.
.
.
.
Sarah selalu heran dengan cerita romance dimana tokoh utama perempuan selalu jatuh cinta pada bad boy. Ia tidak habis pikir kenapa pesona seorang bad boy begitu menarik perhatian banyak orang.
Kebanyakan alasan perempuan berpacaran dengan seorang bad boy karena mereka merasa terlindungi. Dengan kemampuan berkelahi sang bad boy, tokoh perempuan merasa dirinya beruntung mendapat sosok pacar yang jagoan. Padahal menurut Sarah, apa hebatnya dengan kemampuan berkelahi? Sarah bisa melindungi dirinya sendiri.
Apa yang menarik dari seorang laki-laki bandel, tukang pukul, hobi bolos, suka melawan guru dan kerjaannya tawuran? Tidak ada yang istimewa dari itu semua selama otak mereka kosong. Seorang bad boy memang terlihat 'menyenangkan', dan seorang good boy identik dengan 'membosankan'. Tapi selama Sarah berteman dengan banyak laki-laki baik, mereka semua menyenangkan.
Bagi Sarah pria baik-baikpun pada dasarnya dapat melindungi perempuan dengan cara yang cerdas. Mereka juga menyenangkan tanpa harus menghibur diri dengan cara tawuran. Bukankah kualitas seorang terlihat dari isi kepalanya? Bukan kekuatan ototnya.
Meskipun pengalaman Sarah tentang laki-laki sangat minim. Ia sangat selektif jika sudah menyangkut perasaan. Bagi Sarah jatuh hati memang tidak bisa memilih, tapi setidaknya ia dapat meminimalisir rasa sakit dengan menutup peluang bagi siapapun. Soal hati, Sarah tidak bisa sembarangan memilih.
Seperti saat ini, ketika Sarah dihadapkan dengan seorang laki-laki berpenampilan 'aneh', yang ingin Sarah lakukan pertama kali adalah menghindarinya.
Diantara sekumpulan manusia yang berdesakan dalam bus, diam-diam Sarah menikmati lantunan suara merdu Frankie Valli yang mengalir melalui earphonenya. Dentuman musik membungkam bisingnya kemacetan lalu lintas. Ditambah hembusan angin yang masuk melalui kaca jendela membelai rambut seolah meminta Sarah semakin dalam menyelam ke alam mimpi.
Kedua matanya memutuskan untuk terpejam.
Sarah hanya ingin tertidur hingga bus yang membawanya ke kampus sampai di halte tujuan.
Namun baru beberapa menit saja matanya terpejam, ia merasakan kursi di sampingnya diduduki seseorang. Usaha Sarah untuk kembali tertidur akhirnya gagal. Penumpang di sampingnya tampak gelisah sehingga menimbulkan suara gesekan antara pakaian dan kursi penumpang. Hal itu membuat Sarah jengah.
Ia terpaksa membuka mata saat penumpang di sampingnya tiba-tiba menyikut "boleh geser dikit?"
Tanpa perlu menoleh Sarah menggeser tempat duduk dan merubah posisi dengan menyandarkan kepala pada jendela bus.
Meski sudah menggeser tempat duduk, penumpang tersebut tetap saja tidak bisa diam. Merasa tidak tahan dengan senggolan-senggolan kecil yang mengganggu tidurnya,
Sarah memutuskan mencabut earphone dan menengok ke arah penumpang di sampingnya. Sarah langsung berhadapan dengan sepasang mata elang milik pria yang kini tengah menatapnya juga.
Demi menjaga sopan santun dan rasa kemanusiaan ia pun memutuskan bertanya "kenapa mas?"
Pria itu malah diam dan terus memandangi Sarah. Seolah Sarah adalah objek yang harus diamati.
Merasa bodoh karena pertanyaannya tidak ditanggapi, Sarah memutuskan mengulang pertanyaannya dengan ekspresi yang sama dengan pria ini "Kenapa lo?"
Namun yang ia dapatkan justru tatapan skeptis "Lo barusan bilang apa?"
"Hah?"
"Barusan lo manggil gue?"
"Ooh itu, iya. Tadi lo kenapa gelisah gitu? gue kira kenapa-napa." Jawab Sarah datar. Hilang sudah sikap sopan santunnya terhadap sesama penumpang. Pasalnya pria dihadapannya ini tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Tatapannya saja sangat tidak bersahabat.
KAMU SEDANG MEMBACA
PETRICHOR [END] ✓
Teen FictionSeumur hidup Sarah mencium aroma asing yang menenangkan ini, ia baru tahu jika aroma tanah basah yang muncul saat hujan turun ternyata punya nama. Namanya Petrichor. Ia masih tak menyangka jika harus mendengar hal unik ini dari pria di hadapannya. S...
![PETRICHOR [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/202222442-64-k22870.jpg)