5. Bingung

16.4K 1.6K 1K
                                        

5 | Bingung
.
.
.
.
.


Ledakan tawa menggelegar membuat teman-teman sekelas menoleh pada ketiga remaja yang asik bergosip. Fia dan Tommy sibuk menertawakan Sarah setelah menceritakan kejadian semalam. Apa lagi jika bukan adu mulut dengan pria bernama Alfan.

Tadinya Sarah ingin meminta saran pada kedua temannya agar ia dapat mengambil ponsel tanpa menimbulkan masalah lain. Apa ia harus datang menghampiri Alfan ke rumahnya?

Jika saja ia tidak butuh ponselnya, mana sudi Sarah datang ke rumah orang gila itu. Kenapa pria itu selalu saja membuat Sarah naik darah? Dirinya mana sempat mencari rumah Alfan ditengah kesibukan UTS. Untuk memanage waktu sebagai tutor privat saja ia sudah kewalahan.

Semalam setelah percekcokannya di telepon. Alfan tiba-tiba saja mengirim pesan berisi nama lengkap beserta alamat yang dituju. Hal itu membuat Bunda sibuk menggodanya. "ini pacar kamu ko ngehubungin bunda terus sih? Kode pengen ngajak silaturahmi?" Sarah hanya membalas dengan wajah ditekuk dan mesem-mesem tidak jelas.

Padahal tinggal share lokasi saja apa susahnya?

Pagi ini pun ia mendapatkan olokkan yang sama dari kedua temannya. Tommy menatapnya dengan prihatin, "kok bisa sih handphone lo ada di dia? Kayanya gue ketinggalan cerita nih."

"Dia yang nemuin handphone gue di bus."

"Ko bisa?"

Sarah menghentikan kegiatan mencoret-coret kertas dengan kasar.
"Handphone gue ketinggalan di bus waktu itu, terus si onta itu yang nemuin handphone gue." Jelas Sarah dengan ekspresi sebal. Ia bahkan terlalu jijik untuk menyebut nama Alfan. Terlalu keren katanya. Gelar si onta lebih cocok untuknya.

"Nyebelin banget tau ga sih tuh cowok. Baru ketemu pertama kali aja songongnya naudzubillah. Gue sampe barantem di bus gara-gara dia. Masa dia marah sama gue gara-gara gue panggil mas? Lah terus gue harus manggil dia apa? Mbak? Emang udah sengklek otaknya." Gerakan tangannya mencoret buku semakin cepat manandakan tingkat kekesalannya pun semakin meningkat.

Dibanding Fia yang menanggapinya biasa saja, Tommy justru semakin tertarik, "Terus dia gimana lagi?"

"Terus nih ya, dia ngata-ngatain gue cewe songong lah, sombong lah, boncel lah. Itu mulutnya kasar banget kalo ngomong sama gue. Terus waktu itu juga muka songongnya ada di perpus. Bikin mood gue rusak seharian. Kenapa juga handphone gue harus ada sama dia sih? Gue males banget berurusan lagi sama orang gila itu. Apalagi kalo lagi liatain gue, itu mata minta dicolok." Tommy hanya terkekeh mendengar cerita Sarah.

Yang Tommy pikirkan justru sebaliknya. Semakin Sarah menunjukan ekspresi kesal dengan pria yang disebut 'Alfan' ini, justru semakin Sarah menunjukan respon sebaliknya.

Tommy memganggap setiap kekesalan Sarah adalah bentuk respon yang baik. Karena biasanya sarah akan bersikap cuek dan masa bodo dengan orang-orang di sekitarnya. Namun baru kali ini Tommy melihat Sarah membicarakan pria dengan serius dan panjang lebar. Meski isinya hanya berupa umpatan dan hinaan. Karena sejak kapan Sarah menghebohkan sesuatu jika itu tidak penting baginya?

Tommy justru penasaran seperti apa sosok Alfan yang di ceritakan gadis itu. Siapa pria yang berhasil memarahi balik gadis keras kepala ini?

"Tapi ganteng kan?" Pertanyaan Fia membuat Sarah dan Tommy terdiam.

Alfan memang ganteng, tapi otaknya yang geser dan penampilannya yang mencerminkan 'bukan pria baik-baik' membuat Sarah ilfeel terhadap pria ini. Sarah tahu menilai seseorang dari covernya itu tidak baik. Tapi ia terlanjur menilai Alfan buruk sejak pertemuan pertama mereka.

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang