45. Flashback

6.8K 844 390
                                        

45 | Flashback
.
.
.
.

Sarah tak bisa menahan sesak lagi. Begitu wanita itu memanggil namanya, hatinya terasa tercabik-cabik. Ucapan wanita itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya.

Mama? Alfi?

Wanita itu mama tirinya Alfi?

Begitu tangisnya pecah, Sarah memutuskan balik badan dan berlari sekencang mungkin. Sarah hampir gila. Sarah tidak sanggup melihat wanita itu dan memutuskan pergi sambil menyeret koper.

Setelah terkuaknya fakta bahwa ibunya sendiri yang telah merusak rumah tangga orang lain. Sarah merasa harga dirinya dibanting hingga pecah berkeping-keping. Seseorang yang begitu ia rindukan ternyata telah menghancurkan kepercayaannya.

Sarah terus berjalan tak tahu arah. Menabrak siapapun yang melintas di dekatnya sambil menutup mulut meredam isakan. Sesekali mengusap kasar air matanya yang berjatuhan.

Begitu Sarah pikir sudah menjauh dari wanita itu, satu cengkeraman kuat menahan langkahnya membuat gadis itu terpaksa berhenti.

Percuma saja berontak, Alfi menahannya begitu kencang. Sarah tak punya tenaga lagi untuk menepis, ia sudah lelah menunjukkan emosinya. Hingga akhirnya Sarah memutuskan untuk berbalik dengan pasrah.

Dari sorot mata Alfi yang begitu redup,  Sarah tahu bukan hanya dirinya saja yang terguncang, nyatanya Alfi juga begitu terpukul. Pria itu tampak gusar dengan perasaan bersalah. "Sar, kita bicara dulu pelan-pelan..."

Sarah menggeleng cepat. Ia menarik tangannya dari tangan Alfi.

"Lo tahu semua ini?" tanya Sarah parau.

Alfi terdiam.

"Kalo selama ini lo tahu semuanya, kenapa lo enggak ngasih tahu gue? Lo bertindak Seolah-olah enggak kenal gue, padahal lo tahu kalo sekarang kita ... Bersaudara?" Suara Sarah tertahan di ujung kalimat.

Sungguh berat mengatakan fakta itu. Hingga Sarah memaksakan untuk bicara meski tersendat-sendat. "Lo sama aja kayak Alfan ... Penipu."

Dengan cepat Alfi meraih kedua bahu Sarah. "Gue enggak bermaksud nutupin semua ini. Alfan yang selalu nyuruh gue buat tutup mulut. Lo inget dulu gue sama Alfan pernah ribut? Dan lo nyamperin gue buat ngobatin luka-luka gue?"

Sarah mengangguk pelan.

"Waktu itu gue pernah bilang, gue sama Alfan berantem karena lo. Lo sendiri tahu itu kan? Hari itu Alfan tahu siapa sebenarnya nyokap lo. Hari itu juga gue mau cerita sama lo tentang semua ini, tapi Alfan ngancam gue. Akhirnya kita berdebat sampai adu fisik."

Hati Sarah kembali pecah berkeping-keping. Jadi ini yang di maksud Alfi kenapa dirinya bisa terseret masalah mereka? Semua karena keluarga mereka saling bersinggungan.

Sarah menutup mulut menahan isak. "Hari itu Alfan tahu semuanya?" Pertanyaan itu lebih tertuju kepada dirinya sendiri.

Alfi bungkam. Pria itu juga dilema apakah keputusan untuk menceritakan semua ini adalah tindakan yang benar atau salah. Tapi karena sudah terlanjur ketahuan, Alfi juga tak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya. Lagipula Sarah berhak tahu dimana ibunya.

"Sar ..." Seolah tak cukup menyakitkan, Alfi kembali menghujam hati Sarah, "Alfan nyamar untuk menguak latar belakang keluarga lo. Dia sendiri yang bilang sama gue kemarin."

Sarah menggeleng tak percaya. "Tinggalin gue sendiri!" Ia sudah tidak sanggup mendengar penjelasan apapun lagi. Ia sudah hancur. Sarah tak ingin fakta baru itu semakin membuat hatinya remuk.

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang