30. Samar

7.6K 1K 719
                                        


30 | Samar
.
.
.
.




Ketika Sarah tiba di posko, tak seorangpun tertangkap indra penglihatannya. Sebelum pergi ke pasar, baik Sarah maupun Alfan diinformasikan bahwa hari ini mereka free. Sarah kira free yang dimaksud teman-temannya itu hanya santai-santai saja di posko. Ternyata free yang dimaksud mereka itu kelayapan kemana-mana.

"Ini orang-orang pada kemana?" Sarah sedikit mengeluh ketika ia tak melihat sandal teman-temannya di depan posko maupun di rak. Setelah mendapati pintu posko terkunci, Sarah langsung meraih kunci di bawah pot bunga yang mereka sepakati sebagai tempat persembunyian.

Setelah pintu posko terbuka, Alfan mengekor ke dalam posko lalu meletakkan belanjaan di dapur beserta hewan-hewan kecilnya. Kemudian mengecek ponsel untuk membuka grup KKN.

"Oh ini mereka lagi pada bantuin yang posyandu." Sahutan dari Alfan membuat Sarah mendekat.

"Oh posyandu? Kirain pada kelayapan. Kita perlu nyusul ke sana enggak?"

"Ga usah katanya. Bentar lagi juga selesai."

Sarah mendesah lega. Ia terlalu malas untuk melakukan proker dadakan hari ini. Makanya ia bersyukur dengan keputusannya untuk belanja ke pasar sehingga ia tidak perlu ikut ke lapangan untuk membagikan vitamin maupun sosialisasi kesehatan.

"Nyesel deh enggak beli makanan mateng." Sarah bermonolog sendiri membuat atensi Alfan teralihkan. Gadis itu terlihat sibuk memisah-misahkan belanjaan.

"Lo lapar?"

Sarah hanya merespon dengan anggukkan. Sarah kan hidup di Indonesia, jadi budaya Indonesia juga melekat pada dirinya termasuk budaya dimana belum disebut makan jika ia belum mengonsumsi nasi. Padahal Sarah sudah memakan banyak cemilan saat di pasar.

Teman-temannya juga hanya menyisakan nasi tanpa lauk. Bukan karena pelit, tapi mereka sepakat untuk membeli lauk masing-masing saat sarapan. Kecuali untuk makan siang dan makan malam mereka masak bersama.

Alfan segera meraih wajan dan pisau lalu meletakkan wajan di atas tungku. Mereka terpaksa menggunakan tungku untuk sementara waktu karena persediaan gas habis. Sedangkan Sarah masih memperhatikan tingkah Alfan yang sedang bereksperimen di dapur.

"Mau masak?"

"Heem."

"Enggak usah repot-repot deh."

"Dih siapa juga yang mau masakin lo. Gue juga lapar kali."

Sarah mendecih sebal, "kayak bisa masak aja."

"Diem. Lo makin rese kalo lagi lapar."

Bibir Sarah maju beberapa senti. Meski ia sebal dengan sikap jutek Alfan tapi kakinya tergerak untuk ikut duduk di depan tungku. Bingung dengan apa yang dilakukan pria di sampingnya. Mengingat sekarang belum waktunya untuk memasak, lagi pula jadwal memasak hari ini bukan mereka berdua.

"Tapi kan enggak ada apa-apa. Masa cuma nasi doang?" Sarah menyesali dirinya karena lupa membeli bahan makanan cepat saji. Jika Alfan ingin memasak bahan yang mereka beli, itu akan memakan waktu cukup lama.

"Pake ini aja."

Sarah melotot, "masa bawang sama cabe doang?"

Meski ujaran Sarah terdengar dengan nada meremehkan, Alfan tidak ambil pusing. Alih-alih menjawab keanehan Sarah, Alfan mulai berkutat memotong bawang merah dan cabai. Sedangkan Sarah menopang dagu dengan kedua tangan dimana paha menjadi tumpuannya.

Sarah meringis saat Alfan menggoreng kedua bahan dapur itu hingga menimbulkan suara percikan minyak. Bau menusuk bukan hanya menyakiti hidungnya, tapi juga membuat matanya perih. Hingga Sarah langsung menepuk bahu Alfan, "Lo beneran mau masak atau mau ngasih makan hamster semok lo sih?"

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang