4. Alfan Aditya

17.4K 1.7K 1.1K
                                        

4 | Alfan Aditya
.

.
.
.
.
.


Beberapa hari lalu..

"eh anjrit lo lagi nyuci apaan, Fan?" Bobi yang sudah biasa keluar masuk rumah Alfan mendapati dirinya tengah sibuk mencuci sesuatu.

"Berisik."

Bukan karena pertanyaan sindiran Bobi yang menyinggung perasaan Alfan. Melainkan seringai menyebalkan dari sahabatnya itu yang membuat Alfan malu setengah mati.

"hahaha lo ga usah merasa hina gitu cuma gara-gara mimpi basah doang." Alfan langsung mengarahkan tatapan nyalang. Dari mana sahabatnya tau?

Kejadian ini memang normal. Tapi apa perlu sampai orang lain tahu bahwa dirinya baru saja mengalami mimpi basah?

Seperti mengerti maksud tatapan Alfan, pria bertubuh gembul itu dengan santai membocorkan siapa penyebar informasi biadab ini, "Dion tadi ngasih tau gue, katanya abangnya lagi nyuci kolor bekas mimpi basah." Jelas Bobi sambil terkekeh.

Sial.

Sial.

Sial.

Alfan harus memberi pelajaran pada adiknya yang satu itu. Kelakuan Dion memang selalu menyebalkan untuk ukuran bocah berusia sepuluh tahun.

"Kampret. Ngomong apa lagi tuh anak?"

"Gue nanya Abang mimpi basah sama siapa?"

"Dia bilang sama domba haha." Bobi tergelak.

Alfan langsung membanting sikat. Kejadian ini sudah cukup memalukan, apa harus di tambah embel-embel bahwa dirinya mimpi basah dengan domba?

Adiknya itu memang belum mengerti apa arti mimpi basah. Makanya ia asal bicara. Namun itu tetap saja membuat Alfan jengkel, apalagi ketika mengingat objek yang menjadi fantasi liar itu adalah...

Oh shiit

Cukup.

Alfan tidak ingin kejadian ini diketahui orang lain. Cukup dirinya saja. Ia tidak ingin kejadian ini semakin mempengaruhi psikologinya.

Setelah menyelesaikan pekerjaan mencuci dengan tergesa-gesa, Alfan segera meraih buku catatan dan bergegas keluar rumah. Hari ini Alfan sengaja nebeng mobil Bobi karena motornya baru saja masuk bengkel.

"Itu handphone satu lagi ga dibawa?" Tanya Bobi.

Dengan perasaan jengah Alfan mengambil ponsel hitam yang tergeletak di atas meja. Lama-lama ia repot juga jika harus membawa dua ponsel kemana-mana.

"Lo masih belum hubungin cewek itu? Siapa tau dia nyariin handphone nya." Sambil sibuk memasang seatbelt, lagi-lagi Bobi mengungkit perihal cewek itu.

Cewek itu? Cewek itu?

Alfan menahan napas sedetik saat memori nya kembali pada ingatan tadi malam. Lancang sekali dirinya memimpikan orang asing, bahkan sampai basah.

"Iya iya entar gue balikin."

"Betah amat sampe disimpen berhari-hari."

Itulah kesalahan Alfan. Hampir setiap hari ia membawa ponsel itu kemana-mana. Dan sebanyak itulah ia memikirkan pemilik ponsel hingga sampai pada mimpi liarnya.

Sebenarnya Alfan sudah berniat ingin mengembalikan ponsel itu. lagipula itu bukan haknya. Tapi ia terus memikirkan bagaimana caranya agar ponsel itu tidak kembali begitu saja. Ia sedang memikirkan strategi untuk memanfaatkan kesempatan ini. Anggap saja ia sedang modus.

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang