38. Sebotol Air Mineral

7.3K 929 516
                                        

Jangan lupa untuk meninggalkan komen di setiap chapter ya, dear. Karena aku lebih suka baca komen kalian di banding angka vote 🥺🥺


______________________________________________

38 | Sebotol Air Mineral
.
.
.
.

Sarah mengerucutkan bibir kala Alfan berbalik meninggalkannya. Untuk kesekian kali, Alfan membuat Sarah merasa bodoh. Dalam satu waktu pria itu bisa bertindak kejam. Alfan bahkan tega mempermalukannya di depan umum.

Tapi di hari yang sama Alfan juga bisa bersikap manis dan perhatian. Terbukti Alfan rela menghilangkan gengsi demi mengobatinya.

Kali ini Sarah mencoba melupakan dan memaafkan Alfan yang sudah memarahinya, tapi pria itu malah kembali membuatnya kesal.

Maunya apa sih? Tiba-tiba marah lalu mendadak perhatian, kemudian berubah kembali jadi menyebalkan. Habis dibawa terbang tinggi ia malah dijatuhkan ke dasar bumi.

Sarah langsung tersinggung melihat Alfan bertindak tidak sopan karena pergi begitu saja di tengah pembicaraannya. Pria itu benar-benar membuat Sarah merasa terganggu.

"Dih dasar orang gila." Desis Sarah. Berharap pria itu mendengar. Tapi nyatanya Alfan tak menggubris dan tetap melanjutkan langkahnya.

Sepeninggal Alfan, Sarah segera meraih kotak besi, lantas memasukkan perkakas ke dalam kotak tersebut. Ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan beralih ke benda-benda kecil yang lebih mudah ia kerjakan. Sarah tak ingin mengambil resiko jatuh lagi jika ia nekad menaiki pijakan kayu.

"Kok sendirian aja?"

Sarah menoleh ke arah Dayat dan Alfi yang tiba-tiba saja sudah berada di dekatnya sambil membawa dua botol air mineral.

"Iya nih, yang lain pada di lapangan. Gue di titipin barang-barang sama Rian di sini."

"Kaki lo kenapa?" Tanya mereka berdua bersamaan.

"Eh uhm ... Tadi jatoh, tapi sekarang udah gapapa kok hehe."

"Bener gapapa? Tapi itu sampe biru gitu." Alfi mendekat.

"Supaya berubah warna, langsung cium aja, Fi. Pasti nanti berubah jadi pink haha."

Sarah melirik Dayat sambil memicingkan mata. "Dikata kaki gue pantat bayi apa ya? Kulitnya sensitif." Pria itu terbahak lalu bergegas sembunyi di balik papan untuk menghindari pukulan Sarah.

"Yang berubah warna bukan kakinya kali, Yat. Tapi mukanya haha. Iya enggak Angel?"

Sarah langsung mengalihkan tatapannya. Bukannya ikut tertawa, ia malah menatap sinis ke arah Alfi yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya. "Ih kan gue udah bilang jangan panggil gue Angel lagi."

"Ohya? Kapan lo bilang gitu?"

Berbeda dengan Sarah yang memandangnya dengan raut kesal, Alfi justru sebaliknya. Semakin Sarah cemberut, Alfi semakin tertawa. "Hahaha kapan emang gue bilang gitu?" Ulang Alfi.

Sarah langsung memicingkan mata menatap Alfi dengan raut kesal sekaligus curiga. "Lo--"

"--enggak usah becanda."

Sedangkan Sarah semakin berdecak sebal melihat Alfi sengaja bermain-main dengan kekesalannya.

"Punya gue itu, maen nyosor aja." Dayat berseru tak terima saat Sarah meminum air mineral miliknya yang belum sempat ia cicipi.

"Nanti gue ganti elah." Ujar Sarah tanpa merasa bersalah.

"Ganti pake mie instan tambah telor. Enggak mau tau. Gue tagih nanti malem."

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang