8| Pulang
.
.
.
.
.
Sarah yang duduk di depan Tommy dengan posisi badan membungkuk dan kepala di atas meja membuat pria itu gemas. Entah kenapa hari ini Sarah terlihat begitu tidak fokus sehingga sepanjang jam kuliah gadis itu hanya melamun.
Tommy mencolek punggung Sarah dengan pulpen, membuat gadis itu sedikit tersentak dan menoleh ke belakang. Sarah mengangkat alis dengan maksud bertanya 'ada apa?'.
Sedangkan Tommy menunjuk ke depan kelas dengan dagunya dengan maksud 'udah ada dosen woy'.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan memasuki kelas dengan langkah cepat, "udah siap untuk kuis hari ini?"
Sarah langsung membenarkan posisi duduknya. Untung saja Tommy membangunkannya sebelum ia di tegur oleh dosen karena ketahuan tidur di kelas.
Dosen dengan kepala plontos itu selalu menerapkan sistem kuis sebelum presentasi di mulai. Kuis ini dimaksudkan agar mahasiswa memabaca materi lebih dulu sebelum pemaparan dari kelompok lain. Ya semacam pemanasan sebelum otaknya diserang rentetan beban.
Dengan cepat dosen membagikan soal ke setiap meja lalu duduk kembali.
Kuis dengan durasi lima belas menit itu selesai tanpa drama. Tidak seperti kuis di hari pertama yang menghebohkan seisi kelas. Mereka sudah terlalu sering di kejutkan oleh kuis dadakan yang terasa tidak lagi dadakan.
"Oke selanjutnya presentasi kelompok delapan. Kita lanjutkan materi setelah UTS sesuai silabus."
Beberapa mahasiswa yang merasa nama kelompoknya di panggil langsung maju ke depan. Ada yang membawa laptop dan beberapa catatan sebagai persiapan. Ini lah sistem kuliah yang sebenarnya tidak disukai Sarah. Mahasiswa mencari materi sendiri, membaca sendiri, dan menjelaskan sendiri. Semuanya serba sendiri. Sedangkan dosen itu hanya tinggal duduk manis dan menilai tingkat kemampuan berbicara mahasiswa di depan kelas.
Apalagi sesi presentasi dan mendengarkan ocehan dosen adalah bagian paling membosankan. Sarah paling semangat jika sudah memasuki sesi diskusi dan tanya jawab.
"Oke semuanya mohon perhatian. Kami dari kelompok delapan akan memaparkan materi mengenai kalkulus vektor. Materi pertama mengenai integral garis pada medan vektor akan disampaikan oleh rekan kami, Salwa."
"Tunggu. Setiap kelompok kan ada empat anggota, kenapa di makalah kalian cuma ada tiga anggota?" Dosen itu memotong sang moderator.
Setelah saling pandang dan berbicara dengan bahasa tubuh, akhirnya salah satu anggota kelompok mengangkat tangan, "kelompok kami awalnya memang beranggotakan empat orang, Pak. Tapi karena satu anggota lagi tidak ikut partisipasi dalam pembuatan makalah, jadi kita kick pak."
Suasan hening. Tidak ada yang berani menyebutkan siapa objek tersebut.
Dosen itu membetulkan kacamata sambil mengangguk-angguk, "baik. Silahkan lanjutkan."
Meski Sarah juga terkadang kesal dengan teman sekelompoknya yang susah di ajak bekerjasama, tapi Sarah tidak setega itu untuk mengeluarkan anggota kelompoknya sendiri. Toh bagi Sarah, kelambanan seseorang hanya cukup untuk ditertawakan saja. Nanti juga mereka akan memetik hasil dari apa yang mereka tanam.
Kebiasaan buruk akan menghasilkan kualitas yang buruk juga. Katanya ingin masuk bersama, lulus bersama. Tapi diajak berjuang bersama malah tidak mau. Ya sudah, itu pilihan mereka. Toh mereka juga yang akan rugi.
Jika Sarah di satukan bersama kelompok dengan anggota yang rata-rata malas mengerjakan tugas, justru itu menguntungkan bagi Sarah. Sarah tidak keberatan mengerjakannya sendirian. Toh ia juga yang mendapat manfaat karena dapat menguasai materi. Sarah juga tidak suka bersikap otoriter dengan menunjuk si anu tugasnya anu. Bodo amat dengan mereka yang tidak mau di ajak belajar bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
PETRICHOR [END] ✓
أدب المراهقينSeumur hidup Sarah mencium aroma asing yang menenangkan ini, ia baru tahu jika aroma tanah basah yang muncul saat hujan turun ternyata punya nama. Namanya Petrichor. Ia masih tak menyangka jika harus mendengar hal unik ini dari pria di hadapannya. S...
![PETRICHOR [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/202222442-64-k22870.jpg)