15 | Anomali
.
.
.
.
.
.
.
Manusia seringkali melihat tapi lupa mengamati. Itulah sebabnya manusia seringkali menghakimi sebelum mengerti.
Meski rutinitas Sarah mengajar tidak setiap hari namun dengan jangka waktu dua kali dalam seminggu cukup membuatnya hafal dengan design interior rumah Dion.
Rumah yang terlihat mewah tapi tidak terlalu glamour ini memiliki kesan elegan. Rumah ini dipenuhi lemari kaca, dan benda-benda keramik yang didominasi warna putih. Sarah duduk di atas sofa king size sambil mengedarkan pandangan ke setiap benda yang menempel di dinding.
Terdapat beberapa piagam yang menghiasi dinding atas nama Renata Kalyanara. Piagam tersebut milik mamanya Dion. Sarah sempat membaca piagam-piagam tersebut merupakan berbagai jenis prestasi entah itu melukis, hand made terbaik, atau penghargaan sebagai pembicara di suatu acara tertentu. Hal itu jelas menandakan jika Tante Rena alias mama Dion memang sosok wanita yang berpendidikan.
Namun seperti yang Sarah bilang, manusia seringkali melihat tapi lupa mengamati. Sarah seringkali melihat objek-objek di sekitarnya tapi lupa mengamati bagian terpenting jika di rumah ini tidak ada foto keluarga.
Sarah mencoba untuk positif thinking.
Mungkin tidak semua keluarga nyaman memajang foto keluarga. Hanya saja rasanya sangat ganjil melihat rumah mewah tidak memiliki foto keluarga yang biasa di pajang di ruang tamu. Sarah baru menyadari itu setelah tiga bulan.
"Di minum dulu, Kak Sarah." Seorang wanita dengan tinggi semampai tampak membawa baki berisi minuman. Untuk usianya yang diperkirakan empat puluhan wajahnya masih cantik dan terlihat muda. Meski dengan menggunakan piyama long dress tetap memancarkan auranya. Jika ditilik-tilik, Tante Rena mirip Julia Roberts.
Cantik, anggun dan berkarisma.
"Makasih, Tante. Duh jadi ngerepotin."
"Eh ngga ngerepotin kok, malah Tante yang ngerepotin minta jadwal lesnya dipindah jadi malam-malam begini."
"Gapapa kok, Tan. Harusnya saya yang menyesuaikan dengan jadwal sekolah Dion."
"Dion mah santai aja, mau belajar kapanpun bisa selagi kak Sarah ada waktu luang. Pokoknya jangan mengganggu waktu kuliah Kak Sarah ya. Tetep prioritasin dulu kuliahnya."
Nikmat Tuhan mana lagi yang harus Sarah dustakan? Ia sangat bersyukur mendapat orang tua murid yang begitu perhatian.
"AHAHAHAH AMPUN BANG AMPUN, HAHAHA." Teriakan Dion dari lantai dua terdengar hingga ruang tamu.
Sarah menegang. Sepertinya Dion tengah bercanda dengan Alfan di lantai dua. Sarah agak risih saat mengetahui ada Alfan di sini. Biasanya saat Sarah mengajar sore, Alfan tidak ada di rumah.
"Duh maaf ya. Kalo dua-duanya ada di rumah suka rame. Kerjaannya berantem terus. Ga ada yang mau ngalah." Ujar Tante Rena merasa tidak enak namun tetap tersenyum.
Sarah jadi teringat Uji dan Farhan, kedua bocah itu juga sering sekali bertengkar gara-gara masalah sepele. "Ahahah gapapa kok, Tan, adek saya juga di rumah sering berantem. Biasa kakak adek kayak gitu, malah aneh kalau ngga berantem. Apalagi kalau dua-duanya cowok kayak Dion sama Alfan, suka ada aja yang diributin."
Tante Rena tampak terkejut, "loh, kamu kenal Alfan?"
Sarah kikuk menyadari telah salah bicara. "Ah hmm iya, Tan. Kita kan satu kampus, cuma beda jurusan aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
PETRICHOR [END] ✓
Ficțiune adolescențiSeumur hidup Sarah mencium aroma asing yang menenangkan ini, ia baru tahu jika aroma tanah basah yang muncul saat hujan turun ternyata punya nama. Namanya Petrichor. Ia masih tak menyangka jika harus mendengar hal unik ini dari pria di hadapannya. S...
![PETRICHOR [END] ✓](https://img.wattpad.com/cover/202222442-64-k22870.jpg)