13. Twins

10K 1K 702
                                        

13| Twins
.
.
.
.
.

"Bang, 47 lembar hitam putih, 2 lembar print warna." Aktivitasnya menyusun tumpukan makalah yang masih berbentuk lembaran akhirnya selesai.

Saat ini Sarah sedang menjilid tugas makalahnya di fotocopy yang terletak di luar gerbang kampus. Kondisi di luar gerbang kampus juga dipenuhi oleh pedagang asongan. Bahkan terdapat beberapa stand yang sengaja disewa untuk tempat makan.

Sambil menunggu pekerjaan tukang fotocopy selesai, Sarah iseng memindai beberapa stand makanan yang ingin ia pilih sebagai menu makan siang.

Senyum Sarah mengembang saat matanya mengarah pada stand mie ayam kesukaannya yang beberapa hari ini ia rindukan. Gerobak mie ayam yang dilengkapi dengan meja persegi dan beberapa kursi plastik itu tampak ramai pengunjung.

Sarah tidak bisa menahan senyum yang semakin merekah. Betapa nikmatnya menyantap mie ayam setelah selesai presentasi nanti.

Mata Sarah bergeser dari sosok penjual mie ayam, pada barisan pelanggan yang terlihat cekikikan.

Hingga akhirnya pandangannya bertemu dengan seseorang.

Boom! Sarah menyesal telah menjatuhkan pilihannya pada penjual mie ayam. Karena yang ia lihat kini adalah Alfi dengan senyum lebar yang tengah menatapnya juga.

Sarah tidak bermaksud memberikan pria itu senyuman yang berakhir balasan senyuman yang sama. Ia hanya terlalu senang dengan kehadiran penjual mie ayam, sehingga bibirnya refleks tersenyum saat matanya beralih pada meja Alfi. Kesannya jadi seperti Sarah yang menyapa Alfi duluan.

Senyum Sarah seketika hilang saat Alfi kini melambaikan tangan padanya. Matanya melotot ketika beberapa teman yang berada satu meja dengan Alfi ikut menoleh ke arahnya.

Harus banget ya dadah-dadah gitu? Jadi tontonan kaaan.

Terpaksa Sarah membalas lambaian Alfi dengan senyum kecut.

Bertemu dengan Alfi di kampus tanpa sengaja seperti ini apa masih bisa disebut kebetulan?

Kata 'kebetulan' itu bisa disebut kebetulan jika kita bertemu seseorang di tempat dan waktu yang tak terduga bukan?

Sarah hanya merasa pertemuannya yang menyangkut Alfi semakin terasa ganjil.

Sarah takut segala pikiran dan tindakannya dipengaruhi oleh perasaan. Maka ia mengandalkan intuisi 'kebetulan'.

Ia hanya tidak ingin terlalu berharap pada pertemuan mereka. Apapun skenario yang langit berikan, Sarah selalu melabelinya dengan sesuatu yang wajar. Iya hanya tidak ingin menyakiti hatinya. Ia tidak ingin menyebut ini sebagai takdir. Karena ini hanya kebetulan kan?

Wajarkan jika mereka semakin intens bertemu? Mereka kan satu kampus bahkan satu fakultas.

Alfi dan kelima temannya tampak membicarakan sesuatu. Dilihat dari gestur tubuh mereka, Sarah tau mereka tengah membicarakannya karena pria yang duduk di hadapan Alfi menoleh untuk kedua kalinya.

Bahkan mereka secara terang-terangan menatap dirinya dan Alfi bergantian sambil tersenyum aneh.

Sarah semakin terkejut saat Alfi justru menghampirinya.

Bukan ini yang diharapkan Sarah. Apa Alfi harus terang-terangan menghampirinya di hadapan teman-temannya seperti ini?

"Sebentar bro, lagi ada urusan dulu." Teriak Alfi pada kelima pria yang masih duduk di meja mie ayam sambil menyaksikan tingkah Alfi yang semakin mendekat. Seolah mereka adalah hiburan yang mengasyikan.

PETRICHOR [END] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang