6. Oh ternyata

13.8K 1.4K 802
                                        

6.| Oh ternyata
.
.
.
.
.

"Gue Alfi -

Kembarannya Alfan."

Sarah menganga. Gadis itu lantas menatap setiap inci wajah pria yang mengaku sebagai kembarannya Alfan. Otaknya berusaha mencerna ucapan pria itu. Baru bertemu satu jenis saja sudah membuatnya stress, sekarang spesies ini bertambah jadi dua?

Entah karena efek belum sarapan sehingga membuat pikirannya begitu lemot. Atau memang berurusan dengan pria selalu membuat Sarah telmi. Saat ini otaknya benar-benar tidak mampu mencerna apapun.

Hening beberapa saat. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Hingga yang terjadi kemudian adalah ledakan tawa Sarah yang terdengar hingga seantero kantin. "HAHAHAHA." ia bahkan sampai memegangi perut dan mengusap air mata karena terlalu keras tertawa. "Ga usah bercanda lo, ga lucu. Gue tau lo mau menghindar dari gue kan?"

Pria itu mengernyitkan dahi. "Lo ga percaya?"

"Ya enggaklah. Mana handphone gue?"

Pria itu menyilangkan tangan di dada lantas tersenyum. Ini cewek depresi atau kenapa sih? Temennya Alfan emang ga ada yang waras.

Alfi tersenyum oleh pikirannya sendiri. Lingkar pertemanan Alfan kan memang selalu tidak wajar. Alfan memang berteman dengan siapa saja, dan itu menjadi nilai plus yang tidak dimiliki Alfi. Tapi benar kata pepatah, kelebihanmu adalah kelemahanmu. Karena Alfan tidak pernah memilah siapa saja yang menjadi temannya, akibatnya pergaulan Alfan pun tidak bisa dikontrol.

Senyuman Alfi membuat kepala Sarah kosong. Menyadari ada yang berbeda dengan ekspersi lawan bicaranya, Sarah seketika terdiam. Matanya terkunci ke dalam tatapan pria itu. Tidak ada tatapan tajam yang menusuk, yang ada dihadapannya adalah tatapan teduh dan seulas senyum yang mampu membuat Sarah (lagi-lagi) berdebar.

Sarah baru menyadari jika ekspresi pria ini sungguh berbeda dengan Alfan yang ia temui. Alfan yang berwajah datar, dan tatapannya yang menusuk serta menyebalkan sering membuat emosinya naik turun.

Namun yang kini Sarah lihat adalah ekspresi ramah dan rasanya sangat nyaman untuk terus dilihat. Jika biasanya Sarah tidak peka dengan lingkungan sekitar, kali ini Sarah sadar jika pria dihadapannya adalah objek yang berbeda.

Semua ini membutanya gila. Ia baru saja menonjok, meneriaki, bahkan berani-beraninya memiting orang yang tidak ia kenali. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan dia kan? Soalnya kedua pria ini benar-benar mirip.

Tapi sebagian otaknya justru merangkai fakta bahwa dirinyalah yang paling bersalah. Kenapa bisa-bisanya dia bertindak agresif?

Aaargh. Rasanya ia ingin tenggelam saja ke dasar laut atau berubah menjadi makhluk halus yang tak kasat mata.

Ia malu setengah mati !

Mengetahui perubahan air muka Sarah, Alfi masih memasang senyum. Lagi-lagi bukan senyum meremehkan, tapi senyum bersahabat. Ia memaklumi jika gadis ini mengenalinya sebagai Alfan. Ini bukan peristiwa yang pertama. Ia selalu menjadi korban kejahilan teman-teman Alfan karena mengira dirinya adalah Alfan.

Meskipun wajah mereka sangat mirip. Tapi mereka memiliki ciri khas yang mencolok dalam berpakaian. Seharusnya orang-orang menyadari itu. Alfan yang semrawut dan dominan dengan pakaian gelap, sedangkan Alfi yang selalu berpenampilan casual dan rapi layaknya asisten dosen.

Alfan adalah cerminan mahasiswa kunang-kunang alias kuliah-nangkring kuliah-nangkring. Dia akan menjadi garda terdepan ketika melakukan aksi demo. Mengikuti banyak komunitas di dalam maupun diluar kampus memang hobinya, sayangnya komunitas-komunitas itu tidak menunjang perkuliahannya. Begitulah pikir Alfi.

PETRICHOR [END] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang