Chapter 25 : When Ryan Meet Sean (2)

578 113 35
                                        


Mungkinkah selama ini memang aku yang salah...?

-------

Sudah lewat tengah malam. Di luar hujan turun dan Xiao Zhan meringkuk di ujung tempat tidur memunggungi pencuri yang terpejam tanpa suara di sampingnya.

Tubuh Xiao Zhan mengejang saat dirasakannya telapak tangan lebar mengelus punggungnya yang telanjang.

Tidak lagi...

"Zhan..." dia mendengar pencuri itu memanggilnya. Nafasnya terdengar lembut dan teratur.
"Maafkan aku," katanya lagi. Kali ini gumamannya agak lirih.

Memang lebih mudah meminta maaf saat kau sudah memaksakan keinginanmu

pikir Xiao Zhan sebal.

Xiao Zhan tidak sanggup bergerak. Energinya habis, dia tidak bisa melawan saat si pencuri membalikkan tubuh kurusnya. Mereka tidur menyamping dan berhadapan.

"Mungkin seharusnya aku memberimu sedikit waktu," pencuri itu berkata sambil mengelus pipi Xiao Zhan.
"Kuharap kau bisa mengubah perasaanmu terhadapku."

Wajah Xiao Zhan berubah dari marah menjadi sedih dalam sedetik. Tatapannya terhalang selaput putih yang samar namun tidak sanggup menyamarkan wajah tampan sang pencuri.

Terlintas lagi dalam benaknya perjumpaan mereka yang pertama, awalnya dia mengira benar-benar bisa mencintai pemuda tampan ini sepenuh hati.

Dia sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya. Betapa dia mengharapkan sebuah kisah lain yang terjadi. Bukan seperti ini. Didasarkan pada kebohongan dan manipulasi.

Xiao Zhan tidak bersuara. Hanya matanya yang berkaca-kaca mencoba menjelaskan sesuatu.

"Zhan, aku mencintaimu," ujar si pencuri lagi.

Xiao Zhan memejamkan mata.

Mungkin saja semua yang dilakukan orang itu hanyalah reaksi yang dipicu oleh tindakan manipulasi

Ribuan tetes hujan yang turun di luar sana seakan-akan berubah arah jadi menerpa seluruh tubuhnya.
Rasanya ada sesuatu yang dingin dan tajam menusuk-nusuk kulitnya. Membuatnya merinding.

"Apakah ini sungguhan?" akhirnya Xiao Zhan berhasil menemukan suaranya.

"Kesalahanmu yang terbesar adalah percaya pada professor itu," ujar Wang Yibo.
"Seharusnya kau yakin pada dirimu sendiri. Aku tahu kau juga mencintaiku. Bahkan jika kau benar-benar yakin bisa memanipulasiku, bukankah semua peristiwa ini kau yang menginginkannya?"

"Mengapa kau selalu menyalahkan aku? Salahkan dirimu karena menulis tentang ini dalam novel payahmu itu."

"Kau..!" Xiao Zhan menggertakan gigi.

"Kau menyadarinya?"desak Wang Yibo.

Sebuah kesadaran menyelinap di sudut pikirannya yang kusut.
Xiao Zhan menghela nafas berat. Dia tidak menjawab.

"Kau membiarkan aku melakukan semuanya. Itu kebenarannya," lanjut si pencuri.
"Sekarang, nikmati episode yang kau tulis sendiri."

Mendengar itu tubuh Xiao Zhan terasa meleleh bagaikan lilin yang terbakar api.

"Aku akan melakukannya lebih lembut sekarang.." nada suaranya meskipun pelan tapi cukup persuasif.

Pencuri ini benar-benar gatal

batin Xiao Zhan putus asa.

"Kau tidak pernah merasa cukup," sahut Xiao Zhan setengah mengeluh.
"Siapa pun yang berada di sisimu, tidak akan pernah merasa cukup hanya dengan berdekatan, perlahan dia akan menginginkanmu lebih, dan lebih."

𝐌𝐢𝐝𝐧𝐢𝐠𝐡𝐭 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐫𝐢𝐞𝐬Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang