Chapter 27 : Mysterious Face

602 106 15
                                        

Beberapa jam kemudian Xiao Zhan sibuk mengompres pinggang rapuhnya dengan air hangat. Kepalanya sakit dan seolah akan meledak. Pencuri itu sudah pergi dari apartemennya setengah jam lalu, itupun setelah Xiao Zhan mengusirnya.

Menu sarapan yang kacau balau dan bonus hukuman dari si pencuri membuat Xiao Zhan bolak balik menyesali keputusannya meliburkan Vivian.

Aneh, biasanya dia lumayan pandai memasak. Kenapa tadi pagi dia sangat gugup sehingga masakannya berantakan.

Harian Shanghai Post masih tergeletak begitu saja di ujung meja makan. Xiao Zhan mengambilnya dan nyaris merapikan dengan lipatan yang benar, waktu mendadak matanya tertumbuk pada satu judul berita yang tercetak di kolom kanan atas.

Seorang remaja ditemukan tewas di kamarnya dengan mulut berbusa. Diduga aksi bunuh diri.

Dia mencengkeram surat kabar dengan kedua tangan sambil membaca berita itu, dan meskipun gambar korban dalam kondisi mati tidak dimuat  -- karena itu melanggar etika jurnalistik -- otaknya bisa membayangkan kondisi terakhir sang korban saat dia mati.

Jadi ini berita yang dibaca pencuri itu
Lalu kenapa berita ini berpengaruh padanya, dan juga padaku.
Ketakutannya menjadi ketakutanku, seakan-akan kami jadi saling mempengaruhi satu sama lain.

Xiao Zhan melipat kembali surat kabar dan menaruhnya di rak buku.

Sejenak ia berdiri termangu seperti orang idiot. Tidak yakin apakah bayangan mengerikan yang ia lihat saat memanggang steak tadi pagi berasal dari ingatan si pencuri.
Di koran itu tertulis dengan jelas bahwa korban bunuh diri adalah seorang remaja perempuan. Tapi yang ia lihat dalam fragmen menakutkan di balik kelopak matanya adalah wajah seorang wanita dewasa.

Mulut berbuih. Mata membelalak menakutkan.

Jika benar-benar bayangan itu mengganggu suasana hati si pencuri, harusnya wanita misterius itu memiliki hubungan dengannya.

Pertanyaannya adalah
Siapa wanita itu?

Xiao Zhan mencari-cari dalam kotak obat, meminum pil pereda nyeri lantas berbaring menunggu obat itu bereaksi.
Ponselnya berdering dan ia melihat Zhuocheng yang menelponnya.

Bisakah editor gila itu membiarkannya istirahat dengan tenang?

Xiao Zhan mengerang frustasi. Akhirnya dia mengangkat ponsel pada panggilan ke enam.

"Apa lagi?" semburnya.

"Zhan!" suara Zhuocheng terdengar bersemangat.

"Datanglah ke kantorku, ada hal penting yang harus dibicarakan."

"Tidak sekarang," dengus Xiao Zhan.

"Kalau begitu aku ke apartemenmu,"
Zhuocheng bersikeras.

"Sekarang?"

"Ya, kau kira minggu depan," Zhuocheng bersungut-sungut.

Xiao Zhan melirik kondisi dapur dan meja makan yang berantakan, ditambah aroma aneh di ruang tengah. Tidak. Zhuocheng tidak boleh kemari.

"Aku akan tiba dalam satu jam."
Dia akhirnya menyerah.

"Oke!"

𝐌𝐢𝐝𝐧𝐢𝐠𝐡𝐭 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐫𝐢𝐞𝐬Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang