~•~ Happy Reading ~•~
Sersan Li Xian menghirup aroma dari secangkir kopi dalam paper cup yang baru dibelinya di stand minuman dekat kantor polisi.
Dia berdiri di balkon lantai dua, duduk di salah satu anak tangga. Pemandangan jalan raya di bawah sana sibuk, padat dan melelahkan.
Siang menjelang sore yang cukup berawan. Li Xian mengangguk pada Wang Jia'er yang berjalan menuju padanya, di tangannya sama-sama memegang segelas kopi.
"Kau sudah mendapat izin untuk minum kopi di balkon gedung sekarang?" Wang Jia'er bertanya dengan nada bercanda.
"Kudengar Letnanmu itu ingin memiliki mesin espresso sendiri."
Li Xian terkekeh ringan.
"Kau baru dari rumah sakit? Bagaimana keadaan pencuri itu sekarang?"
Wang Jiaer tidak langsung menyahut, dia duduk santai di undakan tangga, tepat di samping Li xian.
"Aku tidak menanganinya secara langsung. Tapi dokter penjara mengatakan dia beberapa kali tidak sadarkan diri. Kondisinya cukup kritis karena pendarahan yang hebat."
"Apa dia akan selamat?"
"Kemungkinan besar ya. Peluru itu meleset beberapa inchi dari jantungnya dan sekarang dokter sudah mengeluarkan pelurunya."
Li Xian mengangguk-ngangguk, beberapa kali mencubit-cubit pangkal alisnya, sebelum berkata lagi.
"Sepertinya aku harus menunggu untuk mengorek keterangan darinya."
Wang Jiaer meneguk kopinya sedikit demi sedikit, ekspresinnya tiba-tiba berubah serius.
"Sersan ..."
"Ya?"
"Aku tidak tahu apa informasi ini berguna untuk penyelidikan atau tidak. Tapi dalam kondisi kritisnya pencuri itu memanggil-manggil nama seseorang."
Li Xian menoleh, mengernyit sekilas, dengan cepat minatnya bangkit.
"Kau mendengarnya langsung?"
"Tidak. Seorang perawat mengatakannya padaku sambil lalu. Bukan hal aneh jika seseorang berhalusinasi atau mungkin dia merasa hidupnya sudah tidak lama lagi hingga dia teringat seseorang yang cukup penting dalam hidupnya. Itu sering terjadi pada beberapa kasus gawat darurat."
"Jadi menurutmu orang yang dia sebut namanya seseorang yang penting?"
Selidik Li Xian.
Wang Jia er mengangguk. "Bisa jadi."
"Siapa yang dia panggil?"
"Xiao Zhan."
Li Xian mengerutkan kening, benaknya menduga-duga.
"Kau yakin Xiao Zhan?"
"Pencuri itu memanggilnya berkali-kali. Tidak mungkin salah."
"Hmmmmm ... ada berapa orang bernama Xiao Zhan di Shanghai?" Li Xian bergumam, mengawasi jalan raya di bawah sana.
Wang Jia er tertawa pelan. "Sungguh lelucon, jika kita mengecek data basis dan mencari siapa yang bernama Xiao Zhan hanya berdasarkan igauan seorang pasien kritis."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐢𝐝𝐧𝐢𝐠𝐡𝐭 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐫𝐢𝐞𝐬
Mystère / ThrillerKasus pencurian berantai yang ditulis Mr. Sean dalam novel terbarunya ternyata menyeret dia pada pusaran kasus yang persis sama dan terjadi di dunia nyata. Mungkinkah ada seorang copycat di luar sana yang menghidupkan kisah fiksi yang ia tulis. Lant...
