Hidup bagai malam yang tak berujung
Kau satu-satunya cahaya di dalam kegelapan
Benci dan cinta biarlah dilepaskan
Dalam hidup ini ...
Kita akan selalu bergandengan tangan
Berjanji takkan pernah berpisah
~•~•~•~•~
Fraser Apartment
Xiao Zhan memejamkan mata sementara tubuhnya mulai gemetar. Kemarahan, kesedihan, membangunkan imajinasi di dalam pikirannya. Bayangan itu mulai menari-nari, adegan yang menumpahkan darah.
Itu bukan darah Ryan yang mengalir.
Bukan juga darah Wang Yibo.
Itu adalah darahnya sendiri.
Xiao Zhan menitikkan air mata saat menekan satu jarinya dengan kuat pada keyboard bertanda titik. Tanda itu kini terlihat menakutkan baginya. Seakan-akan bukan tulisannya yang telah berakhir.
Melainkan kisah hidupnya sendiri.
Sang penulis membeku di kursinya, berjuang meredakan shock. Dia telah berjuang menutup pintu emosinya saat menulis bagian ini, tapi tanpa bisa dikendalikan dua butir air mata mengalir melintasi pipinya.
Seluruh tubuhnya seolah terserang demam dan Xiao Zhan mengerang oleh luapan emosi yang menyakitkan.
Ada sensasi nyeri yang aneh menjalari seluruh tubuhnya. urat-urat di bawah kulitnya berdenyut panas, seolah bukan Ryan yang tertembak, melainkan dirinya.
Telepati ini membuat dirinya tidak hanya mampu mengintip ke dalam pikiran Wang Yibo, menyaksikan apa yang dialaminya, tetapi juga jauh menembus ke dalam hati, merasakan emosi, kemarahan dan kebenciannya.
Telepati ini bagaikan sebuah kutukan.
Xiao Zhan mencengkeram kepalanya, air mata semakin mengalir deras.
Dia berteriak sekeras yang ia bisa, yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Suaranya terdengar aneh dan menyendiri, seperti pantulan bola di dalam gimansium yang kosong.
Di luar sana, seekor burung hitam yang bertengger di atas seutas kabel, terkesiap oleh suara pekikan manusia yang kesakitan.
Burung itu mengepakan sayapnya dan terbang ke bulan.
~ • ~
Dermaga Suzhou, menjelang fajar
Satu unit mobil polisi memasuki kawasan dermaga. Sersan Li Xian melompat dari balik pintu mobil, disusul dua orang petugas lainnya.
Beberapa orang petugas mengangkat dua orang pria tak dikenal yang dicurigai anggota gangster yang terlibat dalam berbagai transaksi di pasar gelap. Dua orang itu tampak lunglai tidak bergerak.
"Satu orang anggota kita terkena tembakan, dia membutuhkan perawatan, " seorang petugas polisi berkata pada sersan Li.
Li Xian mengamati ketika tandu yang membawa para penadah melintas di dekatnya.
"Apakah mereka tewas?"
"Satu tewas, tembakan jarak dekat di kepala. Satu lagi masih hidup tapi terkena tembakan di bagian bahu."
"Bagaimana dengan orang itu?" Li Xian menggerakkan dagu ke arah Wang Yibo yang terbaring di kejauhan, di dekat kaki Letnan Chen.
Nampak dua orang petugas belari-lari kecil dengan membawa tandu.
"Sekarat. Tapi masih bernafas."
Li Xian mengangguk, kemudian bergegas menghampiri Letnan Chen.
"Jadi dia pelakunya?" Li Xian menyipitkan mata ketika tandu yang mengangkut Wang Yibo melewati keduanya, pencuri tampan itu menggerakkan kepala, melontarkan lirikan licik pada sersan Li.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐢𝐝𝐧𝐢𝐠𝐡𝐭 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐫𝐢𝐞𝐬
Mystery / ThrillerKasus pencurian berantai yang ditulis Mr. Sean dalam novel terbarunya ternyata menyeret dia pada pusaran kasus yang persis sama dan terjadi di dunia nyata. Mungkinkah ada seorang copycat di luar sana yang menghidupkan kisah fiksi yang ia tulis. Lant...
