Chapter 17 : A Night At Royal Café

630 125 23
                                        

Royal Café, Kota Seribu Lampu

Wang Yibo mengemudi dengan santai menyusuri jalan yang berliku-liku. Sebatang rokok yang sudah tinggal setengah dijepit di antara dua jemari kiri, sementara tangan kanannya memegang kemudi. Bara rokok menyala merah di tengah keremangan dalam mobilnya. Malam itu sangat tenang, dan ia keluar untuk menenangkan diri.

Wang Haoxuan sudah menghubungi Mr. Peter tadi siang. Katanya pimpinan gangster itu sering bepergian mengurusi bisnisnya. Dia harus segera menyelesaikan transaksi ini, lalu segalanya akan berakhir.

Aku akan terbebas dari banyak tekanan, batinnya.

Dia percaya Haoxuan akan kembali bernegosiasi dengan beberapa pihak lalu akan mengambil alih kembali semua miliknya.

Dirinya akan kembali menumbuhkan kebiasaan minum dan menjalani petualangan yang menyenangkan. Melakukan perjalanan mahal dengan pesawat, lantas ia akan menemukan seseorang yang bisa mengerti dirinya dengan lebih baik, lalu dia akan hidup nyaman dan bahagia.

Wang Yibo teringat akan Rosy. Gadis cantik itu, teman lamanya saat kuliah di San Francisco State University dulu. Saat Rosy lulus dengan gemilang, dia malah ditendang dari kampus karena sering terlibat tawuran. Meski begitu si gadis model dengan gigih terus mendekatinya bahkan setelah bertahun-tahun. Rosy pulang kembali ke Shanghai sementara ia berperahu di Venezia dan menghamburkan uang ayahnya.

Rosy gadis yang baik, ia bergumam lagi dalam hati.

Tapi gadis itu tidak bisa menaklukan hatinya, lebih tidak bisa lagi menghancurkan egonya yang sebenarnya sangat rapuh.

Yibo membutuhkan minuman. Tangannya mulai gemetaran karena antusiasme. Satu langkah lagi, baru ia berhak menuangkan sampanye.

Tapi apa salahnya melakukannya lebih awal?

Dicarinya papan tanda cafe di jalan. Lalu ia memutar kemudi, membelokkan mobilnya memasuki halaman Royal Café. Salah satu cafe di Kota Seribu Lampu yang buka sampai tengah malam. Tempat di mana ia pertama kali melihat Xiao Zhan setelah ia kabur dari preman-preman suruhan Mr. Wen.

Yibo menghentikan mobil, membuang puntung rokok lewat kaca mobil yang terbuka. Matanya yang tajam mengawasi halaman luas itu, tidak banyak mobil yang terparkir. Diam-diam ia berharap bisa bertemu lagi dengan pemuda manis yang rupawan itu, di tempat ini. Tempat yang sama di mana ia telah kehilangan hatinya.

Sudut matanya menangkap sebuah sedan silver yang terparkir di paling ujung. Bayangan daun-daun dari pohon besar tidak jauh dari situ menjilati bagian kapnya. Mobil keluaran lama yang nampak membosankan. Bahkan dengan melihatnya saja Yibo sudah merasa hidupnya akan mogok.

Pemuda manis itu ada di sini, 

batinnya.

Aku tidak salah memilih tempat

Seringai licik mengembang di wajah tampannya. Kemudian ia kembali mengawasi mobil silver itu.

Mobil itu sudah nyaris seperti belahan jiwaku

Kata-kata itu bergema di ruang kosong dalam benaknya.

Belahan jiwa..

Yibo mendengus benci. Dia segera menjalankan mobilnya dan mengambil tempat parkir di samping mobil silver itu, menjaga jarak dengan hati-hati.

Dia mengawasi sekelilingnya sebelum turun dan mengendap-endap ke samping mobil silver itu. Bayangan gelap pohon melindunginya dari menarik perhatian tamu yang kebetulan lewat di halaman cafe.

Aku akan merusakmu mobil tua

Dia bergumam dalam hati

Berani-beraninya kau menjadi belahan jiwa Xiao Zhan.

𝐌𝐢𝐝𝐧𝐢𝐠𝐡𝐭 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐫𝐢𝐞𝐬Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang