~•~ Happy Reading ~•~
Saat pikiran sedang kacau, satu-satunya solusi adalah menenangkan diri.
The Bund 11.00 PM
Xiao Zhan merasakan angin malam bertiup dari arah sungai menyapu rambut dan seluruh tubuhnya.
Pikirannya mulai terkumpul sedikit demi sedikit meskipun belum sepenuhnya utuh kembali.
Beberapa hari yang telah lewat terasa bagaikan mimpi buruk baginya dan ia nyaris yakin bahwa ia tidak bisa bangun.
Berdiri di tepian dermaga, menatap nanar titik-titik cahaya di tepian lain The Bund, dia merasa kekacauan dalam dirinya lambat laun berubah menjadi sesuatu yang memedihkan.
Ada beberapa pilihan yang bisa diambil, dia membatin di antara desau angin dan suara-suara ramai pengunjung restoran di kejauhan.
Aku mungkin akan berhenti di tengah jalan, aku tidak bisa memikirkan solusi lain, ketakutan itu terlalu menguasaiku hingga membuatku nyaris gila.
Mungkin saja keputusannya tidak akan berpengaruh pada hidup pencuri itu, mungkin memang selama ini pikirannya yang salah. Sekali fiksi, tetap fiksi, demikian ia terus menerus meyakinkan dirinya. Tetapi mengambil resiko yang berkaitan dengan hidup pencuri itu, terlalu sulit untuk ia lakukan.
Ya, hiatus.
Aku akan hiatus.
Sampai waktu yang tidak bisa kutentukan.
Mungkin itu terdengar egois, dan tidak adil bagi Zhuocheng. Tapi apa bedanya sekarang, bahkan jika dia tidak memutuskan untuk berhenti, dia tetap tidak akan bisa menuliskan apa pun.
Apa yang bisa diharapkan dari otak kalutnya yang nyaris depresi karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Sekali lagi, tiupan angin mengibarkan blazer panjang putih yang ia kenakan malam ini. Syal hitam yang melilit di lehernya melambai-lambai, tetapi tubuhnya nyaris tidak bereaksi terhadap panas atau dingin.
Xiao Zhan benar-benar tenggelam dalam pikirannya yang gelap tak berdasar.
//7 jam sebelumnya//
"Apa?! Hiatus??" Zhuocheng menjerit.
Dia nyaris memukulkan tinjunya ke permukaan meja. Tetapi melihat meja itu terbuat dari kaca, dia khawatir pukulannya yang sarat amarah akan menciptakan retakan sehingga mengharuskannya untuk ganti rugi.
Jadi, dia mengalihkan tinjunya ke tepi sofa.
"Apa maksudmu dengan hiatus?!" dia menyalak lagi.
Keduanya kini duduk berhadapan di ruang tamu apartemen Xiao Zhan.
Editor itu, entah dari mana ia menemukan kesabaran yang tiba-tiba sehingga bisa membujuk Xiao Zhan untuk keluar dari ruang kerja yang gelap, mencuci muka dan membuat secangkir kopi untuk memulihkan moodnya yang hancur berantakan.
"Aku ingin menghentikan novel ini," gumam Xiao Zhan lemas, tetapi cukup untuk membuat Zhuocheng kembali ke sifat alaminya.
Kesabaran yang muncul sejam yang lalu sudah tercampak ke tempat sampah.
"Kau benar-benar sudah gila, Zhan!"
Zuocheng meremas rambutnya, kerutan di kening dan sudut mulutnya sangat jelas dan dalam.
"Maafkan aku..." desah Xiao Zhan. Dia benar-benar tulus menyesali keputusan ini.
"Astaga! Dengar, kau harus periksa ke dokter!" sembur Zhuocheng.
"........."
"Jangan menunjukkan wajah naif seperti itu padaku. Habiskan kopimu, kita harus ke dokter!"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐢𝐝𝐧𝐢𝐠𝐡𝐭 𝐌𝐞𝐦𝐨𝐫𝐢𝐞𝐬
Misteri / ThrillerKasus pencurian berantai yang ditulis Mr. Sean dalam novel terbarunya ternyata menyeret dia pada pusaran kasus yang persis sama dan terjadi di dunia nyata. Mungkinkah ada seorang copycat di luar sana yang menghidupkan kisah fiksi yang ia tulis. Lant...
