Kasus pencurian berantai yang ditulis Mr. Sean dalam novel terbarunya ternyata menyeret dia pada pusaran kasus yang persis sama dan terjadi di dunia nyata. Mungkinkah ada seorang copycat di luar sana yang menghidupkan kisah fiksi yang ia tulis. Lant...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika Xiao Zhan masuk ke ruang tengah apartemennya, Vivian sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Aku tidak tahu kalau Anda menginap di luar," dia berkata sambil hilir mudik merapikan alat masak dan piring gelas yang baru dibersihkan.
"Aku terjebak masalah." Xiao Zhan duduk lemas di sofa.
"Kopi?"
"Seperti biasa."
Xiao Zhan menatap nyalang langit-langit ruangan, mendadak teringat sesuatu. "Vivian, bisakah kau dapatkan surat kabar edisi dua bulan yang lalu?"
Wanita itu berhenti sejenak dan menatap aneh. "Akan sulit mendapatkannya, anda coba saja di halaman pencarian internet, arsip berita."
Xiao Zhan menampar dahinya. "Kenapa tidak terpikirkan olehku, otakku benar-benar buntu. Oh ya, aku ingin berlangganan surat kabar, bisakah kau mengurusnya?"
"Anda ingin surat kabar apa?"
"Apapun."
Vivian memutar bola matanya. "Bisa tidak membuatnya lebih sederhana?"
Xiao Zhan berpikir sejenak. "Yang paling mudah, mungkin harian New's week, satu lagi, tabloid The Guardian."
"Aku akan mengurusnya."
"Terima kasih."
Kopinya datang lima menit kemudian. Vivian menaruhnya di meja di depannya, pelayan itu terkesiap sekilas, lalu mengatupkan bibirnya. Menahan tawa.
"Anda menginap di rumah pacar?" tanya Vivian masih dengan senyum yang ditahan.
"Bukan urusanmu." Xiao Zhan mendesis kesal. Pelayan itu membalikkan tubuh sambil tertawa tertahan.
Sialan... dengus Xiao Zhan.
Pasti Vivian melihat kissmark ini.
~ • ~
Matahari sudah mulai cerah dan sepenggalan naik saat Wang Yibo melompat dari dalam mobil dan berjalan cepat menuju villa keheningan. Dia bergegas ke kamarnya yang telah dibersihkan oleh Zhang Bin. Tidak ada jejak-jejak perbuatannya semalam. Sprei sudah rapi dan diganti dengan yang baru. Pemuda itu berbaring di tempat tidurnya. Memejamkan mata dan menenangkan sarafnya.
Aku telah melakukan transaksi terakhir, bisiknya dalam hati.
Dia menyusupkan jemari ke sela sela belakang kepalanya. Dia membayangkan sebuah adegan, ayahnya membawanya berkeliling dunia dan menaiki gondola di Venezia. Sementara ibunya menceritakan kisah-kisah para seniman kaya maupun miskin yang pernah melewati kanal-kanal indah di kota itu. Lalu mereka mendatangi seniman jalanan, dia dan kakaknya memaksa untuk mencoba alat lukis hingga tangan mereka belepotan cat.