Sebelum Cedric, dan ketiga pejuang lain nya menuju lapangan Quidditch yang sama sekali tidak dikenali dan terkesan seperti bukan lapangan Quidditch, Steph sekarang sedang berdiri di dalam lubang pintu masuk ke maze. Lorong-lorong yang sangat amat gelap sekali, tetapi hanya ada diri nya dengan Cedric, dan ketiga pejuang lain nya yang sedang berjalan menuju lapangan.
"Semoga sukses, Ced." Steph berkata dengan air mata yang bercucuran, mengelus-eluskan wajah Cedric dengan gemetar, tetapi kelihatan nya Cedric tidak menyadari bahwa Steph senang menangis, karena sangkin gelap nya lorong ini.
Samar-samar dalam kegelapan Cedric tersenyum dan menarik tubuh Steph kedalam pelukan tubuh nya yang sangat hangat, dan Cedric membelai lembut rambut pirang Steph sambil mencium ujung kepala nya.
Dia tahu bahwa selama berpacaran dengan Cedric, hal ini terus dilakukan nya kepada Steph, namun Steph benar-benar menyukai perlakuan ini...
Senyuman nya, pelukan hangat nya, bibir nya, sentuhan lembut nya pada rambut Steph...
Bisakah dia mengatakan bahwa sejauh ini Steph menjadi gadis paling beruntung memiliki Cedric Diggory?
Hening.
Saling terdiam, dan tampak nya memang tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai, dan kini Steph berjinjit karena Cedric sangat amat tinggi dari nya, Steph menaruh kedua tangan nya di leher Cedric dan mereka berciuman dalam keheningan tak bersuara.
Cedric melepaskan ciuman itu ketika dia merasakan pipi nya bertemu oleh pipi Steph yang berair, "Kau menangis?"
Dengan cepat Steph mengusap-usapkan air mata di wajah nya dan menggeleng cepat, "Yeah, tapi bukan saat nya kau memikirkan persoalan kenapa ku menangis, kan?"
Cedric hanya terkekeh, dan dengan cepat Steph berkata lagi, "Nah, udah sana cepat, Harry juga sudah tiba di maze nya."
Cedric mengangguk samar, dia kembali membelai rambut Steph dengan lembut, dan dengan cepat dia berkata, "Baiklah—Sampai ketemu nanti, Steph."
Steph tersenyum ketika sudah melihat bayangan Cedric yang menghilang menuju lapangan maze.
Dengan segera Steph menaikki undakan tangga menuju tempat duduk penonton yang ternyata sudah terisi dan penuh sekali, Steph sangat kebingungan mencari ibu nya, Molly—yang juga datang untuk menonton dan memberi dukungan penuh kepada Harry pada tugas ketiga ini.
Steph berdesakan dengan segerombolan murid-murid Slytherin yang sedang mencari tempat duduk mereka. Dan salah satu dari mereka yang paling menonjol—siapa lagi kalau bukan Pansy Parkinson?
"Oh lihat siapa di depan ku sekarang," Pansy menyeringai dan menatap Steph dengan tatapan hina, namun sepersekian detik kemudian dia tertawa.
"Ada apa dengan mu? Apakah kau menangis karena baru saja di putusin oleh Diggory, karena Diggory baru sadar bahwa selama ini kau jelek, dan kau memberi nya Ramuan Cinta?" Pansy tertawa keras, tetapi hanya beberapa anak Slytherin yang terkekeh.
Sisa nya sekitar 15 anak Slytherin kebingungan bahwa mereka tidak bisa menemukan sisi jelek rupa nya Steph, bahkan jika bisa dibilang, Steph jauh lebih cantik dari Pansy.
"Kurasa Diggory sudah sadar bahwa dia mengencani cewek jelek dan Darah-Pengkhianat seperti mu—"
"Minggir." Steph berkata dingin, dan menggeser tubuh Pansy dengan kasar, dan hampir saja Pansy terpleset jatuh dan Steph sama sekali tidak peduli tentang hal itu.
Pansy berteriak marah dan dengan segera Pansy menarik rambut Steph dan menjambak rambut pirang Steph dengan kuat sekali.
Steph menjerit kesakitan sekali, rupanya jambakan Pansy benar-benar tak ada beda nya dengan kutukan Cruciatus yang begitu menyiksa kepala nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IDENTITY | d. malfoy
Fanfiction17+ Everyone knew, she's something... with Draco. But, you sure you want to judge them? You don't know their background. | BAHASA INDONESIA | *** 2021 © graceeen1 don't copy my story and be a smart reader.
