"Kenapa? Apakah aku bukan anak kalian? Sehingga kalian menyembunyikan segala sesuatu dari ku?"
"Bukan begitu masalah nya, Steph." Arthur berkata dengan sabar, berusaha tetap tersenyum kaku kepada anak nya.
"Lalu, apa, hm?"
"Baiklah jika kau benar-benar keras kepala," Arthur beranjak dari duduk nya, melewati pohon Natal, dan memegang bahu putri nya dengan lembut sambil berkata, "Kau-Tahu-Siapa ingin menyerang mu beserta Pelahap Maut yang lain nya. Mereka mengira kalau kau adalah (Y/N) yang selama ini masih hidup, kami dan anggota Orde Phoenix melindungi mu dan Harry.
"Sampai sini sudah paham kan, Nak—jangan salah mengartikan, oke?"
Steph kembali tersenyum cerah, dengan lega dan mengangguk, "Maaf, Mum—Dad, aku hanya terbawa emosi saja tadi."
"Tidak masalah," Arthur tersenyum kepada putri nya, dan Steph membalas tersenyum simpul.
"Banyak pelanggaran yang telah kau perbuat di Hogwarts ya, Steph!" Tukas Molly dengan wajah memerah galak, Steph menduga, bahwa sepertinya Fred dan George adalah pelaku nya yang baru saja membocorkan kenakalan Steph selama ini kepada ibu nya.
"Tidak terlalu banyak sebenarnya, hanya satu atau dua pelanggaran, Mum, percayalah—"
"Mungkin maksud mu seratus dua pelanggaran mu karena telah membuat banyak keributan?" Fred berkata dengan pedas.
"Shut up." Kata Steph dengan tajam.
"Masih syukur kalau murid macam kau tidak dikeluarkan." Timpal George sambil memeletkan lidah nya 'wlee' kepada Steph.
"Setidak nya aku tidak pernah membuat produk eksperimen tolol yang tidak berguna untuk meracuni orang lain, seperti kalian!" Gertak Steph sambil menatap tajam kedua kakak kembar nya.
"Kata siapa kami meracuni orang lain?"
"Tidak tuh?"
Saat Steph ingin melakukan perlawanan untuk menampar kedua kakak nya menggunakan tangan nya, dengan cepat Ginny menarik tangan Steph, "Sudah beratus kali dengan tangan mu—kau menampar orang lain." Ginny berkata dengan malas.
"Benar itu?" Molly semakin naik darah dan meninggikan suara nya dengan sangat keras, "Kau tidak boleh menampar orang lain! Tidak sopan namanya, dan seharusnya kau tidak mengata-ngatai Profesor mu! Astaga benar-benar keterlaluan."
"Aku tidak menghina nya, aku hanya berbicara sebuah fakta kenyataan nya, bahwa Umbridge
memiliki wajah mirip dengan seekor kodok."
"Yeah, terkadang aku menyukai kejujuran mu," Ron tertawa pelan.
"Tapi sama saja kau tidak boleh berkata seperti itu!" Geram Molly, "Lihat saja, sampai aku mendengar—kau buat masalah lagi, mending kau putus sekolah saja!"
"Astaga, Molly...pelan kan suara mu, jangan seperti itu...sabar..." Arthur berkata dengan suara seperti bisikan, sambil mengelus-eluskan tangan istri nya.
"Bagaimana bisa sabar jika aku memiliki anak tukang cari masalah di Hogwarts. Profesor McGonagall sampai mengirim surat kepada ku sangkin nakal nya Steph!" Molly berkata dengan nafas naik-turun sangkin galak nya.
Steph malah tertawa pelan dan berkata, "Aku sebenarnya tidak nakal, hanya saja aku menikmati masa muda ku yang menyenangkan—tidak seperti Profesor Snape."
"Astaga jaga mulut mu, jangan berbicara seperti itu lagi!" Molly kembali duduk sambil menatap tajam anak nya, "Kau tidak boleh bersenang-senang! Kau harus belajar giat untuk ujian OWL mu!"
"Aku tahu, Mum—tidak usah marah-marah juga," Steph berkata dengan pelan, sambil terkikik-kikik.
"Nilai mu semakin kesini semakin hancur dan menurun, Stephane. Seharusnya sekarang ini kau tidak usah pacaran-pacaran dulu! Fokus belajar yang giat untuk ujian OWL!"
KAMU SEDANG MEMBACA
IDENTITY | d. malfoy
Fanfiction17+ Everyone knew, she's something... with Draco. But, you sure you want to judge them? You don't know their background. | BAHASA INDONESIA | *** 2021 © graceeen1 don't copy my story and be a smart reader.
