"Toko Fred dan George masih tetap buka saja? Setengah gang sudah tutup." Hermione membuka pembicaraan setelah mereka berempat keluar dari toko lelucon Weasley yang sangat ramai pengunjung itu.
"Menurut perkiraan Fred, orang perlu sesuatu yang lucu akhir-akhir ini," Steph menjawab sambil menggandeng tangan Harry, tangan kiri Harry nya lagi memegang kantong plastik yang sangat berat dan besar, yang secara keseluruhan nya berisi belanjaan Steph dari toko lelucon Weasley itu.
"Kurasa dia benar," Ron menimpali seraya mencuri pandang sinis kepada Steph dan Harry yang bergandengan tangan dan sangat dekat sekali.
"Oh tidak!" Jerit Hermione saat mereka tiba di toko Ollivander yang sudah tidak berpenghuni dan bangunan nya sangat hancur, "Semua murid membeli tongkat sihir dari toko Ollivander."
Harry dan Steph berjalan lebih dulu dan Harry membuka pintu toko itu lebar-lebar sehingga erlihat jelas bahwa memang tidak ada seorang pun di dalam nya, mereka masuk kedalam tempat itu dalam diam dan tidak berbicara, melainkan hanya memandang sekeliling ruangan dengan kebingungan.
Steph melepaskan genggaman tangan Harry ketika dia melihat keluar jendela, wajah nya memucat pasi dan segera saja dia memanggil, "Harry? Aku memiliki firasat, bahwa sepertinya Draco dan ibunya seperti menyembunyikan sesuatu sehingga tampaknya mereka tak ingin diikuti?"
"Ralat, dia kan ibu kandung mu juga." Ron berkata sambil ikutan memandang keluar jendela, Draco dan ibu nya memandang gusar ke sekeliling dan segera saja mereka cepat-cepat masuk ke terowongan gelap yang Steph tahu bahwa lorong itu menuju Knockturn Alley.
Steph memasuki lorong gelap itu terlebih dahulu, diikuti oleh Harry, Ron dan Hermione yang berbaris di belakang nya.
Tampak sekali lorong itu sangat familiar di benak Steph, membuat dirinya berhenti berjalan dengan tubuh gemetar hebat, nafas gugup dan mata yang bengkak berair, seolah-olah dia tidak mampu untuk melewati jalan ini lagi.
"Kenapa kau berhenti? Ayo jalan terus, nanti kita kehilangan jejak si Malfoy dan ibu mu." Desak Ron, tetapi lama kelamaan suara itu mengecil, dan menghilang dari pendengaran nya, kedua tangan nya memegang kepala nya berusaha untuk menghindari rasa trauma nya kali ini.
Bayangan masa lalu nya, yang merupakan trauma terbesar nya, menghampiri nya lagi kali ini, dengan muncul nya cahaya gelap yang sangat buram.
Seorang anak perempuan bertubuh pendek, memakai jaket berwarna pink yang sangat kebesaran, seraya membawa tas ransel nya berwarna cerah, dengan hiasan rambut manik-manik nya yang berwarna hijau, dan rambut pirang nya di kuncir rapi dengan ikatan pita.
Anak kecil itu dibawa ke lorong sangat gelap, dia dapat melihat samar Bellatrix yang memberi tatapan jijik kepada anak itu, seolah-olah bahwa bagi nya anak cantik dan manis itu adalah sampah dan tidak berguna.
"Ayo cepat lakukan, Cissy, tunggu apa lagi!" Tutur Bellatrix dengan wajah merah padam, sangkin kesal nya kepada adik nya.
Narcissa menunduk kearah putri kesayangan nya, dan memeluk nya untuk terakhir kali nya, "Suatu hari nanti, dia akan tahu yang sebenarnya."
Bellatrix terbelalak kaget dan mengatakan, "Apa? Apa maksud mu Cissy? Kau bilang ini adalah alternatif terbaiknya agar Pangeran Kegelapan—"
"Dia berhak tahu, jika dia sudah besar, dia harus tahu kebenaran nya," Narcissa berkata dengan sabar, memandang Bellatrix dengan sedikit jengkel, "Kau tidak berhak mengatur, Bella, dia anak ku."
KAMU SEDANG MEMBACA
IDENTITY | d. malfoy
Fanfiction17+ Everyone knew, she's something... with Draco. But, you sure you want to judge them? You don't know their background. | BAHASA INDONESIA | *** 2021 © graceeen1 don't copy my story and be a smart reader.
