Steph berbaring diatas kasur, memunggugi Fred dan George Weasley yang sedang duduk di samping tubuh Steph, atas tempat tidur ganda.
Dia sambil mengawasi burung hantu nya yang berada di dalam kandang, dekat dengan kandang burung hantu Harry. Steph dapat mendengar Hermione yang baru saja menjerit nama Harry dan memeluk nya dengan erat, begitu juga Steph dapat mendengar suara menyeringai dari Ron yang tampak nya sangat lega dengan kehadiran Harry.
Steph tahu Harry baru saja sampai kesini, dan tampak nya Steph tidak menujukkan pergerakan bahwa dia akan dengan senang hati menyambut Harry seperti dulu.
"Apakah kau baik-baik saja? Kami dengar mereka berbicara tentang serangan Dementor. Ceritakan semua nya kepada kami." Hermione berkata dengan nafas terengah-engah ketika melepaskan pelukan Harry.
"Biarkan dia bernafas dulu, Hermione." Ron menyeringai.
"Dan sidang di Kementrian itu sungguh tidak masuk akal. Aku sudah melihat nya, mereka tidak bisa mengeluarkan mu. Itu benar-benar tidak adil!" Hermione berkata dengan khawatir, namun Harry berjalan melewati mereka berdua.
"Yeah, itu barusan yang kudengar—Jadi tempat apa ini?" Harry bertanya sambil memandang sekeliling.
Namun tak sepenuh nya dia memandang tempat ini, dia hanya berfokus kepada Steph yang terbaring diatas tempat tidur, menutup seluruh tubuh nya dengan selimut, wajah nya yang menatap kearah jendela luar, berusaha menolak segala percakapan mereka dan seolah-olah menunjukkan bahwa dia tidak menginginkan kehadiran Harry ke dalam ruangan ini.
"Ini markas—"
"Orde Phoenix," Potong Hermione dengan cepat, "Sebuah perkumpulan rahasia. Dumbledore membentuk nya ketika mereka melawan Kau-Tahu-Siapa."
"Apa tak ada yang bisa menulis surat untuk ku?" Tanya Harry, tetapi pandangan nya terus menatap Steph yang masih terbaring tidak bergerak, melainkan mata Steph terus menatap keluar jendela.
"Aku tak dapat berita apa-apa selama musim panas." Harry berkata dengan suara yang lebih keras, dan kembali menatap Ron dan Hermione yang cemas.
"Kami ingin menulisnya, sungguh." Ron berkata dengan wajah gemetar ketakutan.
"Hanya saja Dumbledore melarang kami untuk tak mengatakan apapun kepada mu." Hermione berkata dengan cemas.
"Tapi kenapa ia tak mau menjelaskan kepada ku? Mungkin aku bisa bantu. Lagi pula aku yang pertama kali melihat Voldemort kembali aku yang di hajar nya. Aku yang melihat Cedric Diggory terbunuh—"
Steph mendelik samar dengan tajam kepada Harry, namun dia berusaha menahan itu dengan kembali pura-pura tertidur.
"A-aku hanya ingin bertanya," Harry berkata dengan kaku, "Steph—dia sedang tertidur, ya—"
"Oh tidak!" Sambar Ron yang kelihatan nya bergairah sekali untuk kembali menghina Steph, "Bocah tolol yang setiap hari menangis cuma karena Diggory mati." Ron terkekeh.
"RON!" Hermione berteriak dengan kesal, "Tidakkah kau kasihan dengan Steph? Bayangkan saja misalnya kau punya pacar, nah terus pacar mu mati. Tentu kau akan sangat berduka, apanya dari itu tutup mulut mu—"
"Engga tuh biasa saja," Potong Ron dengan santai, "Kalau aku punya pacar, terus pacar ku mati, yaudah ganti pacar baru, gampang."
"Itu berarti kau tidak sungguh-sungguh mencintai nya!" Gertak Hermione dengan kesal, "Steph benar-benar tulus dengan Cedric, dan ketika dia kehilangan Cedric, wajar jika dia menangis setiap hari, dan.."
"Dan kau tidak tahu rasa sakit itu karena kau tidak pernah sungguh-sungguh mencintai orang lain dengan tulus!" Timpal Hermione lagi dengan puas.
KAMU SEDANG MEMBACA
IDENTITY | d. malfoy
Fanfiction17+ Everyone knew, she's something... with Draco. But, you sure you want to judge them? You don't know their background. | BAHASA INDONESIA | *** 2021 © graceeen1 don't copy my story and be a smart reader.
