Anak perempuan berusia 14 tahun, berusaha untuk tetap tidur, menutup tubuh nya dari atas sampai bawah dengan selimut tebal, menolak cahaya panas matahari yang menusuk dari luar jendela yang sudah di buka lebih dulu oleh ibu nya.
"Oh astaga lihat anak itu! Pemalas sekali," Keluh Molly Weasley sambil menuangkan sup yang masih panas ke dalam mangkuk besar, diantara piring-piring yang sudah tertata.
"Ron—tolong bangunkan Steph, suruh dia sarapan, ini sudah jam sembilan, dia belum bangun dan terus saja tidur di kamar!" Molly mencibir dengan cerewet, seraya dia menuangkan sup yang berisi jamur, kacang, dan tomat kepada piring Fred.
Ron dengan segera bergegas menaikki anak tangga pualam yang terbuat dari kayu, dan membuka pintu kamar Steph yang sama sekali tidak dikunci oleh nya.
Dia awalnya kebingungan untuk mencari keberadaan Steph, namun dia menyadari bahwa kasur gadis itu tepat di dekat jendela yang dibuka lebar-lebar, sehingga cahaya matahari menerangi ruangan kamar Steph yang sangat panas.
Dengan cepat Ron menarik selimut tebal adik nya, memperlihatkan Steph yang sedang tertidur pulas, wajah nya putih pucat biasa, dan dia mengigau.
"Kukira kau sudah mati, lagian tidak ada tanda-tanda kehidupan di kamar mu ini!" Ron berkata dengan keras-keras, namun tetap saja Steph belum bangun, dan malahan dia menarik selimut nya lagi untuk tidur.
"Demi Celana-Merlin, BANGUN!" Sambar Ron dengan suara yang hampir sama dengan teriakan orang histeris, membuat Steph membulatkan mata nya tiba-tiba dan terkejut.
"Ahhh, kukira siapa!" Cibir Steph dengan kesal, "Aku masih ngantuk, kau tahu—kemarin, tengah malam, sampai subuh, aku bermain judi dengan Fred dan George."
"Yeah, mungkin hal itu akan semakin sempurna jika Mum mengetahui uang tabungan mu dipakai untuk berjudi dengan kakak-kakak mu!" Ron berkata dengan puas, sementara alih-alih, mereka dapat mendengarkan suara Molly Weasley yang semakin keras dari bawah dapur.
"JIKA KAU TIDAK SANGGUP UNTUK MEMBANGUNKAN ADIK MU, AKU YANG AKAN MENGHADAPI NYA—SEKARANG KAU TURUN MAKAN!" Teriak Molly dengan suara yang dapat dibayangkan betapa marah nya dia.
"Sudahlah, Molly, sudah...dia akan bangun...kau habiskan sarapan mu dulu, aku yang akan membangunkan nya.." Arthur berkata dengan pelan, berusaha menenangkan istri nya, sementara Fred dan George terkikik-kikik senang, melihat kemarahan ibu nya.
"AKU SUDAH BANGUN, TIDAK USAH MARAH-MARAH JUGA!" Teriak Steph dengan suara kesal, bangkit dari tempat tidur nya dan berjalan keluar dari kamar, diikuti oleh Ron yang hanya menggeleng-geleng kepala keheranan.
Mereka berdua menuruni setiap anak tangga, rambut merah Steph yang masih sangat berantakan dan acak-acakan seperti tidak pernah keramas atau pun di sisir.
Wajah nya putih pucat galak, mata abu-abu nya yang dingin, sangat mirip dengan ayah kandung nya, Lucius.
Keseluruhan penampilan nya, Steph hanyalah gadis biasa yang tidak begitu cantik jika dibandingkan dengan adik nya Ginny yang jauh lebih cantik dari nya.
"Astaga lihat, rambut mu sudah berapa tahun tidak disisir, Steph?" Percy meledek sambil terkekeh pelan, setelah dia menelan daging ayam ke dalam mulut nya, yang dimakan dengan kuah sup jamur.
"Diam, Perce. Rambut mu jauh lebih jelek dari ku, kau keriting!" Balas Steph dengan wajah galak, menarik kursi dengan kasar dan duduk, mengambil piring yang sudah berisi sup, yang berisi kentang, tofu dan salat.
"Sudah-sudah, sekarang ayo cepat makan!" Molly berkata dengan terburu-buru, "Ron—Fred dan George ayo cepat habiskan sup nya. Kalian harus mengantar Harry, sementara ayah mu sedang menyiapkan bubuk Floo nya."
KAMU SEDANG MEMBACA
IDENTITY | d. malfoy
Fiksi Penggemar17+ Everyone knew, she's something... with Draco. But, you sure you want to judge them? You don't know their background. | BAHASA INDONESIA | *** 2021 © graceeen1 don't copy my story and be a smart reader.
