Kita diberi penyesalan agar kita bisa belajar dari kesalahan dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
-Kinanti Delila
•••
SETELAH mendatangi makam orang tua Raga, Aileen meminta kepada Kinan untuk memberikan waktu untuknya sendiri. Ia menghabiskan waktunya untuk merenungi kesalahannya dan meluapkan semua kesedihannya. Ia sangat menyesali keegoisannya yang selalu bertindak semaunya. Bahkan ini bukan kali pertama, sudah yang kesekian kalinya ia berlaku egois terhadap Raga.
Di pagi hari setiap ia terbangun dari tidur, ada secuil harapan ketika membuka jendela kamarnya. Berharap seseorang di seberang sana berdiri sembari menatap ke arahnya. Namun, kenyataannya semua hanya bayangan. Raga sudah tidak berdiri di depan jendela dengan kertas HVS bertuliskan 'You Ok?'
"Tenanglah, jangan takut. Aku di sini."
Setiap kali gelap dan traumanya tiba-tiba datang. Akan ada tangan yang terulur untuk memeluknya. Akan ada Raga untuk menenangkannya.
"Jangan pernah menangis tanpa bahu gue."
Kembali teringat, di saat dunianya terasa berhenti karena mengetahui laki-laki pertama yang ia cintai telah menghianatinya dan membuat Mommynya hilang kewarasan. Raga juga selalu menguatkannya.
"Are you Ok?"
Pertanyaan itu yang selalu Raga ucapkan ketika ia sedang tidak baik-baik saja.
"Tetaplah jadi Lilin yang lemah, agar gue selalu bisa jadi Raga yang kuat buat lo."
Raga akan selalu siap di saat ia membutuhkan sebuah pelukan, dan berada di dekapan Raga bisa membuatnya merasa tenang.
"Tanpa lo minta, gue akan selalu ada buat lo."
Tangis Aileen pecah, semua yang Raga perbuat untuknya tidak pernah ia hargai. Bahkan, terakhir kali ia bertemu dengannya.
"Jangan temuin Lilin lagi!"
Bahkan, di saat Raga menghampirinya dan menangis dalam dekapannya. Ia tidak mengijinkan Raga untuk mengatakan sepatah-katapun. Keegoisannyalah yang membuat Raga meninggalkannya.
"Raga, senyumanku hilang lagi," lirih pedih Aileen di dalam hatinya.
Satu-persatu kenangan bersama Raga teringat di memori, membuat dadanya semakin sesak. Sekuat apapun ia berusaha untuk tidak mengingatnya, namun setiap tempat yang ia lewati selalu mengingatkannya pada sahabatnya, pada Raganya.
Memang seperti itu.
Di saat seseorang itu masih ada, kita hanya fokus terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Namun, di saat ia sudah pergi. Hal yang kita ingat hanyalah kebaikan-kebaikannya yang membuat kita ingin ia kembali. Memang lucu.
Memang seperti itu.
Kita baru merasa seseorang itu berarti, ketika ia sudah tidak di sisi kita lagi.
•••
"Lo galau siang malam, Raga juga gak bakal tahu di sana." Kinan yang duduk di tepi ranjang , "Lebih baik lo perbaiki hidup lo, dengan cara menghargai siapa yang berada di sisi kamu sekarang." Kinan memberi motivasi kepada Aileen.
"Kin, Lilin nyesel." Aileen yang masih tengkurap di tempat tidurnya dengan kotak catur dan beberapa pemberian Raga, "Lilin pengen Aga balik."
"Cup, cup, cup!" ujar Kinan sembari menepuk-nepuk pantat Aileen, mencoba menenangkan."Kita diberi penyesalan agar kita bisa belajar dari kesalahan, dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA RINDU (SELESAI)
Ficción General"Perihal Persahabatan, Luka, dan Cinta." Kupersembahkan AKSARA RINDU Aileen Nathania memiliki Ragaskara Daniel sahabatnya yang selalu berada di sisinya sejak kecil. Gadis itu selalu bergantung kepada laki-laki itu, bahkan hal kecil seperti mengikat...
