Tidak ada akibat tanpa sebab.
-Galang Abishar
•••
GADIS itu menghentikan langkahnya saat kakinya berpijak di lantai bawah. Ia menatap nanar punggung mamanya yang duduk sendiri di sudut ruangan.
Jika terlihat ceria di sekolah, berbeda dengan di rumah. Ia selalu merasakan kesedihan yang luar biasa. Setiap pagi, ia harus mendapati mamanya hanya duduk diam melihat ke arah luar jendela.
Kakinya melangkah, mendekati mamanya dan memeluknya dari belakang.
"Morning, Mom!" sapa Aileen kepada wanita itu.
Lagi, kekecewaan itu kembali ia rasakan. Untuk yang kesekian kalinya, wanita paruh baya itu tidak menghiraukan kehadiran dirinya.
Aileen tersenyum perih, matanya berkaca-kaca. Entah sampai kapan mamanya mendiaminya seperti itu. Ia sangat merindukan sosok mamanya yang dulu. Sosok wanita yang selalu memberikan senyum dan omelan padanya.
Tanpa terasa, air mata itu kembali membasahi pipinya. Membuat dadanya semakin sesak. Andai saja mamanya sehat, ia akan menjadi orang pertama yang berusaha menghibur putrinya.
"Mom, Lilin ke sekolah dulu. Baik-baik di rumah, ya." Gadis itu mencium pipi Nia dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Ia melangkah membelakangi mamanya, lalu menoleh ke arah dapur.
"Bi, Lilin sekolah dulu. Titip Mommy, ya, Bi?" teriaknya.
"Siap, Non! Belajar yang rajin!"
Pintu terbuka, Aileen tersenyum saat pandangannya menangkap sosok Raga yang sudah berdiri di depan rumahnya. Ia melambaikan tangan pada laki-laki itu.
Gadis itu berjalan ke arah Raga, dan berhenti tepat di depannya. Ia mengembungkan pipinya sembari meremas jari-jemarinya.
"Kenapa muka lo? Jelek amat," cetus Raga.
Aileen mencebikkan bibirnya, "Emang sahabat gak ada akhlak!" umpatnya.
Tanpa aba-aba Raga berlutut di depan Aileen, langsung mengikatkan tali sepatu Aileen. Setelah itu kembali berdiri dan memasangkan helm di kepala gadis itu.
"Buruan!" ujar Raga dan naik ke atas motornya.
Aileen mengulum senyum, lalu mendudukkan dirinya di boncengan motor Raga. Ia menusuk-nusuk punggung Raga dengan jail.
"Aa' Agaaa, Oh Aa' Agakuuu," panggilnya dengan manja.
"Apa?!
"Galak banget, sih, Ga." Aileen menyandarkan kepalanya pada punggung laki-laki di depannya.
Raga mengerutkan alisnya, "Lo kenapa?"
Gadis itu tersenyum, "Rumah itu gede banget, ya?" Ia menunjuk rumahnya sendiri.
Tanpa menjawab, Raga menyalakan motornya.
"Woah, gede banget, Ga!" Aileen menggedor-gedor pundak Raga. "Tapi sunyi, kek kuburan!" ujarnya sambil tertawa.
"Rasanya pengen aku bakar, supaya ramai." Aileen tertawa sendiri.
Raga mengangkat sudut bibirnya, saat melihat ekspresi Aileen dari kaca spion. "Jangan mulai, deh."
"Oh, iya." Aileen memperbaiki posisi duduknya, lalu menepuk-nepuk belakang Raga. "Kuy, beraaangkat!"
Detik berikutnya, motor scoopy itu melaju menjauh dari rumah mewah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA RINDU (SELESAI)
Ficción General"Perihal Persahabatan, Luka, dan Cinta." Kupersembahkan AKSARA RINDU Aileen Nathania memiliki Ragaskara Daniel sahabatnya yang selalu berada di sisinya sejak kecil. Gadis itu selalu bergantung kepada laki-laki itu, bahkan hal kecil seperti mengikat...
