SAYA JANJI BAKALAN VOTEE--!!
•••
Samuel menghela napas panjang, ia menyenderkan punggungnya di sofa milik Randy. Rumah cowok itu menjadi pelariannya. Namun, sialnya cowok itu tengah makan berdua dengan istrinya.
"Sini, gue cuci dulu." Fia merapikan piring-piring nya. Tapi tangannya ditahan oleh Randy.
"Lo katanya nggak enak badan. Sana istirahat, biar gue aja."
"Gue bisa, Ran. Tuh temenin Sam." Fia mengambil alih piring-piring itu. Randy menurut saja, ia menatap Samuel lalu menghampirinya. Samuel tampak jengah melihat Randy dengan Fia.
Sengaja, Randy sengaja tidak mengajak Samuel makan bersama. Pertama, cowok itu sudah pasti menolak. Kedua, Randy hanya ingin berduaan dengan Fia.
"Kenapa lo ke rumah gue?" tanya Randy.
"Di rumah Bunda gue ceng-cengin gue terus," jawab Samuel jujur. Randy tertawa kecil.
"Kenapa? Di ceng-cengin sama siapa lo?"
"Anya." Randy dan Fia membulatkan matanya. Randy menepuk kencang lengan Samuel. Membuat Samuel langsung melotot.
"Jelasin, hubungan lo sama Anya apa sih?"
"Gatau," jawab Samuel acuh.
"Anya gue tanya juga acuh. Kalian kalau saling suka ngobrol aja sama kita, ya Ran?" ucap Fia meminta persetujuan Randy. Randy mengangguk antusias.
"Yoi lah. Kita bakalan bantuin kok."
"Gue ada bilang suka sama dia?" tanya Samuel balik.
"Ya tapi-- aw," ucapan Fia terhenti. Perhatikan Randy dan Samuel langsung ke Fia. Gadis itu menjatuhkan piring. Randy langsung berdiri.
"Diam jangan gerak!" titah Randy. Fia yang hendak memungut pecahan piring itu pun lantas diam. Randy dengan sangat hati-hati berjalan mendekati Fia.
"Makanya, nurut kata suami. Istirahat ya istirahat."
Randy segera membopong tubuh Fia, gadis itu terkejut. Tapi Fia memilih diam, ia mengalungkan lengannya di leher Randy. Randy membawa Fia menuju kamar, tidak mempedulikan adanya Samuel.
"Sial. Salah tempat," gumam Samuel sembari mengusap wajah nya. Tak lama, Randy keluar dari kamar. Dan segera membersihkan pecahan piring itu.
"Kenapa lo?" tanya Randy sembari membersihkan pecahan piring itu.
"Nggak."
"Bentar, gue mau ngurus istri dulu." Randy masuk ke dalam kamar, membiarkan Samuel sendirian. Samuel mengacak rambutnya, ia memilih pergi dari rumah Randy.
Samuel membuka pintu rumah Randy. Ia terkejut melihat Anya ada di depan pintu.
"Lo ngapain?" tanya Anya, masih dengan seragam sekolah dan cardigan coklat. Samuel menghela napas panjang.
"Jadi cewek jangan main malem-malem."
"Lo ngatur gue?" Samuel tidak menanggapi, ia memilih acuh. Tiba-tiba Randy datang, menatap 2 orang itu dengan senyum liciknya.
"Oh, jadi rumah gue dijadiin tempat ketemuan? Wah! Udah janjian nih? Berarti bener dong ada something diantara kalian?"
"Bacot!" umpat Samuel dan Anya bersamaan. Lagi, Randy menatap keduanya dengan jahil. Randy menepuk pundak Samuel.
"Dah sana, kalau mau berduaan jangan di rumah gue. Ganggu gue juga," ucap Randy.
"Gue mau ketemu Fia. Bukan sama ini orang!" teriak Anya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Ficção Adolescente"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
