SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Anya mengedarkan matanya di penjuru rumah Samuel, mencari keberadaan Bu Rosa. Rasanya tidak enak ia hanya duduk saja, setidaknya sebagai 'pacar' Samuel, ia membangun hubungan baik dengan orang tua Samuel.
Toh, Samuel juga sedang mandi. Dibandingkan ia hanya duduk sendirian saja. Dan akhirnya ia menemukan Bu Rosa, yang tengah sibuk dengan tanamannya.
"Tante, aku gabung ya?" Bu Ros menoleh, terlihat begitu sedang dengan Anya. Bu Rosa mengulurkan tangannya, menyambut anak gadis itu.
"Kamu suka berkebun?" tanya Bu Rosa mencoba akrab dengan pacar putranya tersebut. Anya menggeleng pelan.
"Enggak, Tan. Tapi aku suka kok lihat bunga-bunga gini. Apalagi bunga punya, tante. Cantik," puji Anya yang semakin membuat Bu Rosa tersenyum lebar.
"Tante juga suka lihat bunga-bunga cantik ini. Apalagi pacar anak Tante yang nggak kalah cantik." Anya tersipu mendengar nya, ia mengambil selang yang disediakan untuk menyirami tanaman tersebut.
Anya mencoba terbiasa, nyatanya memang ia sangat jarang berkebun atau berurusan dengan tanaman seperti ini.
"Kalian tuh udah dekat lama? Ini pertama kalinya loh Samuel bawa temen cewek ke rumahnya," ucap Bu Rosa. Anya terdiam sejenak, ternyata cowok itu memang tidak terlalu dekat dengan banyak cewek.
"Lumayan lama tante," jawab Anya sopan.
"Awal pertemuan kalian tuh gimana? Di sekolah?" Anya tersenyum canggung, mengingat kembali awal pertemuannya dengan Samuel. Itu semua saat gantungan kuncinya masuk ke dalam got. Pertemuan yang kurang berkesan.
"Itu waktu Samuel lagi tawuran aku mintain tolong. Dan berlanjut sampai sekarang, Tante." Bu Rosa menoleh, sedikit terkejut.
"Jadi anak itu masih suka tawuran?" Anya menggigit bibir bawahnya, ia takut salah ngomong. Ia takut Samuel akan dimarahi, dan berimbas pada dirinya.
"Emm itu, tan--"
"Anya, bilangin ke dia, kalau mau tawuran pastiin kamu nggak terlibat dan kamu aman. Kabur aja kalau dia lagi berantem," ucap Bu Rosa memotong ucapan Anya, hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.
"Bunda," lirih Samuel sembari berjalan mendekati kedua perempuan itu. "Yang tawuran aku, kok bunda malah mengkhawatirkan dia?"
"Ya kalau kamu bisa jaga sendiri. Kalau Anya? Sekarang bunda tanya, kamu mampu nggak jagain pacar kamu?"
Samuel menoleh ke Anya, gadis itu terlihat pasrah dengan apapun. Atau lebih tepatnya sangat canggung. Samuel kembali menatap bundanya, mengulum senyum tipis. Lalu menggandeng tangan Anya.
"Mampu. Sekarang aku antar dia pulang dengan selamat," jawab Samuel tanpa ragu. Bu Rosa terus tersenyum, menepuk pundak Samuel.
"Jangan buat anak gadis itu nangis loh. Kalau kamu sampai menyakiti perempuan, hati bunda juga akan sakit. Bunda ngerasa gagal mendidik kamu sebagai lelaki."
Samuel menggenggam tangan bundanya, menatapnya dengan penuh yakin. Samuel melebarkan senyumnya. Tulus.
"Aku aja pacarin dia depan bunda. Aku nggak main-main sama hubungan aku, bund." Bu Rosa tersenyum hangat, begitu pun pada Anya. Sungguh jantung Anya serasa tidak normal. Bahkan ia masih tidak percaya jika mereka sudah pacaran.
"Pacaran boleh, sekolah juga diperhatikan ya. Bentar lagi kalian bakal sibuk ujian. Harus saling suport dan mengerti ya."
Keduanya menganggukkan kepalanya setelah diberi nasihat oleh Bu Rosa. Samuel menatap Anya sejenak, lalu menyalimi tangan bundanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Jugendliteratur"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
