SELAMAT MEMBACA KAWANN^
•••💜•••
Samuel masih menatap Anya dengan senyum di wajahnya, gadis nya sangat cantik. Samuel suka, suka wajah serius Anya saat menyetir seperti ini. Mereka memang beda, seharusnya Samuel yang menyetir dan mengantarkan pulang. Tapi, tidak masalah jika berganti bukan?
Perlahan, Samuel menepuk-nepuk kepala Anya. Lembut dan pelan. Itu membuat Anya sedikit tersenyum dan menoleh.
"An, jangan cemas sama kelulusan ya," ucap Samuel takut jika Anya mengkhawatirkan hal itu. Tapi khawatir itu pasti, maka Samuel menenangkan sekarang. Anya hanya bergumam saja menanggapinya.
"Kalau nggak peringkat satu, setidaknya ada usaha keras yang bisa lo bangga kan." Samuel memberi semangat, ditambah senyumnya yang tulus dan tidak pudar.
Anya menoleh, Samuel tahu akan ke khawatiran nya. Padahal Anya tidak menjelaskan, tapi Samuel tahu. Samuel mengerti dirinya. Samuel tetap sama, diam nya penuh dengan perhatian. Anya suka itu.
Anya ikut tersenyum, mengembuskan napas dengan lega. Ada ketenangan di hatinya, selalu seperti itu. Apa pun dari Samuel, akan tetap menenangkan Anya.
•••💜•••
Hari kelulusan tiba, yang sudah dinanti-nanti kan oleh banyak siswa. Di mana mereka akan segera lulus dan berpisah dari sekolah ini. Melanjutkan kehidupan baru, menjalani hal baru, tempat dan orang-orang baru. Mereka akan melakukan itu sebentar lagi.
Di hari ini pula, jantung mereka berdebar tidak karuan. Khawatir dan penasaran dengan hasil ujian mereka. Salah satunya Anya, sejak kemarin ia sudah cemas. Harapannya sangat besar, ia takut kecewa.
Namun, Anya tetap menenangkan dirinya. Yakin dan tenang. Jika tidak ada di peringkat pertama, setidaknya Anya sudah kerja keras. Anya patut bangga akan hal itu.
"Ya, Samuel bilang gitu," gumam Anya pada dirinya sendiri, mengingat kalimat Samuel. Ada senyum di wajahnya, menutupi ke khawatiran itu.
"An, ayo ke lapangan." Sandra berdiri dari bangkunya, mengajak Anya menuju lapangan. Anya menoleh ke jendela, melihat lapangan yang sudah ramai orang.
Anya tahu di bawah sana pasti orang tua nya juga hadir. Semua murid, guru dan wali murid berkumpul. Suasana seperti itu semakin membuat Anya tegang.
"Believe in yourself, An." Sandra menepuk pundak Anya, tahu sekali jika temannya masih khawatir. Anya menghela napas sembari mengangguk. Berdiri lalu menatap Sandra.
Sandra tersenyum lebar diiringi dengan anggukan, meyakinkan temannya akan ke khawatiran nya. Anya mulai melangkahkan kakinya, tapi terhenti di depan pintu. Melihat Samuel ada di depan sana.
"Trust me, you will get it."
Samuel tersenyum lebar, menggenggam tangan Anya dan mengusap-usap nya dengan ibu jari nya. Berjalan perlahan menggandeng Anya, menggenggam dan mengelus tangannya. Menenangkan gadis nya.
Keduanya mulai mendekati lapangan, saling menoleh dan menatap. Samuel mulai melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Anya menuju barisan kelas nya. Samuel mengepalkan tangannya, memberikan semangat.
Anya tertawa kecil melihat itu, Samuel benar-benar mendukung nya. Orang yang selalu dan tetap mendukungnya. Anya bersyukur mengenal dan memiliki Samuel.
•••💜•••
Semuanya sudah berkumpul di lapangan, terutama anak kelas 12. Guru-guru juga sudah ada di sana. Persiapan pengumuman kelulusan seperti sudah siap. Jantung semakin berdebar kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Teen Fiction"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
