°13. Pesan Lagi.°

2.3K 129 5
                                        

GUE JANJI BAKALAN VOTE!
DAN FOLLOW IG DAN WATTPAD AUTHOR!

•••

Anya berjalan menuju kantin, meski ini belum waktunya istirahat. Ia memutuskan untuk sarapan di kantin, rasanya tidak ada selera untuk makan di rumah. Anya tersenyum melihat Gisell yang duduk sendirian di kantin.

Menepuk pelan pundak adiknya. Lalu ikut duduk di samping Gisell. Sembari membuka kotak makannya.

"Kak, kakak juga nggak sarapan di rumah tadi?" tanya Gisell heran. Anya mengangguk singkat.

"Males." Gisell hanya gumam, ia sama malasnya dengan Anya. Apalagi setelah kejadian kemarin. Gisell merasa, butuh waktu untuk menenangkan diri.

"Jangan pusingin omongan mami. Nikmati aja apapun itu. Kayak kakak." Gisell terdiam, ia berpikir keras bagaimana perasaan kakaknya tiap kali mami nya seperti itu. Dituntut terus-menerus. Gisell paham.

Tapi Gisell juga tahu, kakaknya selalu punya kedua abangnya yang akan siap menjadi tameng Anya. Gisell paham, menjadi Anya tidak mudah.

"Lo ngapain?" Gisell menoleh, mendengar Anya berbicara pada seseorang. Dihadapan nya sudah ada Samuel. Cowok itu menatap Anya dengan datar.

"Kenapa nggak ngabarin?" Anya mengernyitkan keningnya, berpikir dengan baik. Ah! Ia lupa semalam untuk mengabari Samuel. Ia benar-benar kelelahan, apalagi kejadian kemarin membuat ia semakin lelah.

"Sepenting itu?" Samuel terdiam, cowok itu tiba-tiba berubah sangat dingin rautnya. Samuel memalingkan wajahnya, sadar bahwa tidak seharusnya ia sepeduli itu.

"Gak sih," acuh Samuel. Mencoba menutupi rasa khawatirnya. Samuel menegaskan pada dirinya sendiri, untuk menjauhi Anya. Tidak peduli berlebihan seperti itu.

"Alah boong. Lo khawatir kan sama gue? Ngaku aja lo!" Anya berusaha mencolek dagu Samuel. Tapi ditepis cowok itu. Anya merasa senang bisa menggoda Samuel.

Gisell nyengir sembari menggaruk tengkuknya, merasa canggung di situasi seperti ini.

"Dega, lo mau makan nggak? Masakannya enak loh," ucap Anya menawari bekal nya pada Samuel. Samuel meliriknya, lalu menatap Anya.

"Lo yang masak?"

"Gue? Ya kali!" Samuel mendengus, cewek seperti Anya mana mungkin bisa memasak. Berpenampilan anggun saja butuh proses.

Samuel mengedarkan matanya, melihat sosok Gavin yang tengah berjalan menuju toilet. Samuel menoleh ke Anya yang sibuk makan.

"Temen lo tuh cowok macam apa?" Anya mendongak, mengernyitkan keningnya heran. Tidak paham apa maksud Samuel.

"Temen mana?"

"Yang di UKS." Anya berpikir, mengingat-ingat lagi. Detik setelah nya, senyumnya mengembang.

"Gavin namanya."

"Gue gak peduli," sinis Samuel. Mendengar percakapan itu, Gisell tertarik.

"Kak Gav? Temen kakak itu?" tanya Gisell antusias.

"Iya. Dia balik."

"Wah. Asik dongg." Anya dan Gisell tampak antusias. Samuel mendengus kesal, pertemuan pertama dengan cowok itu meninggal kesan tidak baik di hati Samuel.

"Dia bukan cowok baik," celetuk Samuel dengan tiba-tiba. Dan tiba-tiba pula Anya menggeplak kepala Samuel.

"Mulut kok sok tau," cibir Anya.

"Kelihatan. Hati-hati lo," ucap Samuel memperingati. Anya menghela napas, menatap Samuel dalam.

"Gue kenal dia udah lama, Dega. Dia cowok baik kok. Kenapa sih lo?" Samuel menghela nafas, mendekat ke Anya.

PANDEGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang