PENCEETT BINTANG NYAA-!!!
•••
Bel istirahat berbunyi, Anya menghela napas lega sembari merenggang kan otot-ototnya. Pelajaran sejarah kali ini mencatat begitu banyak. Membuat jari Anya bisa keriting.
Padahal jika untuk menulis novel, sangat lancar bahkan seperti tidak ada lelahnya. Itu lah yang membuat gadis dengan rambut dikepang 2 itu terkekeh kecil.
"Nya, kantin?" Anya menoleh ke pintu, melihat Fia yang sudah menghampirinya. Anya menggeleng kecil.
"Duluan aja." Fia mengangguk singkat, berbalik badan, terkejut melihat Randy yang sudah ada di belakangnya. Randy langsung merangkul pundak Fia.
"Sama gue aja ih," ucap Randy sembari merangkul pundak Fia dan segera berjalan ke kantin. Anya geleng-geleng melihat Randy yang selalu bucin pada Fia. Anya memilih menyelesaikan rangkumannya yang tinggal sedikit.
Di tengah ke fokusan nya, tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya. Fokus Anya langsung teralih.
"Ngapain?" sinis Anya pada Sandra. Setelah kejadian kemarin, Anya sedikit kesal dengan Sandra. Sandra tersenyum tipis, menggenggam tangan Anya.
"Soal kemarin, gue minta maaf. Benar-benar gue nggak sengaja, Nya." Sandra memohon dengan sungguh-sungguh. Anya menepis tangan Sandra, terkekeh kecil.
"Lo dorong gue loh? Itu sengaja. Lo juga tahu, gue nggak bisa renang." Sandra kicep, ia menarik napas dalam-dalam. Menghembuskan nya perlahan.
"Iya, tapi gue bener-bener nggak ada niatan jatuhin lo di kolam renang. Maafin gue ya?" Anya menghela napas panjang, memalingkan wajahnya. Berpapasan sekali, matanya melihat Samuel yang bersandar di depan pintu.
Samuel melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu melengkung kan senyumnya, tersenyum lebar. Samuel memejamkan matanya sedetik sembari mengangguk. Seolah mengkode Anya agar memaafkan Sandra.
"Nya, lo mau kita damai kan? Maafin gue ya?" Anya menoleh ke Sandra. Wajah gadis itu penuh dengan memohon. Anya menghela napas lalu berdehem.
"Y besar," sinis Anya. Sandra tersenyum lebar, memeluk Anya dengan senang.
"Astaga! Makasih, Nya." Sandra melepaskan pelukannya. Wajahnya terlihat begitu ceria. "Gue janji, nggak akan ngecewain temen kayak lo lagi."
Anya ikut tersenyum lebar, perasaannya ikut lega. Ternyata, memaafkan dan berdamai dengan emosi. Memberikan ketenangan.
"Btw, lo makin cantik aja. Rambut digerai, sekarang dikepang. Nggak kayak dulu, rambut ikat terooss."
Anya tertawa mendengarnya, begitupun Sandra. Anya menepuk pundak Sandra. "San, jangan iri ya sama gue? Gue juga punya kekurangan, dan lo punya kelebihan."
Sandra terdiam sejenak, lalu tersenyum lagi. Ia mengangguk yakin. "Pasti. Mana mungkin gue iri, gue jago renang. Juara renang. Lo? Haha."
Anya geleng-geleng sembari tertawa diremehkan oleh Sandra seperti itu. Bakat Sandra yang satu itu memang tidak diragukan.
"Iya deh, besok-besok ajarin gue renang!"
"Ogah! Nanti lo jadi saingan gue." Sandra tertawa, rasanya kembali senang bisa berteman dengan Anya. Rasanya begitu menyesal dulu pernah memanfaatkan dan berniat menghancurkan Anya.
Sandra menoleh ke sekitar, melihat Samuel yang bersandar di pintu. Sandra menoleh ke Anya, geleng-geleng kepala.
"Iya deh yang udah di apelin. Gue tinggal aja deh." Sandra berdiri dari duduknya, mengedipkan matanya jahil pada Anya. Anya hanya geleng-geleng, ia kembali fokus pada buku-bukunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Fiksi Remaja"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
