°34. Aku Iri.°

1.4K 77 5
                                        

SELEMAT MEMBACA^^

•••🍁•••

Setelah dari penjara tadi, Anya langsung pulang dan masuk ke dalam kamar. Merebahkan dirinya tanpa memejamkan matanya, otaknya berpikir keras tentang berbagai masalah yang ada.

Berpikir, haruskah Anya bergerak sekarang? Anya tidak bisa terus diam akan peneror itu. Melakukan sesuatu, adalah cara untuk mengungkapkan dan menghentikan peneror itu.

Anya mendudukkan tubuhnya, mengeluarkan ponselnya dan membuka roomchat nya. Anya mengetikkan sesuatu pada peneror itu. Melakukan tindakan.

Me:
Cantik, ayo saling tatap muka |
Taman Seranggi, jam 09 pagi |

Anya tersenyum setelah mengirim pesan tersebut, ia sangat berharap si peneror itu menerima ajakannya. Meski 90% sepertinya akan menolak. Tapi Anya berharap tidak.

Anya sungguh ingin secepatnya bisa bertemu orang itu. Berdiri, Anya melangkahkan kakinya keluar kamar. Menatap kamar Gisell yang ada di sampingnya, Anya mengetuk pintu kamarnya.

Tapi tidak ada jawaban, Anya langsung masuk begitu saja. Kamarnya sepi, tapi terdengar suara air mengalir di kamar mandi.

"Ah, mandi dia," gumam Anya mendapatkan jawabannya. "Padahal gue mau tau perkembangan kasusnya Samuel."

Anya menghela napas, memilih duduk di meja belajar Gisell. Ia menatap kamar Gisell, ia sangat jarang datang ke kamar adiknya. Terlihat asing bagi Anya.

Tiba-tiba dering ponsel berbunyi, itu ponselnya Gisell. Anya meliriknya, tertera nama Dinda di layar itu. Sudah pasti temannya Gisell.

"Gisell, ada telpon dari Dinda!" teriak Anya, di dalam kamar mandi Gisell langsung mematikan shower.

"Kakak di sini?" balas Gisell yang heran tiba-tiba ada suara Anya.

"Iya. Ini hp kamu ni," lanjut Anya lagi.

"Biarin dulu, kak." Gisell kembali menyalakan showernya, ia lanjut mandi lagi. Anya hanya menggendikkan bahunya, membiarkan telpon itu mati sendiri.

Tak lama telpon itu mati, Anya melirik nya sekilas. Tunggu, Anya merasa aneh. Ia kembali menatap layar ponselnya Gisell, ada beberapa pesan masuk yang belum dibaca.

Anya terkejut, membuka matanya lebar-lebar. Ada pesan dari kontak yang diberi nama Gisell 'Gadis itu'. Dan pesan dari 'Gadis itu' adalah pesan yang Anya kirimkan pada peneror itu.

Anya membuka pesan itu, tapi sayangnya ponsel Gisel di pasword. Anya mengeluarkan ponselnya, menelpon si peneror itu. Dan, telpon itu menyambung ke ponsel Gisell.

"Gisell, cepet mandinya!" teriak Anya yang mulai berasumsi tentang peneror itu. Seolah ia sudah menemukan titik terang yang valid. Bukti itu, sudah ia dapatkan.

Anya sungguh tersulut emosinya. Bagaimana bisa Gisell pelakunya? Apa motifnya? Anya merasa sangat bodoh, tidak bisa menebak orang terdekatnya yang sudah menerornya.

"GISELL CEPET!" teriak Anya lagi, suaranya semakin keras. Gisell membuka pintu kamar mandinya, melilitkan handuk di kepalanya. Menatap Anya heran.

"Apa sih kak? Cuma telpon doang udah biarin." Gisell masih tidak mengerti apa-apa. Menatap Anya dengan sebal dan heran, berjalan mendekati ponselnya.

PANDEGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang