SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Anya menghentikan mobilnya di tengah jalan, pagi-pagi seperti ini ia sudah dibuat kesal. Belum lagi kekesalannya kemarin juga masih membekas. Anya menggeram, menendang ban mobil depannya.
"Kenapa harus bocor hah? Ini ban datang bulan apa? Segala isi bocor." Anya menggerutu dengan kesal, masih pagi sudah direpotkan masalah ban bocor.
Anya tak masalah jika telat ke sekolah. Bahkan ia berpikir untuk bolos. Sungguh, hari ini ia tidak ada niat untuk ke sekolah. Apalagi jika bertemu Samuel.
"Oy mbak!" Anya menolehkan kepalanya, pada bapak-bapak pengendara motor yang berhenti di sekitarnya.
"Mobilnya pinggirin, masa di tengah jalan," adu bapak itu.
"Lagian jalanan ini juga sepi. Gak banyak mobil lewat kali, pak." Anya sedang dalam mood kesal, asal bicara saja.
"Nggak banyak mobil lewat, terus itu kenapa mobil mbak lewat?" sewot bapak-bapak itu.
"Ya kan cuma mobil saya. Mobil lainnya nggak banyak yang lewat!" Anya semakin menyolot, padahal ia salah.
"Cewek kok ngeyel." Bapak itu geleng-geleng kepala, lalu melanjutkan perjalanan nya. Anya menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Anya membuka ponselnya, mengirimkan pesan pada Sandra.
Sandra:
| Gue bolos
| Cariin alasan okay
Anya tersenyum tipis, setidaknya ini lebih baik dibandingkan harus berangkat sekolah. Sudah telat, mood nya buruk lagi.
Brak!
Anya terlonjat kaget, matanya membulat. Segera ia berjalan ke belakang mobilnya. Ia terkejut melihat motor seseorang menabrak mobilnya.
"Parah! Lo bisa bawa motor enggak sih?" omel Anya kesal, apalagi saat orang itu berdiri dan membuka helmnya. Itu Samuel, cowok yang membuatnya kesal.
Samuel menatap lekat Anya, ia bisa merasakan aura kesal dari gadis itu. Samuel geleng-geleng kepala.
"Aturan parkir mobil di tepi." Samuel memberdirikan motornya, lalu menaruhnya di tepi jalan. Samuel merampas kunci mobil Anya, memasuki mobil gadis itu.
"Lo mau apa? Keluar, Dega!" Samuel tidak menggubris, ia menyalakan mobil Anya. Menepikannya, ia bisa merasakan ada yang salah dengan mobil gadis itu.
Samuel kembali turun, dan memeriksa mobil Anya. Benar dugaannya, mobil gadis itu ban nya bocor. Samuel menatap Anya lagi.
"Kenapa nggak panggil montir?" tanya Samuel.
"Nggak butuh," acuh Anya. Samuel menghela napas, menarik lengan gadis itu. Mendorongnya ke pintu mobil.
"Apa sih? Minggir." Anya mencoba memberontak, namun Samuel menahannya.
"Dua kali kita tabrakan. Mau lo apa?" Samuel tidak melepaskan tatapannya dari mata Anya. Masih terus menatapnya.
"Acuh ke gue. Mau lo apa?" Samuel kembali bertanya, kedua tangannya masih mengunci Anya. Sedangkan matanya tidak membiarkan gadis itu luput dari pandangannya.
Anya menelan salivanya, tatapan Samuel sungguh membuat ia panas dingin. Kedua tangannya memegang rok nya erat-erat, sungguh ia jantungan.
"Bilang gue pembohong. Gue bohong apa? Sini bilang." Nada suara Samuel mulai melembut, agar Anya mau menjawab pertanyaannya. Anya berdehem sejenak, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Katanya ke basecamp. Kok ketemu Gisell di mall?" tanya Anya dengan wajah cemberut. Samuel memejamkan matanya sejenak, ia tidak bisa mengelak lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Teen Fiction"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
