SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Samuel merapikan rambutnya yang acak-acakan, lalu memakai tudung hoodie nya. Sedangkan Anya, hanya menatap Samuel dengan heran. Samuel melirik pada gadis di sampingnya yang diam saja.
"Masuk," ajak Samuel. Berjalan lebih dulu, Anya membuntutinya. Merasa masih aneh saja.
"Lo ngajak gue ke mall? Ngapain?" tanya Anya mengeluarkan rasa penasarannya. Samuel memasukkan kedua tangannya di saku hoodie. Tidak menggubris pertanyaan Anya.
Anya terus mengikuti langkah kaki Samuel. Sampai tiba di depan tempat skincare, yang biasanya Anya datangi. Anya kembali menatap Samuel, yang juga ditatap balik oleh cowok itu.
"Beli sana. Katanya mau glow up," ucap Samuel.
"Emang udah glow up," sinis Anya. Kakinya mulai menelusur ke dalam. Menatap beragam skincare yang tersedia di sana.
Anya memilih-milih skincare mana yang ia butuhkan. Seperti face wash, sunscren, serum, toner, dan yang lainnya.
"Sunscren emina nya di mana ya mbak?" tanya Anya pada si pelayan. Lalu dituntun oleh di pelayan. Anya kembali fokus memilih-milih.
Samuel menyenderkan bahunya di tembok, memperhatikan Anya yang sudah asik dengan segala skincare. Samuel mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan black card nya.
"Mbak," panggil Samuel pada salah satu pelayan.
"Iya, mas?"
"Buat bayar belanjaan cewek itu. Nanti kartunya kasih aja ke dia kalau udah selesai." Samuel memberikan kartu itu pada si pelayan. Lalu berjalan keluar.
Samuel memilih menunggu di tempat yang sepi. Parkiran motor contohnya, memang jauh dari tempat Anya. Ia hanya ingin merokok sejenak.
Samuel mengeluarkan sebatang rokoknya. Menyalakan nya dengan korek api. Menghisapnya dengan nikmat, sembari menikmati angin sore.
"Kamu mau?" ucap cowok itu.
Perhatian Samuel teralihkan, mendengar percakapan seseorang. Yaitu sepasang kekasih muda. Seumuran dengannya mungkin.
"Ya mau lah. Masa dikenalin sama calon mertua nggak mau." Samuel masih menyimak percakapan sepasang kekasih itu.
"Iya nanti kita ke rumah aku ya?" Samuel masih terus memperhatikan, bagaimana juga tangan si cowok yang mengusap-usap kepala gadisnya.
Samuel merenung, apa perlu mengenalkan seorang gadis pada orang tuanya? Apa ia juga perlu membawa Anya ke rumah?
"Shit!" Samuel mengacak-acak rambutnya, pikiran konyol itu menggangunya. Tiba-tiba saja, seseorang merampas batang rokoknya. Lalu menginjak-injak nya.
"Asik banget ngerokok nya," cibir Anya yang baru datang. Samuel menghela napas, tidak berniat memarahi Anya yang sudah mengganggu kenikmatan merokoknya.
"Udah?" tanya Samuel mengalihkan topik. Anya mengangguk-angguk, sembari menyerahkan kembali kartu kredit milik Samuel.
"Kok bayarin skincare gue?" tanya Anya. Samuel memasukkan kembali kartunya, lalu menatap Anya.
"Buktiin aja," jawab Samuel.
"Buktiin apa?" Samuel menatap Anya, tersenyum tipis.
"Kalau gue sanggup biayain lo. Tanggung jawab, apalagi cuma skincare. Gue kaya sih," ucap Samuel berlagak sombong. Anya mendesis kesal, lalu tertawa kecil.
"Emang setiap cewek butuh cowok yang mampu biayain kebutuhannya?" tanya Samuel pada Anya. Anya menimang-nimang sejenak, bergumam pelan.
"Bukan berarti juga cewek yang seperti itu, cewek matre. Cewek itu, cuma mau dimanja. Cowok seharusnya bisa buat cewek yang dia sayang. Sebagai ratu."
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Ficção Adolescente"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
