°11. Orang Baru?°

2.5K 127 3
                                        

VOTE.

•••

Anya berjalan dengan tertatih-tatih, pelajaran olahraga adalah yang ia benci. Apalagi sekarang lututnya terluka karena tersandung saat bermain kasti. Sebab itulah, Anya sekarang berjalan ke UKS.

Anya duduk di atas ranjang UKS, sepertinya sedang tidak ada petugas di sini. Anya sendiri kebingungan mengobati lukanya. Tapi tiba-tiba saja, seseorang datang.

"Perlu bantuan, cantik?" Anya menyipitkan matanya, tidak mengenali sosok cowok itu. Cowok itu duduk di sampingnya, senyumnya mengembang lebar.

"Lo siapa?"

"Hah? Lo lupa gue?" Cowok itu tertawa, semakin membuat Anya heran. Cowok itu menepuk bahu Anya, menatapnya dalam.

"Gue Gavin Pranando, temen lo saat lo umur 10 tahun! Wey!" Anya berpikir sejenak, mengingat-ingat masa kecilnya. Anya menggeleng lirih, merasa tidak mengingat apa-apa.

"Astaga! Yang sering lo lemparin salju, terus jagain lo kalau di mall, selalu temenin lo jalan-jalan di luar negri."

Senyum Anya mengembang lebar, ia segera berhambur ke pelukan Gavin. Gavin memeluk Anya dengan sangat erat juga.

"I miss you!! oh my God!" pekik Anya senang, ia melepaskan pelukannya. Rautnya sangat kegirangan. Begitu pun Gavin, ia turun dari ranjang dan menatap luka Anya.

"Tuan Gavin siap mengobati luka tuan putri," ucap Gavin membuat Anya tertawa. Gavin menarik kursi dan duduk di sana. Ia mulai mengobati luka Anya dengan hati-hati.

"Gav, gimana kabar Angel?" Gavin langsung terdiam, rautnya terlihat tidak tenang. Gavin tidak langsung menjawab membuat Anya keheranan.

"Dia baik-baik aja," jawab Gavin mencoba tersenyum ia kembali mengobati luka Anya. Tak lama, kegiatannya selesai.

Gavin berdiri, mendekati Anya. Tangan Gavin menyelipkan rambut Anya dengan lembut. Mengelus pipi Anya, matanya tak luput menatap mata indah milik Anya.

"Ma-makasih," lirih Anya mencoba mengalihkan tatapannya dari Gavin. Tapi tangan Gavin bergerak, mengarahkan wajah Anya agar menatapnya lagi.

Perlahan Gavin mendekat, menatap lembut raut wajah Anya. Terpaan napas keduanya terdengar, Anya memejamkan matanya. Detik setelahnya ia segera mendorong dada bidang Gavin.

"Gav, lo ngapain sih?" Anya menjauhkan tubuhnya dari Gavin.

"Bertahun-tahun berteman, cuma kayak gitu aja nggak boleh? Cuma cium." Anya membulatkan mulutnya, ia memukul lengan Gavin.

"Bercanda lo murahan," ucap Anya sembari geleng-geleng. Gavin hanya terkekeh pelan, melirik gadis cantik di sampingnya. Lalu mengusap-usap kepalanya dengan lembut.

•••

Samuel menatap pemandangan di depannya, dua orang yang sedang bersama. Samuel langsung memalingkan wajahnya dari UKS. Dirinya memilih meninggalkan tempat itu.

Meninggalkan Randy dan Fia yang juga diam. Samuel tetap tenang, memilih pergi agar tidak melihat kejadian yang tidak baik dilihat. Saking tidak fokusnya, ia sampai menabrak seseorang.

"Sorry," ucap Samuel. Ia seperti kenal dengan seseorang yang ia tabrak. "Lo adiknya Anya?"

"Yaampun, sama calon adik ipar nggak ingat. Iya lah." Samuel hanya manggut-manggut saja. Samuel berdehem sejenak.

"Lo tahu siapa Gavin?" tanya Samuel tiba-tiba. Gisell berpikir sebentar, lalu mengangguk.

"Gavin Pranando kan? Temen kecilnya kakak," jawab Gisell.

PANDEGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang