GUE JANJI GUE VOTE GUE GAPEDULI POKOKNYA VOTE
•••
Anya menarik kursi di samping Rere. Menaruh mangkuk berisi baksonya. Kantin seperti biasa, ramai dengan banyaknya orang yang kelaparan. Termasuk Anya.
"Fia ke mana?" tanya Anya.
"Ya pasti diambil pawangnya lah," jawab Rania. Anya hanya manggut-manggut, sudah biasa dengan Randy dan Fia.
"Lo sendiri? Nggak mau makan berdua sama Samuel?" goda Rere, Rachel dan Rania ikut menatap Anya. Senyum-senyum menggoda gadis itu.
"Gue siapanya dia?" jawab Anyak cuek.
"Yang kemarin dihukum berdua, terus saling perhatian itu siapa?" Anya menatap Rachel dengan malas, ia selalu digoda seperti ini. Padahal memang nyatanya ia dan Samuel tidak ada apa-apa bukan?
"Cowok itu kadal banget, gue yakin sih dia playboy. Covernya aja sok dingin, sok cuek. Aslinya aja goda-goda in cewek terus!" ucap Anya menggebu-gebu.
"Samuel playboy? Godain cewek?" beo Rere, detik setelahnya gadis itu menoyor kepala Anya. "Gimana mau jadi playboy, deket sama cewek aja baru sama lo!"
Anya mendengus kesal, ia menghempaskan rambutnya ke belakang. Ia kembali memakan baksonya, mencoba tidak mempedulikan ucapan teman-temannya.
"Wah, berarti cuma lo yang digodain Samuel. Gimana-gimana dia godain nya?" ucap Rania antusias.
"Ih lo semua makan aja deh."
"Baper nggak lo?" Anya terdiam mendengar pertanyaan Rachel, ia menggigit bibir bawahnya. Mencoba biasa saja, perlahan ia menggeleng kan kepalanya.
"Ngapain baper? Dia cuma php doang," sinis Anya.
"Yakin? Kalau Samuel pakai perasaan gimana?" cerca Rere semakin memojokkan Anya. Anya kembali terdiam, bergulat lagi dengan pikirannya. Anya menepis pikirannya, lalu kembali menggeleng keras.
"Pokoknya Pandega itu cuma baperin doang! Valid!" Anya berdiri sembari menggebrak meja, sedikit emosi. Rere, Rachel dan Rania mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Lalu nyengir.
"Gibahin gue?" Suara itu, suara yang membuat Anya langsung membulatkan matanya. Berbalik badan, benarkan Samuel. Cowok itu menatapnya dengan kedua tangan dimasukkan di saku celana.
Bersama Kenzo dan Bayu tak lupa Randy yang tengah merangkul Fia. Anya memutar bola matanya malas, lagi-lagi ia dihadapkan oleh Samuel.
"Apa sih?" Anya mencoba mengelak, ia menoleh ke 3 temannya tadi. "Nggak kan ya?"
Rere dan lainnya diam, aura Samuel yang dingin seakan membungkam mulutnya. Mereka hanya mampu nyengir. Anya berdecak kesal, ia menatap Samuel lagi.
"Mau apa sih lo? Pergi sana." Anya hendak kembali berbalik dan duduk. Tapi tangannya di tahan oleh Samuel. Tanpa sadar mereka sudah menjadi tontonan kantin.
"Hoodie sama seragam gue mana?" tanya Samuel, masih menggenggam lengan Anya.
"Heh apa? Kok bisa ada di lo, Nya?" tanya Rere kaget.
"Wah, habis nginep nih Sam?" goda Bayu ikut-ikutan.
"Dia cuciin," jawab Samuel dengan gampang. Semuanya terlihat terkejut, wajah Anya semakin merah. Apalagi Samuel masih saja menggenggam nya.
"Lo beneran jatuh miskin Sam? Sampai gabisa bayar pembantu lagi?" tanya Randy ngawur, detik setelahnya Fia memeluk pelan lengan Randy.
"Bukan gitu konsepnya, Ran. Abang Sam modus aja tuh," imbuh Kenzo.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Fiksi Remaja"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
