SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Hari sudah menjelang sore, Samuel masih bersama Gisell. Mencari bukti untuk menguatkan fakta bahwa Samuel tidak bersalah. Keduanya tengah berada di tempat di mana Reza dinyatakan meninggal.
Gisell menghela napas, melirik Samuel yang masih sibuk mencari. Sejak tadi mereka terus sibuk mencari, bahkan Gisell mencoba mengajak bicara tidak dihiraukan.
"Kalau capek pulang aja," ucap Samuel tanpa menatap Gisell. Matanya masih mencari bukti-bukti di sekitar sana. Gisell menggeleng pelan. Gisell kembali mencari-cari di sekitar pos ronda. Di tengah itu ia berpikir, ada yang aneh rasanya.
"Aneh loh kak, kakak nggak berantem di sini. Kok ditemukan meninggal di sini?" tanya Gisell masih mencari-cari bukti. Samuel mendengarnya, ia juga berpikir yang sama.
"Karena itu, ayo cari buktinya di sini," jawab Samuel tanpa menatap Gisell. Gisell manggut-manggut, meski semangatnya untuk mencari bukti mulai meredup.
Berdecak kecil, Gisell memilih duduk di pos ronda yang sudah hampir roboh. Matanya mengamati Samuel yang sibuk, memutar bola matanya ke sembarang arah. Menyipitkan matanya saat melihat sesuatu.
Gisell turun, kakinya mulai mendekati benda itu. Tangannya mengambil benda itu, menatapnya teliti. Gisell mendekati Samuel, memperlihatkan benda itu.
"Handphone Reza kah?" tanya Gisell memperlihatkan handphone yang ia temukan. Sudah sedikit retak, bahkan hp nya mati. Samuel menatapnya, memeriksanya.
"Mati hp nya," ucap Samuel setelah mencoba menyalakan hp tersebut. Helaan napas keluar dari Samuel, mengusap rambutnya seraya berpikir. Tak lama Samuel menjentikkan jarinya.
"Ayo ke konter," ajak Samuel reflek menggandeng tangan Gisell. Gisell terdiam sesaat, senyum diam-diam lalu mengikuti Samuel. Samuel memberikan helm pada Gisell, langsung memakaikan dikepala Gisell.
Samuel terlihat buru-buru, tanpa sadar Gisell diperlukan seperti itu senyum-senyum sendiri. Gisell langsung naik ke atas motor, tangannya pelan-pelan memeluk pinggang Samuel.
"Jaga jarak," ucap Samuel tiba-tiba, setelah sadar sesuatu. Gisell langsung mundur dan menarik tangannya. Samuel menyalakan motornya, segera menuju konter ponsel.
•••🍁•••
Samuel dan Gisell masih menunggu ponselnya diperbaiki, hari sudah semakin larut, keduanya masih sibuk. Bahkan untuk makan, Samuel hanya membelikan 1 bungkus nasi padang untuk Gisell. Samuel tidak ada nafsu makan.
Atau lebih tepatnya, menghindar makan berdua dengan Gisell. Biar bagaimanapun ia mau menjaga perasaan Anya, meski dalam keadaan seperti ini.
Cukup lama menunggu, tukang konter itu menghampiri Samuel sembari membawa ponsel tersebut.
"Coba di cek dulu, Mas," ucapnya. Samuel mengangguk mengerti, ia menyalakan ponsel tersebut. Senyumnya terbit saat ponselnya menyala, meski layarnya retak Samuel tetap bisa mengenali wajah di wallpaper itu.
Wajah diwallpaper nya jelas wajah Reza, Samuel masih mengingat jelas wajah Reza. Samuel lega, menemukan titik buktinya.
"Nyala, Mas. Makas--" ucapan Samuel terhenti, saat tiba-tiba ponselnya kembali mati. Samuel tidak panik, ia menyalakan lagi ponselnya. Berkali-kali tapi tidak mau menyala lagi.
"Kayaknya masih ada yang salah, Mas," ucap tukang konter itu sembari mengambil ponselnya kembali. Menelitinya, lalu menatap Samuel.
"Mas bisa kembali 2 sampai 3 hari lagi. Saya perbaiki dulu," lanjutnya. Samuel menghela napas, ia harus menunggu sedikit lagi. Tapi Samuel meng iyakan saja, menganggukinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Novela Juvenil"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
