°22. Skincare°

1.7K 86 2
                                        

SELAMAT MEMBACA^^

•••🍁•••

Samuel menghentikan motornya tepat di depan gerbang megah milik Anya. Selama perjalanan Samuel terus diam, menjadi dingin seperti biasanya.

"Beneran bukunya nggak usah diganti?" tanya Anya sembari menyerahkan helm nya. Samuel mengaitkan helm tersebut, menggeleng kecil.

Anya hanya manggut-manggut saja, senang juga tidak harus mencari-cari buku tersebut.

"Ya udah. Sana pulang," usir Anya. Samuel kembali memakai helm nya. Hendak menghidupkan mesin motornya, tapi notif ponsel Anya mengalihkan perhatiannya.

"Siapa?" tanya Samuel yang penasaran. Anya melirik Samuel sejenak, lalu membuka chat itu.

"Teror," jawab Anya. Dengan cepat Samuel mengambil ponsel Anya. Tidak mau lengah dalam menjaga Anya.

| Berbagi itu indah. Kita, sudah sering berbagi
bukan?
| Untuk kali ini, aku tidak ingin berbagi.
| Akan ku rebut, milikmu agar sepenuhnya menjadi milikku.
| Tanpa berbagi lagi.

Samuel dan Anya saling tatap, topik si peneror selalu tentang 'milik'. Hal yang belum bisa Samuel cerna. Tapi, Samuel bisa melihat kecemasan Anya yang coba gadis itu tutupi.

"An," lirih Samuel, tangannya terulur. Menggenggam tangan Anya. Menenangkan gadis itu.

"Gue gapapa, Dega." Anya berusaha melepaskan genggaman tangan Samuel. Tapi ditahan oleh Samuel. Tatapan Samuel tidak lepas dari kedua mata Anya.

"Gue benci lihat lo sok kuat di depan gue." Samuel turun dari motor, langsung menarik lembut Anya ke dalam dekapannya. Mengelus lembut rambut gadis itu.

Wangi rambutnya Samuel suka. Terasa nyaman. Begitu pun Anya, selalu suka dipeluk Samuel. Seakan ia sudah menemukan tempat nyaman saat ada masalah.

"An, kepercayaan itu mahal. Jangan gampang kasih kepercayaan lo ke orang lain." Anya mendengar ucapan Samuel, sembari menikmati pelukan dan elusannya.

"Terkadang, musuh lo ada di depan mata lo. Tapi mata lo, nggak bisa lihat itu." Samuel mendongakkan kepala Anya, menangkup kedua pipi gadis itu. Sorot matanya mulai tenang, Samuel melihat itu.

"Hati-hati," lanjut Samuel. Ibu jarinya mengelus-elus pipi Anya. Tersenyum tipis, mencoba menenangkan Anya dengan senyum tipisnya.

Anya ikut tersenyum, benar. Perasaan nya lebih tenang.

"An," lirih Samuel, mengernyitkan keningnya.

"Hm?" gumam Anya. Samuel mengelus-elus pipi Anya, rautnya seperti keheranan.

"Wajah lo kusam," ucap Samuel membuat senyum Anya langsung pudar. Anya menepis tangan Samuel, kesal dengan perkataan Samuel.

"Skincare gue itu mahal ya! Ya kali wajah gue kusam," protes Anya tidak terima. Melipat kedua tangannya di depan dada dengan kesal.

"Gue rutin pakai sunscren, pelembab, toner, serum, face wash dan segala macamnya. Glowing gini juga! Gak lihat?!" Anya semakin mengomel-omel, sedangkan Samuel menikmati nya.

"Kusam dari mananya? Kulit gue putih, lembut, gaada jerawat, cerah gini!" Samuel terkekeh kecil, maju satu langkah. Lalu mencubit pipi Anya dengan gemas.

Semakin membuat gadis itu kesal, kesakitan.

"Bercanda, An." Samuel tertawa kecil, apalagi melihat wajah kesal dari Anya. Samuel hanya ingin Anya tidak terlalu memikirkan soal teror-teror itu.

"Dah ah. Besok gue mau belanja skincare lagi. Biar nggak kusut!" ucap Anya masih aja kesal.

"Buang-buang duit aja," cibir Samuel. Malahan membuat Anya semakin melotot tajam.

PANDEGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang