SELAMAT MEMBACA^^
•••
Samuel berjalan menyusuri koridor sekolah, dengan jaket yang disampirkan di pundaknya. Punggung nya tinggi tegap, rahangnya keras, wajahnya tampan namun dingin.
Sepanjang jalan banyak murid yang memuja-muji dirinya, itu sih hal biasa bagi Samuel.
"Sam!"
Menoleh, jengah menatap teman-temannya itu. Siapa lagi jika bukan Randy, Kenzo dan Bayu? Apalagi dengan lebaynya mereka bertiga berlari kearahnya sembari merentangkan tangan.
Seolah menyambut kekasihnya. Samuel bergidik, merasa jijik.
"Abang! Dedek Bwayu kangweenn!!!"
Samuel menonjok dahi Bayu cukup keras. Berbalik, ia paling tidak suka dengan orang-orang yang alay nan lebay. Kembali berjalan, membiarkan ketiga temannya yang masih ribut sendiri.
"GUEE ADUUIN FIAA NIH SAM!!" teriak Randy. Samuel tetap tak peduli.
"Pagi Samuel!" sapa Abel sembari merapikan rambutnya. Samuel hanya menatap datar, lalu memasuki kelas tanpa peduli dengan Abel. "Ck ah!"
Samuel menatap Rere and the geng yang juga menatapnya.
"Pagi abang Sam, sudah semangat memberikan contekan?" canda Rachel membuat yang lainnya tertawa. Samuel tidak mau peduli, duduk di bangkunya lalu hendak memasukkan jaketnya ke dalam tas.
Tunggu! Mata Samuel menangkap sesuatu yang mengganjal di jaketnya. Ia memeriksakannya kembali, matanya langsung membulat.
"Sialan!" umpatnya.
Gadis itu benar-benar lancang sekali, pikirnya. Bagaimana Samuel tidak marah? Gadis itu memberikan sebuah tanda kecupan di tepi kerahnya. Lipstik gadis itu sangat tebal.
Sial! Bahkan Samuel sudah berusaha keras menghapusnya. Namun nihil.
"Air," gumamnya lalu melangkah keluar kelas. Ia menuju keran depan kelas. Memastikan dulu jika tidak ada orang disekitar yang memperhatikannya.
Ah! Mana mungkin? Dia kan selalu menjadi pusat perhatian.
Tanpa mau peduli, Samuel segera menyalakan keran air itu, lalu membasahi sedikit jaketnya dengan air. Susah payah ia menghapusnya.
"Sial! Sial! Sial!"
Nihil! Sebenarnya lipstik apa yang gadis itu pakai? Hal itu benar-benar menyulut emosi Samuel. Cowok itu menyugar rambutnya ke belakang, membuat siapa pun yang lewat terpesona.
Padahal hanya begitu!
"Sam, kenapa jaket lo?"
Samuel menoleh ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang. Dia Randy Angkasa. Kenalkan, Ketua Geng Dark Lion angkatan ke 8. Leader Nusa Mara. Dan Samuel Pandega. Dia bendahara Geng Dark Lion.
"Gak." Samuel menyampirkan kembali jaketnya di pundak. Menyembunyikan sebuah ciuman di jaketnya. "Pergi!"
Kenzo mendengus sebal. "Sam sam. Nyembunyiin apa sih lo?"
"Urusan gue." Samuel dingin.
Ketiga temannya memilih diam dan tak mau lagi berurusan panjang. Samuel begitu, jika sudah tidak mau ya jangan dipaksa. Lalu mereka bertiga meninggalkan Samuel sendirian.
"Anya Fedelya. Dua belas bahasa satu!" gumam Samuel mengingat gadis itu dengan sebal. Tangannya sudah terkepal kuat. Gadis itu, sudah mengusik nya!
•••
"Anya, kantin yuk?"
Anya menatap Sandra, gadis itu menghampiri mejanya sembari tersenyum lebar. Merapikan buku-bukunya, lalu membalas senyuman Sandra.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Teen Fiction"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
