VOTE KOMENNYA BUNDDD
•••🍁•••
Anya menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali. Melipat kedua tangannya di depan dada, mengerucut kan bibir beberapa senti. Sedangkan Samuel, tampak acuh.
"An, ambilin minum." Samuel masih fokus pada ponselnya. Sampai tidak mempedulikan Anya yang cemberut.
"Gue bukan babu lo!" tandas Anya. Selepas kejadian di samping sekolah tadi, ternyata jam kosong. Anya diseret Samuel untuk menemani cowok itu bermain basket.
Samuel menoleh, merasakan ke marahan gadis itu. Mematikan ponselnya, menatap Anya yang acuh.
"Lo marah?" tanya Samuel dengan tidak peka nya. Anya memalingkan wajahnya tidak peduli.
"Karena gue nggak bisa jagain lo. Atau karena gue mau nikahin lo?" Anya melotot tajam, berdecak kesal.
"Semuanya!" Samuel terkekeh pelan, tangannya hendak jahil. Tapi Anya sudah sigap, ia sudah tahu apa yang akan tangan Samuel lakukan. Menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Mau gue sogok donat?" tawar Samuel.
"Lo mau buat gue gembrot?" Samuel terkekeh kecil. Lalu mengangguk yakin.
"Lo gendut. Lo lucu." Anya menye-menye, tidak mempedulikan Samuel.
"Gue cuma bercanda ngajak nikah," imbuh Samuel sembari merapikan anak rambut Anya.
"Gue peduli?" sinis Anya, tetap mempertahankan sikap marahnya. Samuel tersenyum miring, dengan cepat tangannya memegang kepala Anya. Menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Dega!!" pekik Anya menepis tangan Samuel, menjauh kan tubuhnya dari cowok itu.
"Lo mau gue nikahin beneran?" goda Samuel lagi, Anya tidak membalas, hanya membuang mukanya saja.
Anya berdiri, berjalan meninggalkan Samuel. Raut Samuel mendadak datar, memikirkan sesuatu. Pandangannya kosong, pikirannya bekerja keras.
"Hmm." Samuel mendongak, merasakan kedinginan di pipinya. Ternyata Anya menempelkan air dingin di pipinya.
Samuel tersenyum miring, gadis itu masih sok cuek. Anya kembali duduk, membiar Samuel meneguk minumannya sampai habis.
"An," panggil Samuel. Anya bergumam, selalu suka saat Samuel memanggilnya seperti itu. Beda dari yang lain.
"Teror itu?" Keduanya sama-sama saling menatap. Beberapa detik saja, Anya sudah mengalihkan pandangannya.
"Gitu aja," jawab Anya mencoba tidak peduli. Samuel masih menatap Anya lekat-lekat. Jujur, kejadian tadi belum bisa ia lupakan begitu saja.
"An, apa lo bisa maafin cowok tadi?" Anya menoleh, tanpa ragu ia menggeleng keras. Samuel tersenyum tipis, satu pikiran dengan Anya.
Samuel juga sama tidak terimanya perlakuan seperti itu Anya dapatkan. Samuel tidak tahu seberapa sedih Anya setelah diperlakukan seperti itu. Yang ia lihat, Anya kuat.
Tapi tidak tahu bagaimana sebenarnya.
"An." Anya kembali menoleh, di matanya tidak ada ketenangan. Tapi dirinya mencoba menunjukkan sikap tenang dan baik-baik saja.
"Jangan pura-pura kuat di depan gue. Jangan, An." Samuel berbicara dengan penuh memohon. Tidak mau Anya menanggung beban sendiri.
Anya mencoba tersenyum lebar. Menepuk pundak Samuel. "Gue baik."
Samuel tidak percaya itu, gadis itu hanya berpura-pura. Entah, tekanan dari mana saja yang Anya dapatkan.
"Hai, Nya." Perhatian kedua nya teralihkan, menatap seorang cowok yang berdiri di depan Anya. Cowok itu tersenyum, mengulurkan tangannya ke Anya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Fiksi Remaja"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
