GUE JANJI GUE VOTE!!
•••
Anya berlari dengan sangat tergesa-gesa menuju kelasnya. Ia sudah hampir telat, ada satu pr yang harus segera ia selesaikan. Macet membuat ia telat sedikit. Akhirnya gadis itu sampai di depan kelasnya.
"HEH TOLONG!! SINIIN JAWABAN IPA!!" pekik Anya menyita perhatian seisi kelas. Cewek cantik yang sekarang selalu menggerai rambut nya itu mengatur napasnya. Lalu duduk di bangkunya.
Sebagian anak-anak kelas 12 Bahasa 1 mendekati Anya. Geleng-geleng kepala melihat gadis itu. Tingkahnya masih sedikit tomboy.
"Gue kira lo benar-benar total jadi cewek yang anggun, feminin, kalem. Eh, nyatanya sama aja, Nya." Kanaya geleng-geleng kepala, ia mengeluarkan buku tugas IPA nya lalu segera ia serahkan pada Anya.
"Gue ya gue," ucap Anya lalu segera mengeluarkan bukunya. Secepat mungkin ia menyalin jawaban tersebut, ia hanya punya waktu 10 menit.
Sedang sibuk-sibuknya menyalin, tiba-tiba seseorang menarik buku milik Kanaya. Anya melotot tajam, ia segera berdiri. Menatap tajam orang itu.
"Pandega sialan! Balikin cepett!!" rengek Anya, berusaha merebut buku itu kembali. Tapi Samuel menepisnya, Samuel mengangkat buku itu tinggi-tinggi.
"Gue bilang, pr itu di rumah ngerjainnya."
"Gue nggak peduli! Siniin!" Samuel tetap kekeuh, membuat Anya semakin kesal. Ia selalu kelupaan pr apalagi itu jam pertama. Malapetaka ini!
"Pandega!!" Anya menarik dasi Samuel dengan kencang. Cowok itu hilang keseimbangan sampai menuburuk meja. Jarak wajah keduanya terlihat dekat. Siulan anak-anak bahasa 1 membuat keduanya segera menjauh.
Anya mengalihkan wajahnya, pipinya terasa sangat panas. Seberusaha mungkin ia tidak blushing. Tapi tiba-tiba Samuel menarik dagunya agar menatap cowok itu.
"Dasi gue mengkerut. Benerin!" titah cowok itu membuat Anya menggeleng keras.
"Pakai sendiri."
"Tangan gue megang buku."
"Taruh meja."
"Nanti lo ambil." Anya menggenggam tangannya erat-erat, benar-benar kesal dengan Samuel. Mendekati Samuel, menarik dasi Samuel lagi, membuat cowok itu sedikit mendekat.
Anya membenarkan dasi Samuel dengan rapi, wajahnya cemberut. Anya berpikir, ia harus mencuri kesempatan. Setelah selesai merapikan dasi Samuel, Anya berusaha menarik buku di belakang punggung Samuel.
"Eh?" beo Anya. Ia tidak berhasil mendapatkan bukunya. Tapi posisinya sekarang, seakan memeluk Samuel. Sorakan seisi kelas kembali menggenggam membuat Anya segera mundur.
"PARAHH!! PAGI-PAGI UDAH NGAPEL AJA!" pekik Randy yang datang bersama teman-temannya.
"BANG SAM BUCIN!" imbuh Kenzo. Kelas bahasa 1 semakin riuh, pipi Anya rasanya semakin panas.
"Duh pagi-pagi dipakaiin dasi. Berasa suami istri ya bund," imbuh Beno anak bahasa 1. Siualan dan sorakan kembali riuh. Anya sudah pasti merona, beda lagi dengan Samuel yang tetap datar.
"Ada apa ini?" Suara Bu Kerti terdengar. Seketika itu pula mereka duduk di tempat masing-masing dan menjadi siswa yang sebaik mungkin. Anya mati kutu, sudah pasti ia dihukum.
"Ada yang otw nikah bu," celetuk Randy seenaknya.
"Siapa itu?"
"Samuel sama Anya," jawab Randy gampang. Bu Kerti menatap Samuel dan Anya bergantian. Anya menggeleng langsung, beda dengan Samuel yang tetap diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Novela Juvenil"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
