"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya.
"Nama doang?" goda Samuel.
"Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya.
"Boleh?"
•••
Samuel Pandega. Si dingin de...
Malam hari semakin dingin, Anya dan Samuel masih berada di depan rumah. Menikmati masa-masa berdua-duanya. Samuel melirik jam ditangannya, lalu melirik gadisnya sembari mengusap-usap rambutnya.
Anya masih menyenderkan kepalanya di pundak Samuel. Menikmati martakabnya yang belum juga habis. Anya mulai menyadari, ia sudah terlalu lama bersandar. Ia langsung duduk tegap.
"Dega, pegel ya gue sandarin terus?" tanya Anya yang baru sadar akan hal itu. Samuel tidak bohong, ia mengangguk sembari memijat pundaknya. Semakin membuat Anya merasa bersalah.
"Jujur banget sih," kesal Anya sembari menyingkirkan tangan Samuel dari pundak. Lalu memijat pundak Samuel, memperhatikan ekspresi cowok itu yang tampak keenakan.
Anya tertawa kecil melihatnya, ia pikir Samuel akan menolak. Ternyata Samuel juga ingin dimanja. Anya suka tapi.
"Dega, nggak lama lagi ujian," ucap Anya memulai pembicaraan lagi. Samuel menoleh, melihat wajah gadisnya yang tampak khawatir. Tersenyum tipis.
"Materi mana yang belum lo kuasai?" tanya Samuel, kali ini ingin gadisnya bisa mengalahkan nya. Samuel percaya, gadisnya itu pintar dan bisa menjadi peringkat 1.
Anya menghela napas, tangannya berhenti memijat lengan Samuel. Kembali bersandar di pundak cowok itu lagi.
"Gatau ah," ucap Anya tampak ragu dengan dirinya sendiri. Samuel mengusap-usap rambut gadisnya, berusaha memberikan kekuatan. Samuel menjentikkan jarinya ke kening Anya.
"Lo itu udah bodoh. Jangan mau bodoh lagi. Kasihan anak kita nanti malu punya mama yang bodoh," ucap Samuel dengan entengnya.
Anya langsung bangun, menatap Samuel dalam-dalam. Ia bingung harus marah atau bagaimana. Satu sisi cowok itu mengatakannya bodoh, sisi lain cowok itu membuatnya melayang.
Tapi Anya tahu, sebenernya niat Samuel itu ingin menyemangati dirinya. Hanya saja dengan cara menjelek-jelekkan dirinya. Anya menabok lengan Samuel dengan kesal.
"Kalau mau muji, langsung aja. Mau nyemangati, to the point juga," protes Anya kesal. Samuel tertawa pelan, tangannya menggoyang-goyangkan kepala Anya seperti biasanya.
Sekali lagi, Samuel melirik jam tangannya. Lalu mengedarkan pandangannya ke seisi rumah Anya. Terlihat sudah sepi. Samuel kembali menatap Anya, mengusap pipi gadisnya.
"Percuma skincare mahal, kerjaannya begadang," sinis Samuel. Anya melototkan matanya, tapi langsung menunduk lagi. Membenarkan apa yang dikatakan Samuel.
"Bilang aja nyuruh tidur," sinis Anya membuat Samuel terkekeh, memang itu tujuannya. Anya merapikan bekas martabaknya, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Samuel memperhatikan saja, sampai Anya kembali duduk di sampingnya lagi. Tangannya mengusap-usap rambut Anya, menyisihkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Gue pulang," pamit Samuel yang diangguki Anya. Keduanya berdiri, Samuel bersiap untuk pulang. Tapi Anya menahannya.
"Tunggu sini dulu, Dega!" Anya berlari masuk ke dalam rumah. Samuel menatapnya bingung, tapi ia masih menunggu gadisnya. Sampai akhirnya Anya keluar, membawa jaket.
"Lo kan sering ngebabu in gue. Nih salah satu jaket lo." Anya memberikan jaket milik Samuel yang ia cucikan. Samuel tersenyum sembari menerimannya, ia memakai jaket tersebut. Padahal ia juga pakai hoodie.
Samuel menatap Anya, memperlihatkan penampilan yang double. Anya tertawa kecil, Samuel terlihat gendut.
"Gapapa biar hangat. Malam-malam dingin, Dega." Anya tahu, pasti rasanya sesak memakai hoodie tebal ditambah jaket. Pasti Samuel juga memakai kaos dalam sebelum memakai hoodie.
Samuel menggendikkan bahunya acuh, menurut saja pada gadisnya. Seketika Samuel merentangkan kedua tangannya, memberikan ruang pada Anya.
"Biar makin hangat. Meski bentar doang," ucap Samuel mempersilakan Anya masuk ke dalam pelukannya. Anya menggigit bibir bawahnya, merasa malu.
Anya menatap sekitarnya dahulu, laku segera berlari kecil ke pelukan Samuel. Memeluknya dengan hangat dan erat. Samuel mendekap tubuh Anya ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah gadis itu.
"Lo harus ngerasain sensasinya peringkat satu. Lo wajib berjuang, gue selalu rangkul lo." Samuel mengusap-usap kepala Anya, sesekali mencium pucuk kepalanya. Anya tersenyum lebar, ia kembali mendapatkan pelukan yang senyaman ini.
Tak lama Samuel melepaskan pelukannya, saling tatap beberapa menit, dengan senyum merekah. Samuel kembali menjentikkan jarinya ke kening Anya, membuat gadis itu meringis.
"Jangan lanjutin belajar lagi, jangan main hp, jangan ngedrakor, perut isi dulu, dan jangan lupa kasih waktu buat tubuh lo istirahat."
Anya tersenyum lebar mendengar pesan dari Samuel. Ia mengangguk patuh. Samuel perlahan berjalan pulang, tanpa menoleh lagi ke Anya. Anya masih menatap Samuel, sampai cowok itu benar-benar pulang.
Anya senyum-senyum sendiri, ia bersyukur punya Samuel sebagai support sistem nya.
•••🍁•••
Anya menutup pintu rumahnya, benar saja rumahnya sudah begitu sepi. Sudah pasti orang-orang pada tidur. Anya hendak berjalan menuju kamarnya, tapi notifikasi di ponselnya mengalihkan perhatiannya.
Anya membuka ponselnya, ia bingung mendapat pesan dari Samuel. Anya menengok dari jendela, motor Samuel sudah pergi. Anya segera membuka pesan tersebut.
Pandega: |
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anya senyum-senyum lagi, membaca tulisan yang tersemat di foto itu. Entah kapan Samuel mengambil foto seperti itu, terlihat menggemaskan. Apalagi kalimatnya.
"Dasar, suka nggak mau bilang langsung." Anya geleng-geleng sendiri, ia menutup ponselnya dan hendak naik tangga. Tapi ia bertemu Gisell yang tengah minum.
"Jadi sekarang kakak aku bucin nih," sindir Gisell sembari berjalan kembali menuju kamarnya. Anya mendesis lalu berjalan mengikuti Gisell.
"Dek, kamu tadi ngapain aja sih sama Dega?" tanya Anya yang masih penasaran. Gisell menghentikan langkahnya, menatap Anya lalu terkekeh pelan.
"Yaampun! Kakak ih, jangan overthinking gitu sama aku. Tidur ah, udah malem." Gisell menepuk pundak kakaknya, seolah meyakinkan sesuatu lalu meninggalkan Anya sendirian.
Anya termenung di anak tangga, memikirkan perasaannya. Pantasnya ia cemburu? Bolehkah ia cemburu? Meski dengan adiknya sendiri?
Tapi apapun itu, Anya tetap mencoba berpikir positif dan percaya pada Samuel.
•••🍁•••
JANGAN LUPA VOTE KOMENNYA MAAF CUMA DIKIT YA UP NYAA
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.