SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Anya tengah duduk di sofa dengan banyak buku di atas mejanya. Siang-siang seperti ini Anya mengorbankan waktu tidur siangnya untuk belajar. Anya terus mengingatkan dirinya sendiri, bahwa ujian semakin dekat.
Anya melirik Sandra yang sibuk bermain ponsel, scrol tik-tok tentunya. Menghela napas, Anya berpikir jika belajar dengan Samuel jauh lebih asik. Cowok itu akan serius dan tau waktunya beristirahat agar tidak bosan.
Tapi, lagi-lagi Anya mencoba sabar dan mengerti kondisi saat ini. Anya terus bertanya-tanya dalam hatinya, tentang kondisi Samuel, tentang masalah Samuel, tentang hal yang dilakukan Samuel.
Dan bertanya, tentang rindunya akan Samuel yang tidak tahu kapan akan berakhir. Padahal hanya sehari tidak bertemu, tapi rasanya perasaan Anya tidak bisa baik-baik saja.
"Hai kak." Gisell masuk ke dalam rumah, menyapa Anya dan Sandra. Anya langsung membulatkan matanya, melepas earphone nya.
"Dek, Samuel mana?" tanya Anya langsung berdiri, menghentikan langkah Gisell yang akan menaiki tangga. Gisell balik badan, menatap wajah Anya yang khawatir.
"Ada urusan sama geng Arthur," jawab Gisell apa adanya.
"Kamu pulang sendiri?" tanya Anya
"Diantar kak Samuel," jawab Gisell kembali jujur. Anya mengernyitkan keningnya, menatap Gisell dengan heran.
"Kenapa nggak mampir? Kamu nggak panggil kakak?" Anya sedikit emosi, ia kesal karena tidak tahu Samuel datang. Meski sekejap, setidaknya Anya mau melihat wajah Samuel.
"Kak Samuel buru-buru, kak." Anya menghela napas lagi dan lagi, ia kembali duduk dengan lesu. Tatapannya kosong, sedikit tersenyum namun senyumnya terasa pahit.
"Segitu nggak ada waktunya lo, Dega," lirih Anya dengan suara begitu lemah. Ia tidak tahu seberapa sibuk Samuel, tidak tahu seberapa berat dan pentingnya masalah itu.
Dan Anya tidak tahu, apakah Samuel benar-benar tidak ada waktu hanya sekedar untuk melihat wajahnya?
"Nggak usah menggalau deh lo," ucap Sandra yang masih sibuk bermain ponselnya, berganti ke aplikasi Instagram. Tanpa melirik Anya sedikit pun, Anya hanya berdecak saja.
Anya kembali lagi fokus pada pelajaran nya, tapi seketika notif ponselnya berbunyi. Anya membukanya, ia sudah mulai terbiasa dengan pesan dari peneror itu.
085××××
| Target ku sudah dekat
| Lalu, apa kabar hubungan kalian?
"Sampah," umpat Anya menutup ponselnya dengan kesal.
Tanpa sengaja ia melirik ke samping, Sandra masih asik dengan ponselnya. Mata Anya menangkap senyum miring Sandra, serta layar ponsel Sandra yang menampilkan roomchat.
Anya masing mengamati Sandra, gerak-gerik dan mimik wajahnya. Sedari tadi scrol tiktok dan Instagram, kenapa mendadak berganti ke roomchat. Dan bertepatan dengan chat si peneror itu.
Kebetulan macam apa ini?
"Argh, capekk." Sandra menutup ponselnya, merenggangkan otot-otot tangannya. Sandra menatap Anya, gadis itu tersenyum lebar seolah menandakan kesenangan. Anya semakin heran.
"Seneng banget kayaknya lo," ucap Anya sengaja. Sandra semakin tersenyum lebar.
"Hem, iya lah. Dah ya gue mau balik." Sandra menepuk-nepuk pundak Anya, senyumnya masih saja diwajah cantik itu. Sandra merapikan buku-bukunya, melambaikan tangannya dan keluar dari rumah Anya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Teen Fiction"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
