SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Anya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan bolpoin, kepalanya kembali dibuat pusing oleh cowok di hadapannya ini. Bagaimana tidak? Samuel kembali memberinya soal-soal yang sulit.
Anya mendongakkan kepalanya, mencebikan bibirnya kesal. Cowok di depannya ini hanya menatapnya sembari bersidekap.
"Lo nggak ada niatan bantuin gue?" lirih Anya memohon bantuan. Dengan gampangnya Samuel menggeleng sekali.
Anya mendengus kesal, mengalihkan matanya ke sembarang arah. Mengamati pondasi-pondasi rumah Samuel. Ya, kali ini ia belajar di rumah cowok itu.
"X nya kan 25. Terus cari Y nya berapa?" ucap Samuel membuat atensi Anya teralih.
"Biarin aja. Nanti kalau X sama Y jodoh, bakal ketemu sendiri." Anya acuh, kepalanya sudah lelah terus memikirkan angka-angka dan rumus.
"Repot-repot nemuin X sama Y. Mending nemuin jodoh sendiri," lanjut Anya. Samuel berdecih, mengambil lembar soalnya dan mulai menjalankan bolpoin nya.
"Bucin," cibir Samuel sembari mengerjakan soal yang ia buat.
"Ya kali gue bucin. Ntar kalau udah punya cowok gue juga nggak akan bucin gitu ke dia. Enaak aja," sewot Anya.
Samuel menaruh bolpoin kembali, setelah menyelesaikan soal itu. Menyodorkan lembaran itu pada Anya. Menatap Anya lekat-lekat.
"Awas bucin jalur karma lo. Gue ketawain," ucap Samuel. Anya memeriksa jawaban itu, lalu kembali menatap Samuel. Kali ini ia ingin menggoda lelaki itu.
Anya mendekatkan wajahnya, tersenyum jahil. Tangannya menopang dagunya, pandangannya menatap lurus pada Samuel.
"Kalau gue bucinnya sama lo doang. Gimana?" Anya memainkan alisnya, sengaja menggoda Samuel. Samuel terdiam, matanya masih menatap lekat mata Anya.
"Kok diam? Katanya kalau gue bucin mau diketawain? Oh, salting ya?" Anya semakin menggoda Samuel, cowok itu semakin diam dengan raut datar. Pandai sekali menyembunyikan ekspresi nya.
Malahan Anya yang tertawa, menertawakan Samuel yang berhasil ia buat diam. Samuel meneguk ludahnya, memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Jangan ketawa," ucap Samuel.
"Kenapa? Biarin wlek!" Anya menjulurkan lidahnya, kembali tertawa sepuasnya. Samuel berdecak kesal, mencekal tangan Anya dan menatapnya. Dingin.
"Jangan ketawa, An." Anya mengerjap-ngerjapkan matanya, ditatap sedalam itu oleh Samuel. Ia mencoba tidak gugup.
"Kenapa sih?"
"Gigi lo ada cabe nya."
"Hah?" Anya seketika menutup mulutnya, wajahnya langsung memerah malu. Segera ia membuka ponselnya dan mengaca. Nyatanya tidak ada.
"Ngawur lo! Nggak ada!" Samuel terkekeh kecil melihat bagaimana raut paniknya Anya. Ia kembali melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nurut kenapa sih?"
"Lo siapa gue ngatur-ngatur?" sinis Anya sembari merapikan rambutnya.
"Gue harus jadi siapa lo biar lo nurut?"
"Pacar maybe."
"Oke kita pacaran." Anya menggeplak lengan Samuel, menatap cowok itu tajam. Samuel terkekeh kecil, ia menyobek buku tulisnya.
Anya memperhatikan dengan heran. Samuel menyobek-nyobeknya, menjadi bagian-bagian yang kecil. Tiba-tiba ia melempari kepala Anya dengan kertas-kertas itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Fiksi Remaja"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
