GUE JANJI GUE VOTE
•••
Hari ini, pelajaran olahraga untuk kelas 12 IPA 3. Sayangnya, guru olahraga mereka sedang malas mengajar. Biang kerok nya adalah Randy, cowok itu membuat ulah sampai Pak Sulis malas mengajar kelas tersebut.
Para cewek kelas itu sudah kebingungan, bagaimana cara mendapatkan maaf dari Pak Sulis. Tapi yang cowok, tampak acuh dan memilih bermain basket.
"Ran! Minta maaf ih! Nanti nggak dikasih nilai," rengek Fia yang terus menganggu Randy.
"Udah, enggak papa."
"Ihh! Minta maaf atau tidur di luar!" ancam Fia lalu pergi meninggalkan Randy. Randy kalut, ia memilih mengejar Fia dan membiarkan bolanya saja.
"YAAAH BUUCINN!!" teriak Samsul. Samuel hanya geleng-geleng kepala, ia mengusap keringatnya. Matanya menangkap Anya yang tengah berjalan menghampiri Rere dan teman-temannya.
Samuel tersenyum miring, ia mengambil ponselnya yang tidak jauh darinya. Ia mengirimkan seseorang sebuah pesan. Lalu kembali menutup ponselnya.
Samuel duduk di tepi lapangan. Menunggu seseorang. Senyumnya tercetak tipis, melihat orang itu datang kearahnya.
"Apa sih, Dega? Lo selalu jadiin gue babu lo," ucap Anya sembari memberikan minuman ke Samuel. Atas permintaan pesan dari Samuel.
Samuel hanya terkekeh pelan, ia menunjuk tempat di samping dengan dagu. Menyuruh agar Anya duduk di sampingnya. Anya pun menurut saja.
"Lo juga mau dibabu in," timpal Samuel. Anya langsung kicep, ia juga tidak menolak sama sekali. "Atas dasar apa?"
"Hah?" beo Anya, lagi-lagi Samuel menjahilinya. "Ih ya, ya atas dasar nurut doang."
"Nurut karena apa?" Samuel menatap Anya penuh menggoda. Wajah salting gadis itu membuat ia gemas.
"Ya karena gue penurut."
"Nurut seorang istri ke suami gitu?"
"Dega!" Anya mencubit lengan Samuel, dirinya benar-benar salah tingkah. Anya menyugar rambutnya ke belakang.
"Masih SMA, nggak usah ngomongin suami istri."
"Randy Fia masih SMA udah nikah," jawab Samuel kembali membuat Anya kicep. Anya memilih memalingkan wajahnya ke samping. Samuel tertawa kecil.
"Bercanda." Anya menoleh, menatap Samuel yang sedang meminum air. Lagi-lagi ia dibuat bingung oleh Samuel.
"Lo baperin gue cuma bercanda?" Samuel menoleh, menatap Anya dengan tatapan seperti biasanya. Samuel tersenyum lalu mengusap-usap rambut Anya.
"Menurut lo?" tanyanya balik.
"Nyesel gue tanya." Anya merasa seperti ditarik ulur. Anya masih ragu untuk baper dengan semuanya tentang Samuel. Tapi, terkadang hatinya tidak bisa dikendalikan.
"Nya," panggil Samuel membuat Anya menoleh. Anya hanya berdehem.
"Gue mau, lo buktiin ke diri lo sendiri, dan orang-orang. Kalau lo, bisa pintar." Anya diam, tidak mengerti apa maksud Samuel.
"Maksud lo?"
"Gue bisa ajarin lo belajar. Otak gue canggih." Anya berdecih kesal, cowok itu menawarinya bantuan sambil menyombongkan diri. Tapi, ada baiknya jika ia belajar dengan Samuel.
Mungkin, Samuel adalah guru yang cocok untuknya. Mungkin dengan belajar dengan Samuel, otaknya jauh lebih mudah mencerna. Anya tersenyum lebar, mengulurkan tangan ke Samuel.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
أدب المراهقين"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
