SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Samuel menghentikan mesin motornya, turun dari motor dan melepas helm nya. Menunggu Gisell merapikan rambutnya sejenak, keduanya sudah berada di konter yang tempo hari mereka datangi.
Sudah 3 hari sejak saat itu. Berharap ponsel itu bisa menyala, dan lebih berharga ada bukti kuat di dalam ponsel itu.
"Ayo," ajak Samuel jalan duluan. Masuk ke dalam konter itu. Samuel langsung menanyakan keadaan ponsel tersebut, segera membayar tagihan ponselnya, bersyukur ponselnya sudah diperbaiki.
Menatap Gisell sejenak, berharap ada bukti di ponsel tersebut. Gisell tersenyum sembari memejamkan matanya sekali, meyakinkan Samuel. Samuel segera membuka ponsel tersebut.
"Apa password nya?" gumam Samuel, ia berhasil menyalakan ponselnya tapi tidak tahu password nya. Samuel memanggil penjaga konternya.
"Mas, saya lupa password nya. Bisa minta tolong?" tanya Samuel.
"Bisa, tapi nggak sekarang. Saya lagi sibuk, mungkin besok," jawabnya yang kembali sibuk pada pekerjaan lainnya. Samuel menghela napas, berpikir lagi. Haruskah ia menunggu sampai besok?
"130203," ucap Gisell membuat Samuel mengerutkan keningnya heran. Menatapnya dengan heran.
"Apa itu?" tanya Samuel.
"Beberapa hari kemarin aku cari tahu info Reza. Itu tanggal lahirnya, coba." Gisell memberikan penjelasan, Samuel mengangguk paham dan segera mencobanya. Tapi, itu tidak valid.
"Salah," ucap Samuel dengan lelah. Otaknya bekerja keras memikirkan nomor-nomor yang tepat untuk password nya.
"181203. Tanggal lahir pacarnya," ucap Gisell lagi. Samuel menatap Gisell, keberadaan Gisell di sini cukup membantunya. Segera Samuel mencoba kombinasi nomor tersebut.
Senyum Samuel terbit lebar, ia berhasil memasukkan kombinasi nomor yang valid. Samuel mengangkat tangannya, mengajak tos Gisell. Lalu mengusap-usap rambut Gisell dengan bahagia.
Gisell tersenyum diperlukan seperti itu, masih menatap Samuel yang mengotak-atik ponsel Reza. Kening Gisell berkerut, melihat perubahan raut wajah Samuel.
"Kenapa, kak?" tanya Gisell memperhatikan. Tangan Samuel terkepal, perlahan ia mendongak. Sorot wajahnya seakan telah mendapatkan sesuatu hal.
"Gue dapat jawabannya," gumam Samuel yang berhasil mendapatkan bukti kuat dari ponsel tersebut. Mematikan ponselnya, memasukkan ke dalam tas nya.
Samuel berdiri, menggandeng tangan Gisell untuk segera menuju motor. Samuel segera memakai helm nya, Gisell yang masih bingung hanya bengong saja. Samuel berdecak, segera memakai helm pada Gisell.
Tanpa mereka sadar, ada Anya di sekitar sana yang memperhatikan. Anya mengepalkan tangannya erat-erat, kakinya perlahan mendekati keduanya. Menatap Samuel dalam, tentu Samuel terkejut melihat keberadaan Anya.
Anya semakin emosi, apalagi melihat tadi Samuel mengelus-elus rambut Gisell, menggenggam tangannya, bahkan memakai kan helm nya.
"Dega, cukup ya." Anya maju selangkah, rasanya ia tidak tahan lagi. Ia tidak bisa terus diam, ia harus mempertahankan miliknya. Jika ia membiarkan Gisell, ia akan kalah.
"Lo ngapain sih?" tanya Samuel yang terlihat buru-buru.
"Berhenti berurusan sama dia," ucap Anya tegas. Samuel berdecak, merasa terganggu. Ia ingin segera menyelesaikan masalahnya.
"Gue kasih bukti sekarang, gue nggak nuduh. Bukti itu ada di ponsel Gisell." Anya memilih memberikan bukti, tidak peduli lagi dengan Samuel yang percaya atau bagaimana. Tapi sepertinya Samuel tidak menghiraukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Jugendliteratur"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
