SELAMAT MEMBACA^^
•••🍁•••
Anya duduk terdiam di roof top kamarnya, memeluk kakinya yang terlipat. Matanya memandang depan, mengingat apa yang seharian ia lakukan. Semuanya tampak melelahkan, hati nya pun sebenarnya lelah.
Memandang langit malam, sepi tampa bintang. Helaan napas terdengar, Anya memejamkan matanya, menikmati malam yang dingin. Kembali membayangkan, beberapa menit yang lalu.
Flashback on
"Pulang aja," lirih Anya sembari menjauhkan dirinya dari Samuel. Memalingkan wajahnya pula, ia masih merasa kesal dengan Samuel, lebih baik menghindari cowok itu dahulu.
Samuel pasrah, ia hanya mencoba sabar dan diam. Bicaranya hanya akan membuat emosi dan semakin memperburuk suasana. Kali ini Samuel mengalah, tidak egois.
"Aku masuk dulu ya, kak." Tiba-tiba Gisell lewat, tersenyum pada keduanya. Sempat beradu tatap dengan Anya, tapi hanya sejenak. Gisell berjalan masuk ke dalam rumah.
Samuel memperhatikan keduanya, terlihat jelas tatapan keduanya sama-sama tidak suka. Menandakan tidak ada keakuran diantara keduanya.
"Masih dengan statement yang sama?" tanya Samuel mengalihkan tatapannya dari Gisell ke Anya. Anya ikut menatap Samuel balik.
"Masih dengan kepercayaan yang sama?" tanya Anya balik, sebenarnya ia malas membahas masalah yang sama seperti ini. Meyakinkan Samuel itu melelahkan.
"Kasih gue opini-opini kenapa lo berpikir dia pelakunya. Sebelumnya, biar gue beropini dulu," ucap Samuel mengutarakan, berharap opini nya bisa membuat Anya dan ia berdamai. Anya mengangguk sekali, mempersilakan.
"Gue pernah tanpa sengaja pegang pundak dia, atau tangan dia. Dan lo tahu, dia tepis. Dia nggak menunjukkan rasa ketertarikan," ucap Samuel mengutarakan opininya. Anya masih sabar, membiarkan Samuel terus berbicara. Meski, fakta sebenarnya akan membantah itu semua.
"Waktu gue buru-buru, dia tetep nyuruh gue mampir buat ketemu lo. Dia ngedukung hubungan kita, dia paham perasaan gue."
Anya mengepalkan kedua tangannya, semakin emosi dengan penurutan Samuel. Cowok itu sepercaya itu kah pada Gisell? Opini macam apa ini?
"Dia nggak pernah berusaha ngedeketin gue, tulus bantu gue. Dia care sama lo juga. Dia dukung hubungan kita, An."
Samuel mencoba meyakinkan Anya, berusaha mengalihkan statement Anya. Lagi-lagi Anya hanya bisa menghela napas, mulai membuka mulut untuk berbicara.
"Giliran gue mengajukan opini," ucap Anya hendak memulai pembicaraan. Siap mematahkan semua opini Samuel. Menarik napas sejenak, membuangnya sembari maju satu langkah.
"Satu alasan kuat, kenapa Gisell lakuin itu. Karena dia iri dan cemburu. Dia--"
"Bukannya lo yang cemburuan?" sela Samuel, memotong pembicaraan Anya. Kalimat itu membuat Anya diam, nyelekit rasanya.
Anya terdiam, terkejut Samuel memotong ucapannya seperti itu. Kalimat Samuel kembali menyudutkan nya, bahkan Samuel tidak memberikan waktu untuk Anya mengutarakan opininya.
"Oke maaf. Lanjut," ucap Samuel tahu diam nya Anya karena tidak suka dengan ucapannya. Kembali mempersilakan Anya untuk berbicara, tapi Anya tetap diam.
Anya mundur selangkah, menatap Samuel tanpa minat. Emosinya kembali meluap, terlihat Samuel seperti membela Gisell. Anya menggeleng pelan, pasrah.
"Jangan temuin gue lagi, jangan bicara sama gue lagi. Selagi lo masih belum percaya," ucap Anya pada akhirnya. Menyerah untuk melanjutkan debatnya dengan Samuel.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDEGA
Teen Fiction"Pandega! Gue suka nama itu!" pekik Anya dengan senang. Samuel tersenyum miring, mendekat ke Anya. "Nama doang?" goda Samuel. "Mau lebih lo?" Samuel kembali tersenyum miring, semakin mendekatkan wajahnya. "Boleh?" ••• Samuel Pandega. Si dingin de...
