Bumi: Sebelum & Setelah Dialektiva

6K 1.1K 439
                                        

Ketukan pintu disusul suara Mizi yang memanggil namanya membuat Sativa beranjak dari posisi duduknya. Sativa memperhatikan lukisannya sekali lagi, lalu tersenyum tipis. Selama ia tinggal di Malang, Sativa mulai menekuni beberapa hobinya: melukis, memetik gitar, menciptakan lagu, dan sesekali menaiki puncak gunung atau memanjat tebing.

Sativa berjalan menuju pintu, lalu membukanya. Di hadapannya, berdiri Mizi yang tersenyum lebar.

"Kenapa senyum-senyum? Lagi seneng banget?"

"Siapa yang nggak seneng bakal jadi seorang Ayah?"

Sativa tersenyum lagi, lalu tertawa kecil. 

"Ikut happy juga nggak, Tiv?" tanya Mizi.

Sativa mengangguk. "Jelas lah."

Setelah itu, dari pintu mobil, Netta turun sambil melambaikan tangan. Perempuan itu itu berjalan menghampiri Sativa, lalu segera memeluknya. "Gue bunting, Tiv!" Netta berteriak. "Gila nggak tuh? Gue bakal jadi ibu-ibu!"

Sativa tertawa lagi, lalu mengelus pelan pundak Netta. Setelah itu, ia menyilakan Mizi dan Netta masuk ke rumahnya dan duduk di ruang tamu. Sativa duduk dan memperhatikan Mizi dan Netta bergantian. Senyumnya mengembang. Ia ikut merasa bahagia bahwa kedua temannya akan segera menjadi orang tua.

"Gimana rasanya akan jadi orang tua?" tanya Sativa.

"Rasanya ... ah mantap!" kata Netta sambil tertawa. "Nggak kebayang, Tiv. Kayak ... kok gue bisa hamil gitu lho!"

"Lah kok heran?" tanya Mizi yang duduk di sebelah Netta. "Kamu ngeremehin aku, Ta?"

Netta tertawa sambil menjulurkan lidah ke arah Mizi. "Maksudnya nggak kebayang aja bakal hamil anak Mizi!" ujar Netta, "kayak ... gue nggak nyangka aja kalau beneran jadi istrinya ini orang!"

Sativa tertawa lagi. Berbeda dengan Netta, sejujurnya, Sativa sudah menyangka bahwa Mizi dan Netta mempunyai peluang untuk bersama. Sejak kuliah, Sativa memperhatikan Mizi dan Netta saksama. Meskipun sering saling melempar candaan, kedua orang itu saling melengkapi. Sejak berkomunikasi dengan Mizi, Sativa juga sudah mengetahui bahwa Mizi sering berkomunikasi dengan Netta. Di dalam obrolannya bersama Sativa, Mizi juga sering membicarakan Netta.

"Kemarin gue ke nikahan Disa sama Netta, Tiv. Parah sih. Itu orang malu-maluin." Mizi bercerita.

"Tapi lo seneng, kan, karena ke sana nggak sendirian?" tanya Sativa saat itu.

"Ya ... iya, sih."

Mizi juga pernah membawa obrolan lain tentang Netta. "Lo tau nggak, Tiv? Si Netta abis di-ghosting. Dia curhat sama gue sampe empat jam. Gue dipaksa ngedengerin."

"Ya kalau lo merasa terganggu kan tinggal bilang nggak bisa?"

"Kasian sih, Tiv."

"Yakin tuh karena kasian?"

Dan masih banyak lagi pembicaraan mengenai Netta yang sesekali memenuhi obrolan Mizi dan Sativa. Hingga satu tahun yang lalu, setelah satu tahun Mizi mengutarakan perasaan sukanya kepada Sativa, Mizi kembali membicarakan Netta.

"Tiv, tadi gue ketemu Netta. Awalnya kita mau buat konten bareng, tapi ... dia nggak fokus gitu deh. Matanya sembab kayak habis nangis semaleman. Pas gue tanya, taunya dia baru putus karena cowoknya selingkuh." Mizi bercerita. "Terus ... dia nangis-nangis di depan gue, Tiv. Dia sempet ngamuk juga sambil nyumpahin mantannya. Sampe dia nanya tukang santet yang manjur di mana, Tiv. Parah banget emang itu orang. Terus ... awalnya kan gue cuma ngedengerin aja. Tapi ... nggak tahu kenapa, gue refleks aja gitu nenangin Netta. Pas gue lagi nepuk-nepuk pundak Netta, gue ikutan ngerasa sedih dan kesel. Gue kayak--"

DialektivaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang