Adiran terdiam cukup lama saat ia melihat unggahan instastory Mizi. Di dalam instastory itu, Mizi menampilkan thumbnail video Youtube terbarunya. Ada potret Sativa yang duduk sambil mengenakan kemeja flanel berwarna biru tua. Mizi menambahkan tulisan Dua jam ngomongin hiruk pikuk kehidupan sama partner diskusi gue dari zaman kuliah. Ini orang kalau ngomong bisa bikin cara pandang lo berubah. Setidaknya itu yang gue rasakan sih. Yang kepo langsung cek di Youtube gue ya!
Tidak menunggu lama, Adiran langsung mengklik tautan yang Mizi tulis di instastory-nya. Di layar laptopnya, Adiran menatap Sativa dan Mizi. Baru saja Mizi membuka videonya, pintu ruang kerja Adiran diketuk. Adiran membuang napas, lalu menekan pause pada video.
"Iya. Masuk," tutur Adiran.
Aneska, sekretaris start-up yang didirikan Adiran, membuka pintu dan berdiri sambil membawa laptop. "Semua manajer udah ready, Kak. Jadi meeting sekarang?"
Adiran membuang napas. Baru sadar bahwa ada jadwal meeting hari ini. Matanya melirik layar laptop sekali lagi, lalu kembali melirik Aneska. "Sorry, Nes. Di-reschedule aja meeting-nya. Saya ada kepentingan mendadak."
"Hah? Gimana, Kak?" Aneska terlihat bingung.
Adiran berdecak. "Ya di-reschedule, Nes. Meeting-nya sore aja. Ada yang harus saya siapin dulu."
Aneska mengerjap beberapa kali. "Kalau ada yang nggak bisa gimana?"
"Kok langsung pesimis? Ya ditanya dulu, Nes."
"Oh ... oke. Sore ya, Kak?"
"Iya."
"Oke. Kalau gitu Anes kabarin ke yang lain," jawab Aneska singkat, "oh iya, Kak--"
"Apalagi?"
"Itu ... Hari ini Kak Setya mau ngajak meeting sama operational. Mau ngomongin problem yang di platform--"
"Ya udah agendain aja sesuai jadwal kosong saya."
"Jadwal kosong Kak Adiran hari ini cuma jam sebelas. Tadinya, Anes mau ngejadwalin setelah meeting sama manajer, tapi--"
"Nggak bisa, Nes. Pokoknya, dua jam ke depan, saya nggak bisa diganggu. Cari waktu lain aja."
"Oh ... oke."
Setelah itu, Adiran kembali menatap laptopnya--hendak melanjutkan kembali tayangan podcast yang diunggah Mizi. Akan tetapi, Aneska masih berada di ruangannya.
"Kamu kenapa masih di sini?"
Aneska membuang napas. "Anes juga ada yang mau diobrolin, Kak."
"Soal apa? Managing file? Meeting notes? Atau apa?" tanya Adiran. Belum sempat menjawab, Adiran kembali melanjutkan ucapannya. "Nanti ya, Nes. Kan saya udah bilang nggak bisa kalau sekarang. Ngobrolnya sore ini atau besok aja."
Mendengar jawaban itu, Aneska hanya mengangguk kecil, lantas segera kelar dari ruangan Adiran. Setelahnya, Adiran kembali memutar video. Tatapannya fokus pada sosok Sativa. Pikiran Adiran terpecah. Pada suara dan eskpresi Sativa juga kilatan memorinya enam tahun lalu.
Setelah Tragedi Pallawa hari itu, Sativa dilarikan ke rumah sakit karena luka di pelipisnya. Adiran sendiri yang mengantarkan Sativa ke rumah sakit. Bahkan, Adiran bermalam di sana untuk menemani Sativa dan beberapa rekannya yang juga terluka. Adiran masih mengingat obrolan mereka saat mata Sativa terbuka.
"Kenapa lo nggak dengerin gue sih, Tiv? Kan gue udah bilang kalau jangan sampe terlibat. Kenapa lo ikut-ikutan nekat? Lo mau mati konyol?"
"Kak Bumi gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dialektiva
Ficção GeralIni cerita tentang Tiva dan kejenuhannya terhadap tipe-tipe mahasiswa yang ada di kampusnya--terutama di kelasnya. Tipe mahasiswa yang caper sama dosen, yang menggadaikan ungkapan agen of change sebagai alasan bolos kuliah, yang menyumpal telinganya...
