tulisan ini aku tujukan kepada semua orang yang baca karyaku di wattpad, khususnya pembaca "dialektiva".
halo, semua! aku mau bilang dari awal kalau tulisan ini mungkin akan sedikit panjang, hehe. tapi sepertinya harus aku sampaikan karena ini sangat penting. aku menulis ini setelah ada feedback yang masuk mengenai novel yang aku mention dalam "dialektiva".
sebetulnya yang mau aku sampaikan cukup sederhana: aku harap kita semua bijak dalam menulis dan membaca. sebagai penulis, aku berusaha membuat tulisanku, sama seperti fungsi sastra dulce et utile, aku harap tulisanku bisa menghibur dan mendidik. aku ingin membagi pengalaman, pemikiran, juga perasaan--baik yang terjadi kepada diriku sendiri atau yang terjadi pada orang lain.
dan untuk membuat tulisanku "berisi", tentu, biasanya, ada buku (fiksi atau nonfiksi) atau rujukan lain yang aku sebutkan dalam cerita atau dalam author's note. aku pernah menyebut buku "ikigai" pada awalan bersanaja. pada dialektiva, novel "laut bercerita" aku rekomendasikan kepada siapa saja yang ingin tahu gambaran penculikan aktivis di indonesia pada masa orde baru. aku juga pernah menyebut novel "bumi manusia" dan secara tidak langsung menyebut novel "cantik itu luka".
aku cuma mau memberi tahu bahwa buku nonfiksi atau novel sastra yang aku sebutkan tidak semuanya berisi kebaikan (setidaknya ini menurut pendapatku sebagai seorang muslim). selama aku belajar sastra di kuliah, aku paham betul bahwa sastra lahir dari kaum marjinal. dan mayoritas kaum marjinal biasanya mereka yang memperjuangkan hak-hak minoritas dan punya pemahaman/ide sosialis-komunis. oleh karena itu, meskipun belum dapat dipastikan kebenarannya, eyang pramoedya dipenjara karena tetralogi "buru" dan dipandang berpaham komunis meskipun novelnya sudah mendunia dan dijadikan film. dalam novel sastra, hal-hal yang bertentangan dengan islam sudah pasti banyak ditemukan. dan sejujurnya, walaupun aku mempelajari sastra, aku sangat jarang membaca novel sastra (kalau bukan karena kebutuhan untuk tugas) karena kehati-hatian dalam memilih bahan bacaan.
"laut bercerita", misalnya. meskipun itu salah satu novel terbaik yang cukup menggambarkan penculikan aktivis dan isu sosial yang aku sedang dalami, bukan berarti aku sependapat 100% dengan cara pikir penulis dan seluruh adegan dalam novelnya "baik". pun dengan "cantik itu luka" yang sempat kusebut dalam "dialektiva". aku hanya membaca beberapa lembar awal novel tersebut dan tidak aku lanjut karena berisi ide yang tidak sesuai dengan islam dan vulgar. novel sastra lainnya, seperti "saman" yang juga vulgar tidak aku baca meskipun direkomendasikan dosenku saat berkuliah. aku hanya membaca sinopsis dan diskusi tentang bukunya di goodreads.
aku selalu melakukan ini sebelum aku membaca buku atau novel (khususnya novel sastra): aku akan baca buku, berdiskusi, dan mencari rujukan lain dari perspektif islam dulu sebelum aku menyelami novelnya. contohnya, sebelum membaca novel "maryam", aku baca dulu apa itu ahmadiyah dan bagaimana perspektif sahih islam tentangnya. saat aku sudah cukup "kuat" dan "punya bekal", baru aku membaca novel "maryam" dengan tidak hanya membaca mentah-mentah isinya dan mengangguk setuju dengan pesan yang dibawa penulis. juga sebelum membaca "perempuan di titik nol", aku akan membaca dulu buku "mengkritik feminisme" dan perspektif islam tentang isu feminisme. saat aku membaca novel dengan isu feminisme, aku jadikan itu sebagai media untuk mengetahui bagaimana pola pikir orang feminis dan mencari celahnya. novel "tiba sebelum berangkat" juga sama. aku baru membaca novel itu di beberapa halaman awal, lalu berhenti saat novel sejarah yang mengisahkan tentang pergerakan islam, isu gender, dan vulgar itu cukup membuatku "ternganga". akhirnya, aku belajar dulu dari perspektif islamnya. juga saat akan membaca buku-buku tentang tokoh dan ideologi komunis: madilog, tan malaka, dsb., aku akan membaca terlebih dahulu ide tentang islam tentang ideologi tersebut.
lalu, kenapa buku dan novel-novel yang isinya tidak semuanya baik itu tetap aku baca? alasan adalah karena aku ingin tahu pola pikir dan perspektif tentang satu hal, yang kemudian bisa aku cari celahnya setelah aku komparasikan dengan islam. juga agar aku punya source lain selain buku nonfiksi tentang sejarah, persitiwa, atau isu yang pernah terjadi. misalnya, dengan membaca "bumi manusia", aku punya gambaran sejarah indonesia di masa-masa puluhan tahun silam. buku-buku itu hanya aku jadikan salah satu source untuk memperluas informasi, bukan menjadi satu-satunya rujukan dalil kebenaran.
poinku adalah, sesuka apapun kalian dengan seorang penulis, gaya berceritanya, atau topik yang dibawanya, jangan pernah membaca dengan kepala kosong. isi dulu dengan informasi, ilmu, dan pandangan sahih yang seharusnya. karena aku muslim, pandangan itu adalah islam.
termasuk dalam tulisanku, baik buku atau rujukan yang aku rekomendasikan/sebutkan, maupun ceritaku secara umum, tolong jangan dibaca mentah-mentah. silakan pastikan gelas kalian sudah terisi sebelum menuang wawasan di dunia orange ini.
sekian, semoga kita selalu dikelilingi bacaan-bacaan baik, yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. ✨
KAMU SEDANG MEMBACA
Dialektiva
Narrativa generaleIni cerita tentang Tiva dan kejenuhannya terhadap tipe-tipe mahasiswa yang ada di kampusnya--terutama di kelasnya. Tipe mahasiswa yang caper sama dosen, yang menggadaikan ungkapan agen of change sebagai alasan bolos kuliah, yang menyumpal telinganya...
