📜 Akar Cantigi

7K 1.3K 50
                                        

Sativa duduk di ruangan Ketua Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia. Bu Agni dan beberapa dosen lainnya masih sibuk berbicara dan beberapa kali menyebut nama Bumi. Selepas menyelesaikan "orasi" dan nyanyian "Darah Juang" di auditorium setengah jam yang lalu, Sativa dan Bumi diminta menghadap ke ruangan Bu Agni. Sativa mengangguk dan langsung pergi. Sementara itu, Bumi baru masuk sepuluh menit kemudian. Ia hanya memberikan jas almamater milik Sativa, kemudian pergi lagi.

"Tadi Bumi bilang dia mau ke mana?" tanya Bu Agni. Sativa hanya menggeleng kecil. "Kamu bisa menghubungi Bumi?"

Sativa menggeleng lagi. Ponsel Bumi tidak aktif. Sativa membuang napas. Ia hanya melirik jas almamaternya. Syal Bumi masih ada di sana. Atau lebih tepatnya, syal milik Jingga, ibu dari seorang Bumi Barameru. Di saku kanan jas almamaternya, Sativa melihat secarik kertas putih menyembul keluar. Sativa mengambil kertas itu dan ia temukan rentetan tulisan tangan Bumi di sana.

[ d i a l e k t i v a ]

AKAR CANTIGI

Di luasnya semesta ini, satu akar Cantigi
merangsek masuk ke dasar bumi
Akarnya mencengkram kuat --
bercengkerama dalam aliran likat
di badan bumi yang penuh pekat

Beberapa waktu lalu bumi hampir runtuh
napas perjuangan pada pangkal lehernya
sudah tersengal-sengal
tapi kemudian -- sulur Cantigi melambai
meminta bumi tinggal

Ujung akarnya meneteskan bulir
-- sekaligus menetaskan takdir:

"Bulirmu jatuh tepat kepada aku
yang hampir rubuh. Kini aku menggantungkan napas hanya pada satu tetes yang keluar dari ujung akarmu saja."

Cantigi mengeratkan akarnya -- membelit
tanpa meninggalkan rasa sakit

"Luas hamparanmu adalah tempat
aku tumbuh. Jika tidak menggantungkan hidup pada tanahmu, di mana aku dapat
mekar dan berbunga?"

Di sini
-- di Bumi
tempat kau bisa berbunga
tanpa meranggaskan apa-apa

"Lalu tempatmu?"

Di situ
-- di inti dirimu
tempat aku bisa merdeka
tanpa kehilangan apa-apa

Juni,
dari Bumi yang menemukan pasaknya.

catacand:

bab-bab selanjutnya akan ada selingan-selingan seperti ini. isinya bisa puisi, surat, atau lagu (tentu saja cuma liriknya karena aku bukan composer lagu). adanya part-part ini bukan buat bikin ceritanya jadi kerasa sastranya, tapi buat mengeksplor perasaan masing-masing tokoh yang nggak dijelaskan dalam narasi.

DialektivaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang